Beranda

Amerika Serikat Akui 21 Tentaranya Tewas dalam Perang Melawan Iran

Ilustrasi konflik Amerika Serikat versus Iran. (open ai)

INDONESIAONLINE – Jumlah personel militer Amerika Serikat (AS) yang tewas  selama perang melawan Iran tercatat mencapai 21 orang. Angka tersebut merupakan hasil pembaruan data yang diumumkan Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon setelah sebelumnya mencatat 19 tentara tewas.

Sistem Analisis Korban Pertahanan AS menambahkan dua kematian ke dalam catatan sebelumnya. Namun, Pentagon tidak memberikan penjelasan terperinci mengenai alasan perubahan jumlah korban tersebut.

Dalam pembaruan data itu, Pentagon turut memasukkan kategori pending adjudication atau menunggu keputusan. Kategori tersebut digunakan untuk mencatat kasus yang masih dalam proses peninjauan.

Dikutip Anadolu Agency pada Sabtu (10/10/2026), Pentagon menegaskan komitmennya untuk menjaga transparansi dalam pendataan korban militer. “[Kami] terus mempertahankan komitmen yang teguh terhadap pencatatan yang transparan dan akurat atas semua korban jiwa anggota Angkatan Bersenjata,” demikian pernyataan Pentagon.

Sementara itu, laporan media Amerika Serikat, The Washington Post, mengungkapkan bahwa dua kematian yang baru ditambahkan mencakup anggota Garda Nasional Angkatan Darat berpangkat mayor, Sorffly Davius, serta seorang personel lain yang identitasnya tidak dipublikasikan.

Davius dilaporkan tewas dalam serangan di Kuwait pada 6 Maret. Adapun personel kedua dilaporkan tewas akibat bunuh diri.

Laporan terbaru juga menunjukkan bahwa sebanyak 865 tentara selama operasi tersebut. Namun, informasi yang tersedia dalam laporan itu tidak merinci lebih lanjut status maupun kategori personel yang dimaksud.

Di luar korban yang berkaitan dengan operasi tersebut, militer AS juga mengonfirmasi kematian seorang tentara dalam kecelakaan latihan yang disebut tidak berhubungan dengan konflik Iran. Personel bernama Devin A. Seibel itu meninggal dunia di Irak pada Mei.

Pembaruan data korban oleh Pentagon mendapat tanggapan dari anggota Partai Demokrat di Amerika Serikat. Mereka menyoroti ketidaksesuaian jumlah korban yang sebelumnya tercatat dengan angka terbaru.

Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Adam Smith, mempertanyakan terjadinya kesalahan dalam pencatatan tersebut. “Tidak ada alasan untuk kesalahan sebesar ini,” kata Adam Smith.

Konflik antara Amerika Serikat bersama sekutu dekatnya, Israel, melawan Iran bermula ketika kedua negara tersebut melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Pertempuran kemudian berlanjut hingga Oktober 2026, dengan jumlah korban militer AS menjadi salah satu aspek yang terus diperbarui dalam laporan resmi. (rds/hel)

Exit mobile version