Serba-Serbi

Inilah Sosok yang Pertama Terjemahkan Alkitab dalam Bahasa Melayu

INDONESIAONLINE – Usaha penerjemahan Alkitab dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia nyatanya sudah ada sejak proses masuknya Kristen ke Nusantara. Dalam beberapa catatan sejarah, disebutkan penerjemahan Alkitab pertama dilakukan dalam bahasa Melayu.

Denys Lombard dalam bukunya, Nusa Jawa Silang Budaya, menyampaikan, pada Abad Ke-17 atau sekitar tahun 1645-1701 seorang predokant atau pengajar agama sekaligus pendeta Protestan di Batavia bernama Melchior Leijdecker telah menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Melayu.

Dia merupakan tokoh pertama yang menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Melayu. Teksnya pun kemudian diterbitkan pada 1731-1733 di Amsterdam. “Usaha itu berlanjut pada Abad Ke-18 dan semakin berkembang pada Abad Ke-19,” tulis Lombard.

Penerjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa, terutama yang digunakan di Indonesia, mulai banyak dilakukan. Terjemahan Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dilakukan secara masif. Selain itu, diterbitkan buku tata bahasa dan kamus.

Dalam perkembangannya, Alkitab juga diterjemahkan dalam Bahasa Jawa. Tokoh pertama yang menerjemahkan Alkitab dalam Bahasa Jawa adalah lendeta berkebangsaan Jerman bernama G. Bruckner yang bertempat tinggal di Semarang. Dia menerjemahkan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Jawa sejak 1830.

Sementara Kitab Perjanjian Lama diterjemahkan dan diselesaikan dan diterbitkan dalam waktu 1848 hingga 1852 oleh ahli javanologi J.F.C Gericke yang bertempat tinggal di Solo dan bekerja untuk NBG. 

Meski begitu, kitab terjemahan yang digunakan saat ini merupakan hasil terjemahan dari penerjemah ketiga, yaitu P.A. Jansz yang saat itu menetap di pesisir dekat Gunung Muria. Alkitab yang ia terjemahkan itu diterbitkan pada 1886-1893.

Bukan hanya dalam bahasa Jawa. Alkitab juga diterjemahkan dalam bahasa Sunda. 

Esser merupakan tokoh penting penerjemah Alkitab dalam bahasa Melayu pada 1854. Kemudian dilanjutkan oleh S Coolsma yang menerbitkan terjemahan Alkitab dalam bahasa Sunda secara lengkap. Karyanya itu diterbitkan pada 1877-1891 dan menjadi pegangan bagi unat Nasrani.

Seiring berjalannya waktu, Alkitab yang diterjemahkan Melchior Leijdecker dalam bahasa Melayu untuk kali pertama mendapat banyak pertanyaan. Hingga akhirnya digantikan dengan terjemahan bari karya H.C. Klinkert yang terbit pada 1870-1879.

Penerjemahan Alkitab dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia dan beberapa bahasa daerah memang banyak dilakukan. Namun penerjemahan dalam bahasa Melayu terbilang terlambat dibandingkan penerjemahan Alkitab yang dilakukan di beberapa daerah di Asia.

Lombard menyebut  saat itu Belanda tak terlalu terpikir untuk mengekspor agama yang mereka anut di masyarakat yang mereka jajah. Bahkan hingga dua abad masa kekuasaan VOC di Nusantara, tercatat hanya ada seribu orang pendeta yang memberikan layanan rohani. Itu pun terbatas hanya pada kelompok Eropa yang kecil serta beberapa komunitas yang terlebih dulu di-Kristen-kan Portugis. Di antaranya komunitas Ambon, Minahasa, dan Malaka.

Meski begitu, Lombard mencatat jika sebelum kedatangan Belanda, orang Portugis telah terlebih dulu belajar bahasa yang digunakan di Nusantara saat itu. Beberapa naskah dan teks Kristen telah diterjemahkan dalam bahasa Melayu. Namun hampir tak ada bukti teks yang menyebutkan usaha-usaha yang dilakukan orang Portugis itu.

Namun seiring berjalannya waktu, sekitar alhir Abad Ke-16 telah diterbitkan sebuah kamus Belanda-Melayu. Saat itu, Frederick de Houtman merupakan tokoh yang berperan dalam proses penerjemahan dan pembuatan kamus bahasa. Usaha itu dilakukan saat de Houtman sedang dalam masa tahanan Aceh. Kamusnya itu kemudian dijadikan buku metode dalam melakukan penerjemahan.

Pada Abad Ke-17 beberapa kamus lainnya diterbitkan. Dua pendeta ternama dikenal sebagai pemrakarsanya, yaitu Kasper Wiltens dan Sebastian Danckearts. Karya mereka terbit pada 1623 di Den Haag. Karya-karya kamus itu kemudian merangsang para pendeta lain untuk menerjemahkan Alkitab dalam bahasa melayu dan beberapa bahasa daerah yang digunakan di Nusantara.

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close