Adat dan Budaya Tedak Siti Masih Lestari di Kampung Dukuh

JATIMTIMES – Bagi setiap orang tua, anak merupakan anugerah Tuhan yang menjadi salasatu sumber kebahagiaan. Dalam setiap tahapan perkembangan bayi, dalam masyarakat modern saat ini masih ada masyarakat yang tetap menjaga, memelihara dan melestarikan tradisi dan budaya warisan leluhur.

Salah satunya adalah pasangan Budi Santoso – Yuliyatin warga Kampung Dukuh Desa/Kecamatan Glagah, Banyuwangi yang menggelar ritual adat Osing Balita Mudun Lemah/Tedak Siti/Turun Tanah bagi putranya Muhamad Tegar pada Minggu (12/12/2021) kemarin.

Menurut Sanusi Marhaedi alias Kang Usik, Tokoh Adat Osing warga Kampung Dukuh Desa/Kecamatan Glagah, upacara adat yang digelar sebagai bentuk rasa syukur karena sang anak akan mulai belajar berjalan. Selain itu, upacara ini juga merupakan salah satu upaya memperkenalkan anak kepada alam sekitar dan juga ibu pertiwi.

Dia menuturkan, tradisi tedak siti yang dilakukan selain sebagai bentuk mensyukuri kebahagiaan tersebut, juga dianggap dapat memprediksi masa depan bayi. Bagi para leluhur, adat Osing yang  dilaksanakan sebagai penghormatan kepada bumi tempat anak mulai belajar menginjakkan kakinya ke tanah.

Berbeda dengan budaya Jawa, rangkaian prosesi tedak siti adat Osing diakhiri dengan tokoh adat memanjatkan doa, kemudian anak dinaikan kuda-kudaan. Karena yang menjadi kudanya anak kecil dan jalannya harus merangkak sampai dengan satu putaran. Dan diiringi doa-doa dari orang tua dan sesepuh sebagai pengharapan agar kelak anak sukses menjalani kehidupannya

“Filosofinya dalam menjalani kehidupan prosesnya anak harus dituntun terlebih dahulu, kemudian turun ke tanah untuk merangkak, belajar berdiri, berjalan kemudian berlari dengan bimbingan dan belajar kepada teman, saudara yang ada di lingkungan sekitarnya,” jelas Kang Usik.

Setelah turun dari kuda-kudaan, pemimpin ritual memberikan beberapa barang yang ditaruh dalam satu tempat untuk dipilih. antara lain uang, alat tulis, kapas, buku, sisir, cermin, pensil, mainan mobil-mobilan, dan lainnya. Kemudian ia dibiarkan mengambil salah satu dari barang tersebut. Barang yang dipilihnya merupakan gambaran hobi dan masa depannya kelak.

Selanjutnya pemimpin ritual memecahkan dua buah telur yang dicampur dengan kunyit dan perlengkapan ritual lain dan mengoleskan pada kaki kanan dan kiri anak. Kemudian menyiramkan air bunga setaman lalu dipakaikan baju baru. Hal ini menyimbolkan pengharapan agar bayi selalu sehat, membawa nama harum bagi keluarga, hidup layak, makmur dan berguna bagi lingkungannya.

Dalam budaya Osing prosesi ada satu perlengakapan yang harus ada yaitu “Bubur Lintang” atau bubur yang terbuat dari menir yang dicampur dengan santan dan gula merah dengan sendok dari daun nangka.

“Dalam masyarakat Osing Bubur Lintang mengandung filosofi agar anak bisa cepat berjalan dan selalu rukun dengan sesamanya,” pungkas Kang Usik.



Nurhadi Joyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Tempat Baru Pusaka Kyai Upas Dinilai Tak Pantas, Keluarga Besar Majan Minta Dikembalikan

JATIMTIMES – Keberadaan tombak legendaris di Kabupaten Tulungagung, yakni Kyai Upas kini…