Dinilai Masih Jadi Daerah Tertinggal, Dua Program Disiapkan UTM untuk Menghindari Ketertinggalan Madura 

JATIMTIMES – Pulau Madura merupakan salah satu pulau yang berada di wilayah Provinsi Jawa Timur (Jatim), pulau ini memiliki empat kabupaten di antaranya Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pulau dengan sejarahnya yang panjang itu, tercermin dari budaya dan keseniannya dengan pengaruh Islamnya yang kuat. 

Saat ini, sejak adanya jembatan Suramadu, Pulau Madura bisa dikatakan sudah memiliki banyak peluang untuk menjadi pulau yang berkemajuan. Sebab, saat ini sudah serba mudah utamanya dalam segi akses transportasinya. 

Meski demikian, hingga saat ini nyatanya pulau Madura masih menjadi daerah tertinggal di Jawa Timur. Sehingga hal itu menjadi atensi tersendiri bagi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Khususnya dalam bidang kemajuan ekonominya. 

Seperti yang dijelaskan oleh Sutikno, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (EB) UTM, dia mengatakan bahwa ke depan fakultasnya akan menggarap dua program yang fokus memberikan kemaslahatan terhadap masyarakat Madura. 

“Jadi program yang akan kami garap ke depan, bagaimana Madura ini nantinya tidak terus menerus menjadi daerah tertinggal di Jawa Timur,” tuturnya, usai membuka Seminar ‘Membangun Desa Mandiri Menuju SDG’s’, di ruang kelas Fakultas EB UTM, Senin (6/12/2021). 

Menurut Sutikno, dari dua program itu, pertama dia akan menggagas kawasan ekonomi khusus syariah, yang nantinya dengan program ini ke depan bisa mampu mengakselerasi pertumbuhan Madura ke depan. “Jadi nanti Madura tidak akan lagi menjadi daerah tertinggal,” ucapnya. 

Sedangkan program yang keduanya, dia mengaku ingin terlibat dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi di tingkat desa. “Kampus kita ini kan ada di desa sehingga kita harus hadir di desa, karena desa di sekitar kampus ini masih banyak memiliki permasalahan, utamanya dalam bidang kemiskinan dan ketertinggalan,” jelasnya. 

Hal itu yang nantinya akan ia kembangkan ke depan, agar sumbangan, inovasi, kreativitas, sumbangan ide, dan lain sebagainya dari civitas akademik, bisa mengatasi persoalan yang ada di desa. 

Maka dari itu, dia mengundang 100 kepala desa mitra, untuk MoU, dalam rangka implementasi kurikulum merdeka belajar kampus merdeka (MBKM). “Jadi nanti mahasiswa memiliki jatah 20 sampai 40 SKS, untuk berkegiatan di luar kampus, sehingga nanti kami arahkan mahasiswa ke setiap desa mitra tadi,” kata dia. 

Selain itu, dia juga menjelaskan, terkait pendampingan yang akan ia lakukan ke desa, sebelum ia terjun ke desa, pihaknya akan melakukan diskusi terlebih dahulu, kemudian akan ia catat apa yang menjadi kebutuhan desa. 

“Setelah itu kami akan siapkan program sesuai dengan kebutuhan desa, misal desa memiliki produk, ternyata produknya belum bisa dikembangkan, lalu apa masalahnya, apa butuh modal, atau butuh promosi dan lain sebagainya, maka kita nanti akan menyelesaikan itu,” pungkasnya. 

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Telaga Biru, Kecamatan Tanjung Bumi, Bangkalan Ahmad Suhdi mengatakan, bahwa dirinya merasa bangga karena bisa masuk di bagian program ini. 

Sebab, selama ini ia mengaku bahwa dengan adanya kerjasama ini desanya bisa menjadi desa berkembang, contoh kecilnya saat ini desanya sudah memiliki tempat wisata, yakni Pantai Biru. 

“Jadi hadirnya UTM ini bagi kami sangat membantu, baik sari segi pendampingan dalam bidang wisata hingga administrasi di desa kami,” singkat Kades Telaga Biru.



Imam Faikli

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Harga Minyak Goreng Jadi 11.500 per Liter, Gubernur Khofifah Berharap Harga Ini sampai Konsumen Paling Akhir

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat di samping wali Kota Kediri. (foto:…

Tingkatkan Kolaborasi untuk Keberlanjutan, Ignasius Jonan: Peran Pemimpin Tangguh sebagai Agen Perubahan

JATIMTIMES – Dalam sebuah organisasi, kepemimpinan tidak dilihat dari popularitas seseorang, peringkat,…