Perbankan masih lanjutkan hapus buku guna mempercantik kualitas aset

by -29 views
Perbankan masih lanjutkan hapus buku guna mempercantik kualitas aset

ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di kantor cabang BNI, Jakarta./pho KONTAN / Carolus Agus Waluyo.

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Herlina Kartika Dewi

Indonesiaonline.co.id – JAKARTA. Bleaching atau pencatatan pembukuan merupakan salah satu strategi perbankan untuk meningkatkan kualitas asetnya. Tahun ini, sejumlah bank masih melanjutkan strategi hapus buku kredit bermasalah (Pinjaman Macet/ NPL) yang tidak dapat disimpan lagi.

Meski ancaman kenaikan NPL akibat kredit restrukturisasi Covid-19 masih membayangi perbankan, sejumlah bank yakin tahun ini rasio NPL akan lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Selain merestrukturisasi dan memperbaiki koleksi manajemen, ini akan dicapai dengan menghapus buku.

Pada triwulan I-2021, hapus buku di beberapa bank mengalami peningkatan. Bank Mandiri, misalnya, mencatat hapus buku sebesar Rp 3,21 triliun dalam kurun waktu tersebut. Terjadi peningkatan sebesar 14,2% dari triwulan I tahun lalu yaitu Rp. 2,81 triliun. Nilai NPL perseroan per Maret 2021 secara bank only mencapai Rp 25,4 triliun atau rasio 3,3%.

Dari penghapusbukuan dalam tiga bulan pertama, Bank Mandiri berhasil memulihkan atau memulihkan dan menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 861 miliar atau 26,8%. Pemulihan ini turun dari Rp 951 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: Tren Penghapusan Kredit Macet Meningkat, Sehingga Rapor Bank Tetap Indah

Baca:  Bakal jatuh tempo, obligasi Batavia Prosperindo Finance raih peringkat idBBB

PT Bank Negara Indonesia (BNI) memutihkan NPL sebesar Rp 2,54 triliun pada kuartal I 2021 dengan recovery rate 23% atau Rp 585 miliar. Jumlah hapus buku meningkat dari Rp 1,87 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Terdiri dari segmen korporasi Rp 1,31 triliun, segmen menengah Rp 370 miliar, segmen kecil Rp 412 miliar, dan segmen konsumer Rp 203 miliar.

Adapun untuk tahun 2020, credit bleaching bank ini mencapai Rp 9,77 triliun dengan recovery rate 201% atau Rp1,96 triliun.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) telah menghapus kredit bermasalah dalam tiga bulan pertama sebesar Rp. 253 Miliar dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencapai Rp. 500 miliar.

David Pirzada, Direktur Manajemen Risiko BNI, mengatakan pembukuan kredit BNI tahun ini diperkirakan sekitar Rp 9,5 triliun atau hampir sama dengan tahun 2020. “Sementara itu, pemulihan ditargetkan mencapai Rp 3,5 triliun. “ujarnya kepada Kontan.co.id, Jumat (30/4).

Meski beberapa debitur restrukturisasi yang terkena Covid-19 telah mengalami NPL sebesar Rp 1,9 triliun, namun penghapusan yang dilakukan oleh BNI pada kuartal I telah menyebabkan penurunan rasio NPL dari 4,3% pada Desember 2020 menjadi 4,1%. per Maret 2021.

Baca:  Bisnis asuransi jiwa mulai menggeliat pada awal tahun ini

Kredit yang akan dihapusbukukan tahun ini kemungkinan besar berasal dari pengusaha di Bali. Pemerintah saat ini sedang mengkaji pengusaha pemutih di Bali yang sudah bangkit meski diberi kelonggaran. Total eksposur kredit BNI di Bali mencapai Rp 8,5 triliun atau 1,5% dari total kredit perseroan dimana Rp 4,7 triliun merupakan kredit berisiko.

“Okupansi bisnis hotel di Bali masih sangat rendah pada kuartal pertama, sehingga para pelaku bisnis perhotelan masih kesulitan untuk menutupi biaya operasionalnya. Sehingga akan sangat terbantu jika pemerintah memberikan stimulus tambahan kepada mereka baik dalam program PEN maupun pemberian stimulus tambahan berupa pemutihan sebagian, misalnya bunga yang ditangguhkan selama restrukturisasi Covid-19, ”kata David.

Sementara itu, BCA melihat kemampuan membayar debitur juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan bisnis yang saat ini sedang melemah akibat pandemi Covid-19. Hingga Maret, BCA membukukan kredit bermasalah sebesar Rp 10,5 triliun atau 1,83% dari total kredit. Adapun untuk Desember 2020, rasio NPL bank berada di level 1,79%.

Baca juga: BNI membentuk cadangan sebesar Rp 4,81 triliun hingga Maret 2021

Vera Eve Lim, Direktur Keuangan BCA, mengatakan perseroan akan berupaya maksimal dalam mengelola risiko yang timbul akibat pandemi dan menyalurkan kredit secara hati-hati untuk menjaga kualitas kredit. Namun, dia tidak menyebutkan apakah penghapusan akan berlanjut hingga akhir tahun.

Baca:  BCA 2,85%, BRI 3%, Bank Mandiri 3,25%, BNI 2,85%

Sementara itu, BTN menargetkan penurunan NPL ke level 3,5% -3,7% tahun ini. Strategi untuk mencapai hal tersebut difokuskan pada dua inisiatif, yaitu perbaikan manajemen sistem penagihan dan penjualan aset NPL dalam bentuk log.

Direktur Wholesale Risk and Asset Management BTN Elisabeth Novie Riswanti mengatakan perseroan menargetkan write-off sekitar Rp 2 triliun-Rp 2,5 triliun pada tahun ini, turun dari Rp 3 triliun pada 2020. “Pendapatan dari write-off loan tahun ini. ditargetkan bisa mencapai Rp 500 miliar, ”ujarnya, Senin (3/5).

Rasio NPL BTN telah turun dari 4,37% pada Desember 2020 menjadi 4,25% pada Maret tahun ini. Penurunan ini merupakan dampak dari membaiknya proses bisnis dan penjualan aset NPL yang telah dilakukan sejak tahun lalu, seperti melalui investor gathering, optimalisasi penjualan melalui portal RumahMurah BTN dan meningkatnya jumlah investor yang membeli aset NPL bank.



Komentar