Beranda

500 Motor Antik Ramaikan Rally Internasional Malang-Solo

500 Motor Antik Ramaikan Rally Internasional Malang-Solo
Sebanyak 500 motor klasik dari Indonesia hingga Australia mengikuti Jawara International Classic Bike Rally 2026 dari Malang menuju Solo (io)

Sebanyak 500 motor klasik dari Indonesia hingga Australia mengikuti Jawara International Classic Bike Rally 2026 dari Malang menuju Solo.

INDONESIAONLINE – Raungan mesin motor lawas menggema di kawasan Malang menjelang dimulainya Jawara International Classic Bike Rally 2026. Ratusan pecinta motor antik dari berbagai daerah hingga mancanegara berkumpul membawa kendaraan berusia puluhan tahun yang masih mampu melibas ratusan kilometer perjalanan lintas selatan Jawa.

Sebanyak 500 motor klasik dijadwalkan memulai perjalanan dari Kota Malang menuju Surakarta atau Solo pada Jumat (15/5/2026). Para peserta akan menempuh rute sepanjang 458 kilometer melewati Jalur Lintas Selatan selama dua hari satu malam sebelum finis di Benteng Vastenburg.

Sebelum diberangkatkan, seluruh peserta menjalani proses scrutineering di Graha Wisma Tumapel, Kamis (14/5/2026). Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi motor dan kesehatan pengendara tetap prima selama touring jarak jauh.

Ketua pelaksana acara, Fanny Nurisma, mengatakan kegiatan tersebut digagas oleh Motor Antique Club Indonesia atau MACI sebagai ajang berkumpulnya pecinta motor klasik lintas generasi dan lintas negara.

“Jawara merupakan singkatan dari Jelajah Warisan Nusantara,” ujar Fanny.

Nama tersebut tidak hanya menggambarkan perjalanan touring, tetapi juga semangat menjaga warisan otomotif dan budaya perjalanan klasik di Indonesia. Di tengah dominasi motor modern dan kendaraan listrik, keberadaan motor-motor antik kini semakin dipandang sebagai bagian dari sejarah teknologi dan gaya hidup.

Rally ini menghadirkan berbagai motor legendaris dari Eropa, Amerika, hingga Jepang. Sejumlah merek ikonik seperti Norton, AJS, BMW, Harley-Davidson, Yamaha hingga Meguro ikut ambil bagian.

Motor termuda yang ikut touring disebut diproduksi pada 1976, sedangkan kendaraan tertua berasal dari tahun 1927. Artinya, beberapa motor yang akan melintasi jalanan selatan Jawa itu telah berusia hampir satu abad.

Fenomena touring motor klasik sendiri berkembang menjadi bagian dari budaya otomotif global. Bagi para kolektor dan penggemar, motor antik bukan sekadar kendaraan, tetapi simbol sejarah, seni desain mekanik, dan identitas komunitas.

Berbeda dengan motor modern yang mengandalkan teknologi digital dan efisiensi tinggi, motor klasik menawarkan pengalaman berkendara yang lebih “mentah”. Suara mesin, getaran rangka, aroma oli, hingga karakter transmisi manual menjadi sensasi yang justru dicari para penggemarnya.

Atmosfer internasional dalam rally ini juga terasa kuat. Selain peserta dari berbagai wilayah Indonesia seperti Medan dan Kalimantan, sejumlah rider dari Malaysia dan Australia turut hadir membawa motor antik mereka sendiri ke Kota Malang.

Kehadiran peserta asing menunjukkan bahwa komunitas motor klasik Indonesia mulai dilirik di tingkat internasional. Indonesia dinilai memiliki kultur touring yang unik karena memadukan jalur alam, kota heritage, hingga keberagaman budaya dalam satu perjalanan.

Menurut Fanny, Jawara International Classic Bike Rally direncanakan menjadi agenda rutin empat tahunan. Kota Malang dipilih sebagai titik awal karena memiliki kekayaan bangunan cagar budaya dan panorama kota yang dianggap cocok dengan nuansa motor klasik.

Di sekitar kawasan Balai Kota Malang memang masih berdiri banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda yang menjadi ciri khas arsitektur kota tersebut. Kombinasi antara motor antik dan latar heritage menciptakan atmosfer nostalgia yang kuat bagi peserta maupun masyarakat yang menyaksikan.

“Malang ini begitu indah,” kata Fanny.

Rute yang dipilih melalui Jalur Lintas Selatan juga memiliki makna tersendiri. Selain menawarkan panorama pantai selatan Jawa yang dramatis, jalur tersebut dianggap lebih menantang bagi motor-motor tua yang harus menghadapi tanjakan, tikungan panjang, dan perubahan cuaca ekstrem.

Bagi peserta, perjalanan panjang menggunakan motor lawas justru menjadi inti kenikmatan touring.

Salah satu peserta asal Kendal, Dian Kurniawan, mengaku datang langsung ke Malang menggunakan motor Norton 500 cc produksi tahun 1956.

“Touring naik motor antik itu nikmat,” ujarnya.

Dian mengatakan suara mesin motor klasik memiliki karakter khas yang tidak ditemukan pada kendaraan modern. Ia bahkan mengaku pernah melakukan touring hingga Flores dan Sabang menggunakan motor yang sama.

Fenomena ini menunjukkan bahwa motor klasik kini bukan lagi sekadar barang koleksi yang dipajang di garasi. Banyak penggemar justru memilih mengendarainya langsung untuk membuktikan ketangguhan mesin lawas yang tetap mampu menempuh perjalanan ekstrem.

Di sisi lain, berkembangnya komunitas motor klasik juga berdampak pada sektor ekonomi kreatif. Bengkel restorasi, penjualan suku cadang langka, industri apparel vintage, hingga wisata touring ikut tumbuh bersama tren tersebut.

Nilai jual motor antik tertentu bahkan terus meningkat. Beberapa model klasik produksi Inggris dan Amerika kini dihargai ratusan juta hingga miliaran rupiah tergantung kondisi dan keaslian komponennya.

Namun bagi sebagian besar peserta rally, nilai utama motor lawas bukan terletak pada harga. Yang dicari adalah pengalaman berkendara dan ikatan emosional dengan mesin berusia puluhan tahun yang masih mampu hidup di jalan raya.

Ketika dunia otomotif bergerak menuju kendaraan listrik dan teknologi serba digital, parade motor antik di Malang menjadi pengingat bahwa romantisme mesin klasik masih memiliki tempat tersendiri di hati para pecintanya.

Exit mobile version