Hiburan, Budaya dan Seni

Meriahnya Haul Gus Dur 2019 di Kota Batu, Kilas Balik Sejarah hingga Membahas Ilmu Metalurgi

INDONESIAONLINE – BATUTIMES – Peringatan Haul Gus Dur ke 10 tahun 2019 berlangsung meriah di Kota Batu. Tak hanya panjatan doa, kegiatan tersebut sekaligus menandai pendirian paguyuban Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara (PPBN) Kota Batu. 

Dengan keberadaan paguyuban tersebut, para pemerhati budaya dapat terkoordinasi dalam menelusuri cikal bakal Kota Batu. Termasuk menggali kearifan-kearifan lokal yang perlu dilakukan sejak dini. Sebab, sejarah adalah bagian dari jati diri dan identitas peradaban sebuah bangsa.

Kegiatan tersebut berlangsung di kantor PT Batu Land Property. Dengan menapaki kilas balik peradaban manusia, khususnya Kota Batu, diharapkan ruh jati diri bisa bangkit. Sekaligus menjadi tawaran untuk mengonsep masa depan lebih baik.

Ketua Pendiri Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara (PPBN) Robiyan menyatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan kaburnya sejarah cikal bakal Kota Apel itu. Sebab, tidak semua orang memahami. 

Padahal, banyak yang bisa digali baik oleh akademisi, praktisi maupun pemerhati budaya. Misalnya dari sisi bebatuan atau jejak metalurgi yang ditemukan. Menurutnya, hasrat melakukan penelusuran jejak sejarah dari bebatuan tidak banyak dilakukan. 

Robiyan menyebut, keengganan tersebut dikarenakan keterbatasan sarana dan media. “Kami ingin membuka tabir alam yang tersembunyi. Lewat bebatuan, memakai ilmu metalurgi,” kata suami dari Nuning Fitriana ini kepada JatimTimes.

Sementara itu, Sekretaris PPBN Sutoyo BSc menerangkan bahwa dalam pengamatannya, masih ada akademisi, praktisi, pemerintah yang kurang paham soal sejarah peradaban Nusantara lewat alam. Baik dari batu, air, dan tanah, khususnya Kota Batu. 

Maka, pihaknya berkeinginan untuk menghidupkan, menghimpun serpihan-serpihan yang terpecah belah untuk dikumpulkan menjadi kesatuan utuh. Hal itu perlu dilakukan demi menata kebudayaan dan membangun peradaban untuk generasi penerus bangsa.

“Agar generasi mendatang paham betul akan ruh jati diri dan makna filosofis dari peradaban bangsa. Ini bisa merambah ke Nusantara,” kata suami dari Sudjarwatik ini.

Kakek yang dikarunia satu cucu ini menceritakan bahwa awal mula Kota Batu dari sebuah tanah perdikan. Tanah yang diserahkan pihak kerajaan kepada tokoh-tokoh spiritual untuk dikelola dan bebas pajak. Hal tersebut berdasarkan narasi dalam prasasti Sanggurah di Gunung Penanggungan.

Gunung Penanggungan ini berada di antara Kota Batu dan Jombang. Oleh pihak Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles, prasasti tersebut dibawa ke Inggris dan diletakkan di bukit Minto Stone, Inggris.

“Kami ingin generasi paham tanah yang diinjak, udara yang dihirup dan makna filosofis Nusantara secara utuh. Ini semua butuh kesadaran bersama untuk memulai,” tegas pria yang dikarunia tiga anak ini.

Rencananya pihak PPBN membuat museum gemologi (batuan mineral) di Kota Batu. Upaya tersebut untuk memudahkan generasi paham betul apa yang terjadi di lingkungan dan alam sekitar. 

Acara tersebut juga dihadiri Gus Yuli Dwiadi yang menyampaikan beragam wawasan dan tausiah.

Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: