Pendidikan

Merespons Lahirnya Studi Multidisiplin, UB Gelar Konferensi Internasional

INDONESIAONLINE – Studi monodisiplin kini telah usang. Fenomena perkembangan ilmiah yang diikuti berbagai masalah yang terjadi di masyarakat melahirkan multidisiplin.

Ironisnya, keberadaan studi dalam berbagai karakteristik ilmiah masih diremehkan. sementara itu ilmu multidisiplin termasuk dalam kategori ilmu yang paling cocok untuk menangani kompleksitas masalah global saat ini.

Selain cocok, studi multidisiplin mampu menjangkau hampir semua mata pelajaran pengetahuan dan teknologi. Secara khusus, pendekatan multidisiplin dapat diterapkan sebagai solusi di Indonesia untuk tantangan yang kita hadapi termasuk yang terkait dengan perubahan iklim, pekerjaan, ekonomi kreatif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pendidikan, media sosial, dan negosiasi antar lembaga.

Seiring dengan fenomena yang terjadi secara global, Indonesia membutuhkan inovasi dalam pendidikan. Perguruan tinggi pun harus bisa merespons fenomena ini.

Salah satu perguruan tinggi di Malang, yakni Universitas Brawijaya (UB) melakukannya dengan mengadakan konferensi internasional Brawijaya International Conference on Multidisciplinary Science and Technology (BICMST). Konferensi yang digelar 2-3/1/2020 di Gedung Widyaloka tersebut menghadirkan pembicara dari Indonesia, Amerika Serikat, New Zealand, dan Jepang.

Ketua Forum Wakil Dekan II (FORWADEK II) UB Prof Sukir Maryanto SSi PhD menjelaskan, tren atau kecenderungan dari perkembangan ilmu sekarang itu bukan monodisiplin.

“Tetapi lebih pada integrasi ataupun intern dari berbagai macam disiplin ilmu,” terangnya.

Maka tak heran jika konferensi tersebut banyak mendapat respons positif dari berbagai pihak.

“Alhamdulillah ini mendapatkan respons yang sangat positif baik dari Brawijaya maupun dari universitas yang lain. Dari target hanya 200 artikel, yang mendaftar sampai 412,” katanya.

Menguatkan pernyataan Sukir, Wakil Rektor 4 UB Prof Dr M Sasmito Djati menyampaikan bahwa pengembangan studi multidisiplin adalah hal yang sangat penting untuk menghadapi era keterbukaan.

“Pada hari ini, ilmu itu sudah melampaui batas-batas yang sudah kita bayangkan. Dulu ada fakultas ekonomi, fakultas hukum, itu nanti berkembang dengan fakultas-fakultas yang lain karena disruption. Nanti ilmu akan berkembang. Dan intinya sebetulnya adalah interdisiplin,” tegasnya.

Untuk diketahui konferensi yang diikuti lebih dari 350 peserta dari dalam maupun luar negeri tersebut menghadirkan pembicara Ms Rebecca Britain (AS), Dr Akira Kikuchi (Jepang), Dr Mark Duncan (NZ), Prof Dr Gugus Irianto (WR 2 UB), Prof Dr M Sasmito Djati (WR 4 UB), Prof Dr Imam Santoso (Dekan FTP), Prof Dr Bambang Supriyono (Dekan FIA), Prof Dr Loeki Enggar Fitri (FK), dan Dr Endra Gunawan (ITB).

Adanya beberapa narasumber dari luar negeri itu bukan tanpa tujuan. Melainkan untuk menanamkan pola pikir bahwa dunia sudah borderless (tak ada sekat).

“Kita itu borderless. Kita itu sudah nggak ada batasan. Dunia ilmu sejak dulu memang tidak ada batasnya. Tetapi perkembangan itu nggak bisa lepas dari budaya. Karena budaya kita masih berpikir lokal itu, maka pasti akan tertinggal juga. Sehingga memang harus dibuka semua orang asing masuk ke tempat kita dan kita pun juga harus keluar. bukan hanya inbound tetapi juga outbound,” bebernya.

Hal tersebut, kata Sasmito mutlak harus dilakukan, utamanya bagi kalangan akademisi.

“Ini harus siap semuanya. Senang atau tidak senang,” tegasnya.

Meski demikian, lanjutnya, jangan sampai juga kehilangan karakter agar tidak tergiring. Hal ini juga penting ketika universitas menjadi otonomis.

Sementara itu, Wakil Dekan 3 Ainur Rofiq SKom SE MM PhD CFA menyampaikan, konferensi internasional tersebut dilakukan dalam rangka upaya untuk menggerakkan pengembangan SDM yang baik.

“Dan salah satu pengembangan SDM yang baik itu adalah meningkatkan publikasi di kalangan dosen. Dan harapannya, inisiasi pertama ini menjadi inspirasi bagi forum- forum wadek yang lain,” katanya.

Mengingat antusiasme peserta cukup tinggi, konferensi ini akan dilaksanakan rutin tiap tahun. Tentunya dengan konsep yang lebih baik dan kolaborasi dengan penerbit Scopus yang lebih diperluas.

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: