Serba-Serbi

Mengupas Habis Perbedaan Aktivis Sesungguhnya dan Aktivis-aktivisan Bersama Pengamat

INDONESIAONLINE – Istilah aktivis memang bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan masyarakat. Para aktivis dikenal sebagai orang-orang yang kritis dan memiliki mental baja dalam memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan kepentingan rakyat.

Mereka rela terjun ke dalam situasi bahaya bahkan mengancam jiwanya sekalipun. Beberapa aktivis yang kita tahu sebut saja Marsinah, Widji Tukul, Munir, Salim Kancil, dan sederet nama lainnya yang bersuara lantang dan berjuang keras hingga terenggut nyawanya.

Seiring dengan perubahan zaman, para aktivis berbagai bidang kini bisa kita temui di media sosial. Mereka lantang menyuarakan ideologi melalui akun-akun pribadi mereka.

Namun, selain aktivis, di media sosial juga muncul istilah aktivis-aktivisan. Bisa juga disebut sebagai aktivis abal-abal atau aktivis gadungan.

Bagaimana bisa orang disebut sebagai aktivis yang sesungguhnya dan aktivis-aktivisan? Apa bedanya? Apa pengertian dari aktivis itu sendiri? Apa yang sebenarnya mereka kerjakan?

MalangTIMES pun mencari ‘pencerahan’ dengan menemui pakarnya, yaitu Pengamat Bidang Kajian Media dan Komunikasi Politik, Anang Sujoko SSos MSi DCOMM.

Kepada MalangTIMES Anang menjelaskan, aktivis adalah seseorang yang memiliki ideologi tertentu yang bergabung dalam sebuah organisasi dan dia mempunyai kemampuan untuk menggerakkan baik itu anggotanya atau stakeholdernya untuk melakukan kegiatan tertentu.

Jadi, perlu digarisbawahi bahwa aktivis harus tergabung dalam suatu organisasi.

“Karena dia sendiri sebagai aktivis pasti tergabung dalam ideologi tertentu. Jadi tidak ada kepentingan yang sifatnya subjektif individual, tetapi karena dia punya ideologi yang bergabung dengan orang-orang tertentu secara bersama,” jelasnya.

Contoh dari aktivis misalkan, aktivis lingkungan, aktivis antikorupsi, aktivis HAM, dan lain-lain.

Aktivis, kata Anang, dalam hal-hal tertentu mempunyai kapasitas atau kredibilitas tertentu yang diyakini mampu untuk menggerakkan sebuah kegiatan.

Contohnya ICW (Indonesia Corruption Watch). Dia memonitor bagaimana pejabat-pejabat publik itu melaksanakan kegiatannya. Ketika dia menemukan sesuatu yang dianggap tidak sesuai, bahwa itu ada pelanggaran atau ada tindakan yang memicu kemungkinan terjadinya korupsi, dia ingin menggerakkan.

“Menggerakkannya adalah dengan menyajikan data dengan keahlian tertentu dan dengan informasi yang akurat, kemudian dia menyampaikan hal itu sehingga mampu menciptakan opini publik,” terangnya.

“Itu yang diharapkan sebagai seorang aktivis. Adalah seseorang yang memang mempunyai idealisme dalam rangka untuk membuat masyarakat itu lebih baik,” imbuhnya.

Masyarakat yang lebih baik di sini dalam artian lebih berdaya, tidak menjadi alat, dan tidak ditekan pihak tertentu. Utamanya adalah masyarakat sipil.

Jadi, jelas bahwa aktivis itu seringkali mempunyai keberpihakan terhadap masyarakat kecil atau publik-publik tertentu sehingga menjadi bagian dalam sebuah pembangunan bangsa secara lebih luas. Jadi, keberpihakannya ada pada kepentingan publik, bukan pada kepentingan pribadi.

“Sekali lagi bukan untuk kepentingan pribadi. Kalau untuk kepentingan pribadi, maaf, dalam tanda kutip dia bukan seorang aktivis kalau menurut saya,” tegas Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya (UB) tersebut.

Atau, keberpihakannya bisa juga terhadap kepentingan golongan. Namun, kepentingan golongan yang dimaksud di sini tetap harus mampu berdampak untuk kepentingan publik.

“Tujuan utamanya di sana. Jadi bagaimana kemaslahatan itu untuk masyarakat umum. Kelompok-kelompok tertentu itu sebetulnya sebagai alat, organisasi ini sebagai alat. Namun tujuan akhir nya sebetulnya pada pembangunan bangsa ini, pembangunan masyarakat yang lebih luas,” paparnya.

Lantas bagaimana Anang menanggapi adanya aktivis-aktivisan tersebut?

Adanya dunia internet memungkinkan seseorang mampu melakukan apapun yang selama ini dilakukan oleh sebuah kelompok atau organisasi-organisasi besar. Namun, tetap saja, apabila ia hanya bergerak sendiri (tidak tergabung dalam suatu organisasi) maka belum bisa disebut aktivis.

“Yang dikatakan aktivis kalau saya mengacu pada definisi, misalkan di Kamus Besar Bahasa Indonesia, dia terikat pada suatu aturan. Jadi dia masuk dalam organisasi tertentu, kemudian dia melakukan itu secara konsisten,” tegasnya.

Jadi selain tergabung dalam organisasi tertentu, aktivis juga melakukan kegiatannya secara konsisten.

Lantas bagaimana jika ada seseorang yang lantang bersuara seperti aktivis namun tidak tergabung dalam suatu organisasi?

“Saya melihatnya tidak bisa disebut aktivis. Kita perlu meneliti lebih lanjut tentang background dia. Bisa jadi dia hanya sebagai orang yang mengamati bidang tertentu pada masa-masa tertentu saja,” katanya.

Seorang aktivis, selain lantang bersuara juga harus melakukan langkah konkrit. Apabila hanya sekadar ‘koar-koar’ di sosmed tanpa bergerak, kata Anang, bisa jadi dia hanya sekadar orang ‘omdo’ (omong doang).

Nah, langkah apa sih yang dilakukan aktivis yang sesungguhnya?

“Jadi bagaimana dia betul-betul memikirkan kondisi realnya itu bagaimana, terus apakah dia mempunyai kemampuan untuk berkoordinasi dengan orang banyak. Khawatir saya dia hanya sekadar mengkritisi tapi sebetulnya dia tidak dekat dengan akar yang ada di bawah,” ucapnya.

“Kalau sudah demikian, kekhawatiran saya itu yang sekarang ini banyak terjadi, orang itu hanya mengomentari tanpa data yang akurat, asal “buka mulutnya” kemudian setelah itu lari. Ketika dia untuk ditantang melakukan diskusi lebih jauh, data-data yang ditampilkan itu tidak terstruktur,” lanjutnya.

Apabila aktivis, dia akan mempunyai persiapan dan aktivitasnya juga mempunyai rutinitas. Jadi bukan sekadar ‘nampil’ sebentar untuk mengkritisi suatu topik lalu setelah itu selesai begitu saja, kemudian besoknya muncul lagi dengan tema yang berbeda.

Misalnya, sekarang mengkritisi pemerintah tentang banjir, kemudian besoknya lagi mengkritisi tema korupsi, dan seterusnya.

“Harusnya dia mempunyai konsistensi sesuai bidang keilmuannya,” tegas Anang.

Kecuali, lanjutnya, aktivis mahasiswa yang memang memiliki karakter tersendiri lantaran statusnya sebagai mahasiswa.

Anang menegaskan, apabila mengkritisi harus memiliki data. Namun, untuk mengkritisi pun juga tidak harus menjadi aktivis.

“Tapi kalau orang yang hanya mengamati dan mengatakan aktivis itu tanda tanya besar. Yang dikatakan aktivis, pasti dia punya kredibilitas dan integritas. Kredibilitas karena dia sendiri mempunyai background keilmuan dalam organisasinya itu,” tandasnya.

Show More

Related Articles

Back to top button
Close