Kesehatan

Waspada Nyamuk Aedes Aegypti, 2019 Jumlah Kasus DB Meningkat di Kabupaten Malang

INDONESIAONLINE – Musim hujan di Kabupaten Malang telah datang. Intaian bahaya dari serangan nyamuk Aedes Aegypti patut jadi perhatian semua pihak.

Itu karena pada musim hujan saat ini, nyamuk pembawa virus dengue penyebab penyakit deman berdarah dengue (DBD) tersebut  cepat berkembang biak dengan kondisi banyaknya genangan air. Nyamuk itu hanya butuh waktu sepekan menjadi nyamuk dewasa dalam kondisi saat ini.

Intaian bahaya DBD ini pun bukan isapan jempol di wilayah Kabupaten Malang. Akhir tahun 2019 ini saja tercatat telah terdapat 40 warga yang terjangkiti virus yang bila penanganannya terlambat bisa membuat nyawa melayang itu.

Hal ini didasarkan dari data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang. Yakni, sampai Minggu (29/12/2019) lalu, tercatat 40 warga terserang DBD. 

Walau secara data  sepanjang tahun 2019 mengalami penurunan kasus, serangan nyamuk Aedes Aegypti tak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi bila menengok beberapa tahun ke belakang, DBD di Kabupaten Malang tertinggi di Jawa Timur  dibandingkan dengan kabupaten dan kota lainnya. 

Tahun 2018 tercatat sebanyak 681 orang yang terkena DBD dan tiga orang kehilangan nyawa karena nyamuk Aedes Aegypti ini. Sedangkan untuk skala Jatim, pada tahun yang sama, kasus DBD sebanyak 1.081.

Tahun 2019, menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Arbani Mukti Wibowo, kasus DBD tertinggi terjadi bulan Februari dengan 319 kasus. “Diikuti Maret dengan kasus 311 orang. Untuk Oktober 36 orang dan September sebanyak 30 orang. November terdapat 55 orang dan Desember ini sebanyak 40 warga di berbagai wilayah dirawat di rumah sakit dan puskemas karena DBD,” terang mantan direktur RSUD Lawang itu, Selasa (31/12/20190).

Artinya, sepanjang tahun 2019 ini warga Kabupaten Malang yang terjangkiti DBD dan tercatat di Dinas Kesehatan Kabupaten Malang mencapai 791 kasus. Meningkat dibandingkan tahun 2018 lalu.

Kondisi itulah yang membuat Pemerintah Kabupaten Malang pun mengimbau seluruh masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungannya pada musim hujan saat ini. Pasalnya, menurut Arbani, penyebab tertinggi dari DBD di musim hujan ini adalah kebersihan lingkungan yang tak terjaga. 

“Karena itu, kami imbau masyarakat harus tetap waspada. Selalu menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan 3M, (mengubur, menguras dan menutup) tempat-tempat yang ada genangan air,” ujarnya.

Arbani pun mengklaim, walau ada penambahan kasus DBD tahun 2019 ini, pihaknya memastikan kejadian  tahun 2018 lalu dengan adanya warga meninggal dunia, tak terjadi. “Dari data kami, tidak ada yang meninggal,” ucapnya. Dia juga menyampaikan bahwa hampir seluruh wilayah Kabupaten Malang endemik DBD.

Pernyataan itu memperlihatkan intaian maut dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti tidak lagi hanya di wilayah dengan kode merah saja seperti beberapa tahun lalu. Tahun 2015 lalu, wilayah Kepanjen menjadi lumbung kasus DBD dengan 27 kasus. Diikuti Kalipare dengan 24 kasus dan Dau dengan 14 kasus.  Sementara Gondanglegi dan Pakis masuk di urutan dengan jumlah kasus DBD di bawah 10.

Tahun 2016, kasus DBD di Kabupaten Malang meningkat menjadi 1.114. Wilayah Wajak dan Tajinan yang menjadi penyumbang penderita DBD saat itu. Sedangkan tahun 2017 kasus DBD menurun cukup tinggi, yaitu sebanyak 451 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak 7 orang. 

Tahun 2018 kasus DBD kembali naik lagi menjadi 681 dengan meninggal dunia 3 orang. Kini di akhir  2019, kasus DBD kembali melampaui jejak tahun 2018 dengan 791 kasus.

Tak heran pemerintah pusat sejak awal tahun 2019 lalu telah meminta daerah untuk bersiaga menghadapi puncak musim hujan  dan penyebaran DBD. Dengan data yang dirilis Kementerian Kesehatan pada pertengahan Januari 2019, kasus terduga DBD telah mencapai 4.798 kejadian dan didominasi Pulau Jawa.

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close