Peristiwa

Intaian Bencana Hidrometeorologi, Pemkab Malang Imbau Warga Waspada

INDONESIAONLINE – Musim hujan di wilayah Kabupaten Malang telah datang. Setiap hari, biasanya menjelang sore, hujan dengan intensitas lebat maupun sedang terus mengguyur wilayah terluas kedua di Jawa Timur yang juga merupakan wilayah rawan bencana kedua tertinggi dibandingkan daerah lainnya itu.

Sebagai daerah merah, khususnya pada musim hujan, intaian bencana hidrometeorologi di Kabupaten Malang perlu diantisipasi secara dini. Baik bencana banjir, longsor, sampai dengan angin puting beliung yang telah terjadi beberapa waktu lalu di Kabupaten Malang.

Bencana banjir terbaru, misalnya, terjadi di wilayah Sumbermanjing Wetan (Sumawe). Hujan dengan durasi sekitar dua sampai 3 jam telah membuat kawasan MTsN 4 telah terendam banjir 2,5-3 meter serta menyebabkan kerugian material mencapai Rp 75 juta, Rabu (1/1/2020) kemarin.

Pun, angin kencang disertai hujan  telah membuat beberapa wilayah di Kepanjen rusak dikarenakan pepohonan tumbang. 

Kondisi itu tentunya perlu adanya antisipasi dini dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Pasalnya, musim hujan dengan intaian bencana hidrometeorologi diperkirakan masih akan lama menyapa Kabupaten Malang tahun 2020 ini.

Tak hanya di wilayah merah bencana alam, seperti yang dipetakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) beberapa tahun lalu. Tapi seluruh wilayah di 33 kecamatan perlu adanya kesiapan menghadapi intaian bencana hidrometeorologi.

“Kami tak bisa hanya fokus di wilayah merah bencana karena saat ini bisa dibilang hampir rata di 33 kecamatan. Walau secara intensitas dan tingkat keparahan memang berbeda per wilayah yang ada,” ucap Kepala BPBD Kabupaten Malang Bambang Istiawan, Kamis (2/1/2020).

Bambang mencontohkan, bencana banjir di Ampelgading, Bantur, Donomulyo, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, dan Tirtoyudo setiap tahun terjadi dengan intensitas yang terbilang sering. Tapi, lanjutnya, bukan berarti di wilayah lainnya, bencana hidrometeorologi tak terjadi.

“Pakisaji dan Kepanjen pun telah jadi wilayah rawan bencana hidrometeorologi seperti angin kencang yang merubohkan pepohonan dan tentunya membahayakan,” imbuhnya.

Dengan kondisi itulah, Pemkab Malang melalui BPBD tetap mengimbau seluruh masyarakat di 33 kecamatan untuk waspada dan siaga menghadapi bencana hidrometeorologi di musim hujan saat ini.

Tak hanya itu. Tiga pos lapang BPBD pun telah diaktifkan di awal musim hujan, takni di wilayah Ngantang, Poncokusumo, dan Donomulyo. Sedangkan  wilayah Malang Timur langsung di-cover  BPBD Kabupaten Malang. 

Bambang menyebut pos lapang, yang setiap unitnya dijaga antara 6-8 petugas gabungan, sebagai upaya mendekatkan petugas di lokasi rawan bencana. Sehingga saat terjadi bencana, penanganannya bisa dilakukan secara cepat dan diharapkan bisa meminimalisasi kerugian material dan tentunya jiwa.

Di beberapa titik, BPBD juga memasang early warning sistem (EWS) atau alat peringatan dini guna mengantisipasi bencana banjir. Yakni di Desa Sitiarjo, Sumawe, serta di wilayah Dampit sebagai langganan banjir tahunan setiap kali musim hujan datang. Pemasangan EWS ini berfungsi sebagai peringatan dini bila banjir datang.

Menurut Bambang, bencana alam memang tak bisa dicegah kedatangannya. Tapi  berbagai tindakan itu bisa meminimalisasi korban.

“Karena itu, sekali lagi, kami tetap mengimbau warga tetap waspada. Khususnya bagi warga yang berdomisili di wilayah dengan kemiringan 45 derajat. Musim hujan bisa melahirkan bencana banjir dan longsor juga,” ujar mantan kepala Satpol PP Kabupaten Malang ini.

Walaupun telah dipetakan, bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin kencang dan puting beliung di musim hujan, lanjut Bambang, tetap harus diwaspadai seluruh wilayah di Kabupaten Malang. “Sekali lagi kami tetap mengimbau masyarakat waspada menghadapi musim hujan saat ini,” pungkas dia. 

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close