Peristiwa

Hujan Turun dan Debit Air Sungai Naik, Pencarian Korban Coban Cinde Dihentikan

INDONESIAONLINE – Pencarian korban hanyut terbawa arus air di Coban Cinde di hari ketiga yang dilakukan oleh tim gabungan dengan 7 SRU (unit-unit yang melakukan operasi SAR di lokasi musibah atau bencana, red) sampai tengah hari, sekitar pukul 13.00 WIB hasilnya masih nihil.

Satu korban bernama Bagus Puji (25) asal Surabaya masih belum ditemukan walaupun puluhan personel gabungan telah melakukan penyisiran diberbagai lokasi kejadian. 

Berbagai lokasi yang dimungkinkan, seperti di balik pepohonan yang tumbang sampai bebatuan besar sepanjang sungai yang disisir tim, belum menghasilkan temuan.

Lokasi penyisiran pun semakin sulit saat hujan mulai turun dan debit air sungai naik. 

Sehingga pencarian pun untuk sementara dihentikan karena tak memungkinkan dan berbahaya bagi para petugas gabungan.

“Sementara pencarian korban dihentikan dengan cuaca seperti ini,” kata Mudji Utomo, Kasubsi Penanggulangan Bencana PMI (Palang Merah Indonesia) Kabupaten Malang, Selasa (31/12/2019) siang.

Pencarian korban hanyut di Coban Cinde, seperti diketahui baru ditemukan satu wisatawan dalam kondisi tewas bernama Dwi Retno Prihatin (25) pada Senin (30/12/2019) siang. 

Dimana, di hari kejadian (Minggu, 29/12/2019) PMI, Polsek Tumpang dan Tim SAR Kabupaten Malang, terhadang cuaca dan kondisi lokasi yang gelap serta Medan yang berbahaya.

Kondisi itupun terjadi di pencarian hari kedua. Tim gabungan yang awalnya hanya 4 SRU ditambah 3 grup untuk mempercepat proses pencarian korban. 

Sayangnya, kembali pencarian harus diberhentikan dengan hujan yang kembali turun dan debit air sungai pun mulai naik.

“Pencarian akan kita lanjutkan bila kondisi lokasi sudah aman. Sementara kita hentikan dulu,” ujar Mudji Utomo.

Korban hanyut dan tenggelam, baik di Coban maupun pantai, memang membutuhkan waktu dalam proses pencariannya. 

Hal ini bisa dilihat dari jejak sebelum kasus Coban Cinde di tahun 2019. 

Yakni tewasnya dua wisatawan asal Sidoarjo di Pantai Bajul Mati, di bulan Mei. 

Kedua korban ini pun hampir sama kronologisnya, dimana imbauan petugas tak dihiraukan, sehingga mengalami petaka berakhir nyawa. 

Kedua wisatawan itu baru ditemukan setelah tim melakukan pencarian selama empat hari setelah keduanya dilaporkan hilang.

Korban lainnya pun sepanjang 2019 terus terjadi, swperi menimpa Sephia Virgin Pradila (20), Mahasiswi STIKI Kota Malang, yang tewas  terseret ombak di Pantai Watu Lepek Wonogoro, Kecamatan Gedangan, Juli 2019 lalu. 

Pun di Desember 2019, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) asal Bogor Frans Nababan (18) terseret ombak Pantai Watu Leter, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, saat berenang di pantai.

Berbagai peristiwa itu pula yang membuat berbagai kalangan, baik BPBD Kabupaten Malang maupun PMI kerap mengimbau para wisatawan yang akan berkunjung ke wisata Coban atau pantai untuk lebih waspada dan patuh atas larangan para petugas di sana.

“Masyarakat yang ingin berwisata ke coban untuk musim penghujan ini diharapkan waspada. Begitu pula wisatawan yang ke pantai Malang Selatan. Ikuti instruksi petugas di sana dan rambu-rambu larangan yang ada,” tandas Muji Utomo.

 

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close