Sejumlah BPD berencana melantai di bursa, begini persiapannya

by -24 views
Sejumlah BPD berencana melantai di bursa, begini persiapannya

ILUSTRASI. Nasabah tengah bertransaksi perbankan di Teller Head Office Bank DKI Jakarta Pusat. Warta Kota / Angga Bhagya Nugraha

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Herlina Kartika Dewi

Indonesiaonline.co.id – JAKARTA. Jumlah bank daerah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) belum bertambah. Meski dalam dua tahun ke depan ada beberapa bank lagi yang ingin menyusul PT Bank Pembangunan Jawa Barat Tbk (BJB), PT Bank Pembangunan Daerah Jatim Tbk, dan PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk bertengger di bursa, belum ada yang terealisasi.

Kondisi pasar saham yang tertekan menjadi alasan beberapa bank menunda rencana IPO-nya. Bank DKI termasuk yang sudah ingin melakukan penawaran umum perdana (IPO) sejak 2019.

Tahun lalu, rencana tersebut juga ditunda karena kondisi pasar yang dinilai kurang tepat di tengah tekanan pandemi Covid-19.

Kepala Divisi Hubungan Investor Bank DKI Arie Rinaldi mengatakan, Bank DKI telah melakukan beberapa persiapan IPO, mulai dari pembentukan tim IPO, benchmarking pelaksanaan IPO di beberapa bank, hingga penunjukan berbagai lembaga pendukung pelaksanaan IPO.

Baca:  Meski ada pemulihan ekonomi, pembentukan CKPN BCA tumbuh 50,3% pada Maret 2021

Baca juga: Akibat Pandemi Covid-19, Rencana IPO Dua BPD Tertunda

“Namun, hingga saat ini kondisi ekonomi masih dibayang-bayangi ketidakpastian dampak situasi pandemi. Pasar saham masih belum pulih sepenuhnya karena secara fundamental mayoritas emiten tertekan tahun lalu. Kami masih menunggu momentum yang tepat. untuk melanjutkan rangkaian IPO dan bisa masuk bursa dengan nilai yang optimal, ”kata Arie Rinaldi, Kepala Divisi Hubungan Investor Bank DKI kepada Kontan.co.id, Selasa (20/4).

Arie belum bisa menyampaikan berapa jumlah saham Bank DKI yang akan dilepas ke publik nanti karena masih harus menunggu izin dari pemegang saham.

Sementara untuk mendukung rencana ekspansi tahun ini, Bank DKI masih mengandalkan pendanaan konvensional dari penggalangan dana masyarakat karena likuiditas masih longgar.

Bank Sumut yang sudah merencanakan IPO sejak 2020, juga memilih menunda rencana tersebut hingga kuartal II 2021, menunggu kondisi pasar yang lebih stabil usai tertekan akibat pandemi Covid-19. Tahun ini, perseroan berencana mempersiapkan proses awal IPO.

Baca:  Adira Finance menambah 2 kantor cabang Syariah di Medan dan Samarinda

Proses awal IPO sudah tercantum dalam RBB 2021. Saat ini Bank Sumut sedang melakukan proses seleksi advisory untuk membantu bank dalam melaksanakan IPO dan selanjutnya bank akan melakukan sosialisasi kepada calon investor, kata Syahdan Siregar. Sekretaris Perusahaan Bank Sumatera Utara.

Target saham yang akan dilepas ke publik tidak berubah, yakni sekitar 20% dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Sedangkan target dana akan ditargetkan setelah mendapat keputusan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Baca juga: Lebih Kebal dengan Corona, Kinerja Keuangan BJBR Tahun Ini Tetap Terjaga

Sedangkan PT Bank Pembangunan Daerah Sumsel Babel (BSB) belum berencana melakukan IPO tahun ini. Antonius Prabowo, Direktur Pemasaran BSB mengatakan, hingga saat ini belum diputuskan kapan akan menjadi perusahaan publik.

Untuk memperkuat permodalan, BSB masih mengandalkan suntikan dari pemegang saham yang ada yang rutin dilakukan setiap tahun.

Baca:  Akulaku dorong UMKM untuk adaptif saat pandemi Covid-19

Anak usaha BJB, BJB Syariah, juga berencana menambah modalnya. Opsi IPO adalah salah satu yang sedang ditinjau oleh bank.

“Sumber tambahan modal masih dalam proses peninjauan tim internal kami. Beberapa opsi sedang dikaji, baik IPO, sumber pendanaan lain maupun investor strategis. Saat ini kami sedang melakukan benchmarking dan persiapan yang dibutuhkan tim,” kata Roby Asmana, Sekretaris Perusahaan BJB Syariah.

Per Desember 2020, BJB Syariah memiliki modal inti Rp 1,04 triliun. Pada Maret 2021, bank mencatat pertumbuhan pembiayaan 9,23% tahun ke tahun dari Rp 5,39 triliun menjadi Rp 5,88 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 10,03% yoy menjadi Rp 6,15 triliun dan aset naik 12,6% menjadi Rp 8,26 triliun.



Komentar