Agama

Gereja Sempat Jadi Gudang Beras Saat Perang Dunia, Kristenisasi di Malang Berkembang Pasca Kemerdekaan

INDONESIAONLINE – Kristenisasi di Malang Raya terus berlanjut pasca Indonesia mengalami kemerdekaan. Bahkan, disebut jika jumlah penganut Kristen terus mengalami perkembangan pasca Indonesia merdeka. 

Hal itu disampaikan Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono dalam wawancara eksklusif yang dilakukan bersama MalangTIMES belum lama ini. “Setelah kemerdekaan, jumlah Kristiani semakin bertambah,” kata Dwi.

Bapak dua anak ini menjelaskan, pertumbuhan tempat beribadah hingga lembaga pendidikan dan sekolah teologi juga semakin pesat. Bahkan, Malang Raya disebut sebagai kawasan yang sangat penting dan diperhitungkan dalam pendidikan keagamaan.

Pasalnya, di Malang banyak sekolah teologi dan pendidikan keagamaan Kristen yang sangat besar. Bahkan diperhitungkan hingga tingkat Asia Tenggara. Beberapa dapat ditemui di Kota Malang dan Kota Batu.

“Itu sebabnya Malang juga masuk dalam bagian yang sangat penting dalam perkembangan kristenisasi,” jelas Dwi.

Lebih jauh Dosen Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial ini menyampaikan, salah satu penanda tumbuh suburnya ajaran Kristen adalah keberadaan gereja. Tempat beribadah yang memiliki arsitektur yang kebanyakan dengan ciri khas bangunan Eropa itu banyak ditemui di Malang Raya.

Bahkan, gereja tertua di Kota Malang yaitu GPIB Immanuel saat ini berdiri kokoh di samping Masjid Agung Jami Kota Malang. Kedua bangunan yang berdampingan itu selalu dikaitkan sebagai simbol kerukunan umat beragama di Kota Pendidikan ini.

Dwi Cahyono menyampaikan, GPIB Immanuel merupakan gereja Protestan tertua di Malang. Gereja tersebut diperkirakan sudah digunakan sejak 1822. Saat itu bentuk bangunan masih tak semegah sekarang, namun berbentuk bangunan sederhana saja. Baru kemudian dilakukan renovasi sekitar tahun 1900 an.

“Itu adalah awal bangunan suci di Malang,” katanya pada MalangTIMES.

MalangTIMES pun berkesempatan untuk melihat langsung interior dari gereja tertua di Malang itu. Meski tergolong tua, nyatanya bangunan dari gereja ini masih sama seperti saat dibangun dulu. Lantai, atap, lampu, mimbar, hingga bangkunya pun masih tetap bertahan seperti ratusan tahun lalu.

Gereja tersebut sempat direnovasi beberapa kali. Namun, keaslian dari bangunan masih tetap dipertahankan. Karena, GPIB Immanuel merupakan salah satu aset berharga yang masuk dalam kategori cagar budaya. Untuk melakukan renovasi, tak diperbolehkan mengubah bentuk asli bangunan yang ada.

Dibangun pada masa kolonial Belanda, gereja yang berada di Jalan Merdeka Barat ini dulunya memang hanya digunakan sebagai tempat beribadah orang Eropa, khususnya Belanda. Namun saat Jepang datang pada 1942, gedung megah yang mampu menampung hingga 1.200 jemaat itu digunakan sebagai gudang beras. Gereja kembali difungsikan untuk beribadah setelah Jepang meninggalkan Malang.

Meski sempat menjadi gudang beras, desain interior dan eksterior gereja dapat dikembalikan seperti semula. Lantai yang digunakan hingga kursi yang ada merupakan hasil peninggalan kolonial Belanda, dan usianya hampir sama dengan usia gereja. Bangku panjang dan bangku untuk satu orang terlihat masih kokoh dan cantik.

Tak hanya itu, lampu yang ada dan berfungsi dengan baik sampai sekarang itu juga merupakan peninggalan kolonial Belanda. Lampu berbentuk bulat pada sisi kanan dan kiri ruangan. Sementara lampu yang diletakkan di tengah merupakan lampu tambahan.

Menariknya lagi, gereja ini juga masih menyimpan dua kitab yang di dalamnya tertulis diterbitkan pada 1714. Kedua kitab dengan tebal mencapai ribuan halaman itu masih menggunakan bahasa Belanda dan masih tersimpan dengan rapi. Sedangkan sampulnya sendiri terbuat dari kulit binatang.

Selain GPIB Immanuel, Kota Malang juga memiliki sederet gereja tua lain yang juga didirikan sejak masa kolonial Hindia Belanda. Salah satunya adalah Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel atau yang biasa kita kenal sebagai Gereja Katedral Ijen yang dibangun pada 1934.

Gereja Katedral Ijen ini sendiri merupakan salah satu bukti sejarah tumbuhnya ajaran Kristen Katolik di Malang Raya dan daerah sekitarnya. Karena sebagai gereja keuskupan, Gereja Katedral Ijen membawahi berbagai wilayah di Jawa Timur.

Bangunan Gereja Katedral Ijen sendiri sejak dibangun pertama kali sudah mengalami perbaikan sekitar dua kali. Namun untuk arsitektur sepenuhnya sama sekali tak ada perubahan. Lantai, tembok, bahkan interior dan sederet perlengkapan seperti kursi dan lampu masih sama dengan yang dibangun pertama kali.

Dalam wawancara terpisah, Ketua Dewan Paroki Gereja Katedral Malang, Nugroho Sugiwijono menjelaskan, pembenahan dilakukan sesuai dengan kebutuhan. Salah satunya seperti pengecatan untuk perawatan rutin. 

Sementara untuk pembenahan total dilakukan pada atap. Hal itu dilakukan lantaran kondisi atap yang sudah harus diganti. “Tapi untuk arsitekturnya masih tetap seperti dulu atapnya, hanya materialnya saja yang diubah. Kalau lainnya masih tetap sama seperti saat dibangun pertama kali,” jelasnya.

Nugroho juga menyampaikan jika kursi atau bangku yang digunakan selama ini masih merupakan warisan Belanda. Bentuk bangkunya pun memiliki sudut kemiringan, yang ia sebut sebagai sudut ternyaman saat dalam posisi duduk dengan waktu yang lama.

Dia juga menyampaikan jika Gereja Katedral Ijen tersebut bukan Gereja Katolik pertama di Kota Malang. Gereja Katolik tertua di Kota Malang adalah Hati Kudus Yesus Kayu Tangan Catholic Church atau Gereja Kayu Tangan dan sudah ada sejak 1897. Gereja tersebut dulunya melakukan ibadah dengan menggunakan Bahas Belanda.

Dalam perkembangannya, kemudian dibangun sebuah gereja baru di Jalan Semeru yang kini dikenal sebagai Gereja Kalam Kudus. Gereja tersebut sebagai Gereja Katolik yang menggunakan bahasa Jawa. Hal itu untuk mengimbangi penggunaan Bahasa Belanda pada Gereja Kayu Tangan yang sudah ada terlebih dulu.

“Karena jumlah jemaat Kristen Katolik bertambah, maka dibangunlah Gereja Katedral Ijen ini,” tambahnya.

Nah, untuk lebih jelas lagi mengenai perkembangan kristenisasi di Malang pasca Indonesia merdeka, simak video wawancara eksklusif MalangTIMES dengan Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono berikut ini. 

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close