Beranda

Anak Krakatau dan Ingatan 1883: Saat Gunung Api Kembali Bersua

Krakatoa, East of Java (1969) a disaster film starring Maximilian Schell and Brian Keith. Film depicting the 1883 eruption of Krakatoa, in the Dutch east Indies (Indonesia). (Photo by: Universal History Archive/UIG via Getty images)

Aktivitas Anak Krakatau mengingatkan kembali tragedi 1883. Sejarah mencatat tsunami dan erupsi dahsyat yang menewaskan lebih dari 36 ribu jiwa.

INDONESIAONLINE – Selat Sunda menyimpan ingatan yang tidak pernah benar-benar hilang. Di antara Pulau Jawa dan Sumatra, sebuah gunung api yang lahir dari kehancuran masa lalu terus tumbuh dan sesekali menunjukkan aktivitasnya. Namanya Anak Krakatau.

Gunung api ini bukan sekadar penerus nama besar Krakatau. Ia merupakan produk langsung dari kehancuran besar pada 1883. Ketika tubuh Krakatau runtuh dalam erupsi kolosal, sebagian besar bangunan gunung tersebut lenyap dan menyisakan kaldera. Beberapa dekade kemudian, gunung baru mulai tumbuh dari kawasan tersebut.

Data Global Volcanism Program Smithsonian Institution–USGS mencatat Anak Krakatau mulai terbentuk setelah keruntuhan Krakatau 1883 dan telah mengalami erupsi berulang sejak 1927. Pada 2026, aktivitas vulkaniknya masih menjadi bagian dari pemantauan PVMBG.

Jejak sejarah itulah yang membuat setiap peningkatan aktivitas Anak Krakatau selalu memiliki dimensi lebih besar daripada sekadar kabar tentang letusan.

Dari Erupsi Kecil Menuju Tragedi Besar

Kisah tersebut pernah terlihat pada 2018. Pada 4 Juni tahun itu, pemerintah menyebut terdapat 19 gunung api berstatus Waspada. Salah satunya Anak Krakatau. Sebelas hari kemudian, gunung api tersebut kembali meletus dengan kolom abu mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak kawah.

Ketika itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyatakan aktivitas tersebut belum membahayakan penerbangan dan pelayaran.

“Tidak ada perubahan status Gunung Anak Krakatau. Status Waspada artinya aktivitas vulkanik di atas normal sehingga terjadinya erupsi dapat terjadi kapan saja. Tidak membahayakan selama masyarakat tidak melakukan aktivitasnya di dalam radius 1 km,” terang Sutopo kala itu.

Namun aktivitas tidak berhenti.

Pada Agustus 2018, Anak Krakatau tercatat mengalami ratusan erupsi dalam sehari. PVMBG bahkan mencatat 576 kali letusan dalam satu hari. Abu vulkanik, batu pijar dan lava keluar dari kawah.

Pada fase itu, aktivitas tersebut masih dinilai sebagai erupsi berenergi relatif kecil. Zona bahaya diperluas menjadi 2 kilometer.

Pandangan bahwa Anak Krakatau masih berada dalam fase pertumbuhan juga memiliki dasar geologis. Gunung tersebut memang jauh lebih muda dibandingkan Krakatau purba. Anak Krakatau muncul dari laut pada 1927 dan kemudian berkembang di dalam kaldera peninggalan erupsi 1883.

Smithsonian GVP menjelaskan bahwa keruntuhan Krakatau 1883 menghancurkan kerucut Danan dan Perbuwatan, sementara bagian Rakata tersisa. Anak Krakatau kemudian tumbuh di dalam kaldera tersebut dan menjadi gunung api yang aktif hingga sekarang.

Persoalannya bukan apakah setiap erupsi Anak Krakatau akan berakhir seperti 1883. Jawabannya tidak.

Yang lebih penting adalah memahami bahwa gunung api dapat berubah dalam waktu panjang, sementara manusia sering menilai ancaman berdasarkan apa yang terlihat dalam hitungan hari atau bulan.

Ketika Sejarah Berubah Menjadi Peringatan

Pada 1883, tanda-tanda aktivitas Krakatau juga muncul secara bertahap. Getaran, perubahan aktivitas kawah dan letusan awal menjadi bagian dari rangkaian panjang sebelum kehancuran terbesar terjadi pada 26–27 Agustus.

Dalam catatan sejarah yang dikutip Simon Winchester, penjaga menara suar Eerste Punt telah merasakan getaran pada Mei 1883. Beberapa hari kemudian, getaran kembali terasa di wilayah Selat Sunda hingga Sumatra. Pada 20 Mei, Gunung Perbuwatan meletus.

Kapal-kapal yang berada di sekitar Selat Sunda kemudian membawa kabar tentang aktivitas Krakatau. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya gunung tersebut.

Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan satu hal penting: bencana besar tidak selalu muncul tanpa tanda. Masalahnya, tanda tersebut sering terlihat sebagai aktivitas biasa sampai intensitasnya berubah.

USGS mencatat erupsi Krakatau berlangsung dalam periode sekitar 23 jam pada 26–27 Agustus 1883. Lebih dari empat mil kubik material vulkanik terlontar dan korban jiwa mencapai lebih dari 36.000 orang.

Sebagian besar korban bukan tewas langsung akibat letusan. Tsunami menjadi pembunuh utama.

Global Volcanism Program menyebut lebih dari 36.000 orang meninggal dan sebagian besar akibat tsunami yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatra. Gelombang serta dampak letusan bahkan menjalar jauh melampaui kawasan sekitar gunung api.

USGS juga menempatkan Krakatau 1883 sebagai salah satu erupsi paling mematikan dalam sejarah modern. Dalam daftar erupsi dengan korban terbesar sejak 1500, Krakatau tercatat sekitar 36.000 korban dengan tsunami sebagai penyebab utama kematian.

Angka tersebut menjelaskan mengapa nama Krakatau memiliki bobot berbeda dalam sejarah kebencanaan Indonesia. Ia bukan hanya nama gunung. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana aktivitas vulkanik, keruntuhan tubuh gunung dan tsunami dapat saling berkaitan.

Karena itu, membandingkan aktivitas Anak Krakatau dengan letusan 1883 secara langsung justru dapat menyesatkan. Setiap erupsi mempunyai karakter, volume material, mekanisme dan kondisi geologi yang berbeda. Yang relevan adalah mengambil pelajaran dari sejarah.

Anak Krakatau berada di kawasan yang secara geologis sangat aktif. Bahkan pada 2026, laporan Global Volcanism Program yang bersumber dari PVMBG masih mencatat aktivitas erupsi di Krakatau. Dalam laporan 23–29 Juli 2026, misalnya, kolom abu putih, abu-abu hingga hitam teramati mencapai 300 meter di atas puncak pada 25 Juli.

Status aktivitas saat itu berada pada Level II atau Waspada, dengan imbauan agar masyarakat tidak mendekati kawah dalam radius 2 kilometer. Fakta tersebut memperlihatkan bahwa Anak Krakatau tidak pernah benar-benar keluar dari radar kebencanaan. Ia tumbuh di dalam bekas luka letusan terbesar masa lalu.

Dan setiap kali asap, abu, lava atau getaran kembali muncul, yang perlu dihidupkan bukan kepanikan, melainkan ingatan. Sebab tragedi 1883 menunjukkan bahwa persoalan terbesar bukan hanya kekuatan gunung api. Ada faktor lain yang sama menentukan: seberapa cepat manusia membaca tanda, memahami risiko, mengikuti peringatan dan menjauh ketika zona bahaya telah ditetapkan.

Kritik Ahmad Arif dalam Hidup Mati di Negeri Cincin Api karena itu tetap relevan: “Anak Krakatau bagi kebanyakan orang hanyalah tontonan, dan batu pijar yang kerap dilontarkannya seolah kembang api tahun baru yang sama sekali tidak berbahaya. Sejarah kehancuran itu sudah terkubur di dalam ingatan masyarakat. […] Ingatan pendek dan kurangnya pengetahuan adalah musuh abadi kesiapsiagaan.”

Lebih dari satu abad setelah Krakatau runtuh, tantangan Indonesia bukan menghindari gunung api—sesuatu yang mustahil bagi negara yang berada di kawasan cincin api. Tantangannya adalah belajar hidup berdampingan dengan ancaman tersebut.

Anak Krakatau akan terus tumbuh dan berubah. Aktivitasnya pun akan naik turun mengikuti dinamika magma di bawah permukaan. Yang tidak boleh ikut naik turun adalah kewaspadaan. Sebab sejarah 1883 telah menunjukkan satu hal: gunung api mungkin memiliki jeda, tetapi ingatan manusia tidak boleh ikut padam.

Exit mobile version