Peristiwa

Ramai Diperbincangkan Timnas Putri U-16 tak Dapat Raport, Ganis Rumpoko Anak Wali Kota Batu Ikut Sibuk

INDONESIAONLINE – Beberapa saat lalu warganet dibuat ramai lantaran pemain Timnas Putri U-16 Jasmine Sefia Waynie, salah satu pelajar SMPN 2 Kota Batu, yang disebut mengalami diskriminasi oleh sekolah, lantaran tidak menerima raport dan nilai. Hal ini rupanya juga berimbas pada anak Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko yakni Ganis Rumpoko. 

Ya Ganis Rumpoko membeberkan kisahnya itu dalam story instagram yang cukup panjang. Sehingga membuat Ganis menceritakan awal mula kejadian itu di story instagramnya.

“Beberapa hari ini dapat mention soal atlet sepakbola putri asal Kota Batu yang tidak menerima raport dan nilainya dikosongi semua karena konon katanya, sekolahnya menganggap alphanya siswi yang bersangkutan saat membela tim nasional tidak membawa nama sekolah,” tulis Ganis, Minggu (5/1/2020)

“Apa benar demikian? Tanpa melakukan pertanyaan tersebut dan mencari tahu secara detail peristiwanya, temen2 netijen +62 seperti biasanya: yang penting viral, yang penting ngata-ngatain, pokoknya hepi lah ada bahan marah-marah sambil asal tagging kayak gini,” imbuhnya.

Story itu ditulis sepertinya karena warganet yang sesuka hati mengatakan seenaknya tanpa mencari tahu seluk beluk akar permasalahan. Sehingga membuat anak kedua pasangan Eddy Rumpoko-Dewanti Rumpoko angkat bicara. 

“Sebenarnya, saya bukan orang yang punya wewenang untuk menjawab kejadian. Lha wong saya bukan kepala sekolahnya, bukan pegawai apa lagi pejabat dinas pendidikan, belum menjabat apa-apa yang berkaitan dengan kasus ini,” tambahnya.

“Tapi ya karena netijen +62 yang mahabenar ini kalau marah pokoknya siapapun di- mention, jadilah saya ikut di-mention seolah harus turut bertanggung jawab atas kejadian ini. Oke lah, di sini saya hanya menyampaikan segala yang saya ketahui dari sudut pandang saya,” tulis Ganis.

Ganis pun akhirnya buka suka dan menjelaskan kronologi permasalahan tersebut dari sudut pandangnya. “Seseorang yang katanya pelatihnya atlet itu mengirim pesan pada saya via instagram perihal berita tersebut. Sebelum menjawab, saya mengirimkan berita tersebut kepada beberapa orang yang menurut saya berkaitan dan salah satunya ibu saya,” tambahnya.

“Ternyata, di hari itu, paginya, ibu saya sudah diberi kabar oleh pihak sekolah tentang kejadian ini. Dari ibu saya, saya mendapat informasi bahwa pihak sekolah tidak bisa memberikan nilai di raport yang bersangkutan karena menurut pihak sekolah yang bersangkutan tidak pernah hadir ke sekolah, walapun sedang tidak ada kegiatan sepak bola. Pihak sekolah merasa sudah aktif agar yang bersangkutan bisa mendapat nilai seperti memberi tugas dan bahkan menjemput agar ikut UAS,” terang Ganis.

“Saat menyampaikan alasan tersebut ke ibu saya, pihak sekolah datang dengan membawa berkas- berkas sebagai lampiran. Ketika alasan-alasan ini saya sampaikan kepada pelatihnya yang DM saya, beliau menjawab bahwa kekecewaan ayah atlet itu adalah karena kepala sekolah menyebutkan bahwa atlet tersebut tidak membawa nama sekolah. Apa benar kepala sekolah bermaksud mengatakan hal seperti itu? Kalimatnya bagaimana? Konteksnya secara keseluruhan apa?,” imbuh perempuan yang juga CEO Among Tani Foundation ini.

Menurutnya sepanjang yang diketahui, pihak sekolah sempat menyebutkan bahwa atlet tersebut mewakili dari PON Bangka Belitung bukan Jawa Timur, tapi itu bukan dasar untuk dijadikan penilaian. “Si pelatih yang memediasi kejadian ini menyatakan sudah meredam agar masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi si ayah terpengaruh media untuk mengangkat kejadian ini,” katanya.

“Sepanjang yang saya tahu, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Batu sudah berupaya untuk menemui dan akhirnya sudah ketemu di rumahnya untuk mediasi hari Sabtu kemarin (lho kok ga ada di media daring?). Keadaan yang sudah kadung ricuh ini tentu saja mempengaruhi paikologis sang atlet yang bisa dibilang masih usia remaja: sang atlet sudah nggak mau sekolah,” ujar Ganis.

Ganis pun sangat menyayangkan kejadian ini, karena pada dasarnya semua pihak terutama pihak sekolah sangat mendukung penuh kegiatan sepakbola sang atlet. Ia sendiri juga bangga beberapa kali melihat performa atlet arek mBatu tersebut saat membela timnas putri dan arema FC putri tersebut.

“Namun namanya sekolah, dan saya yakin semua lembaga pendidikan memiliki regulasi yang harus dijalankan demi mendidik dan mendisiplinkan, bukan kah olahraga juga soal kedisiplinan dan tanggung jawab, bukan sekedar berkeringat saja,” tulisnya.

Ia menambahkan jika ada banyak pilihan alternatif untuk urusan pendidikan, juga bukan orang yang mendewakan pendidikan formal. Homeschooling hanya sebuah pilihan, dan bukan satu-satunya jalan.

Kemudian ada kejar paket, juga berbagai pilihan sekolah alternatif yang lebih mengembangkan psikomotorik, minat dan bakat. “Yang mana pilihan sekolah ini tidak tersedia di zaman ku sekolah. Tapi kan kejar paket nggak keren dan sekolah- sekolah seperti homeschooling atau sekolah alternatif butuh biaya,” imbuh Ganis.

Menurutnya hal tersebut, yang perlu didiskusikan dan diperjuangkan dengan kepala dingin bersama dengan pihak pendidik untuk dibawa ke pemangku kebijakan. Dengan komunikasi yang baik, pasti ada jalan yang baik untuk semua.

“Yang terpenting, ketika kita punya cita-cita besar, apa lagi cita-cita tersebut berbeda dari yang dianggap normal, banyak hal yang harus dikorbankan dan itu biasa. Semoga masalah ini cepat selesai (dan saya kira sudah ditangani Secepatya), saya juga berharap kalau masalah ini selesai dengan baik semua akun media daring turut meceritakan. Jangan pas ada masalah aja ya ramainya,” tutupnya.

Show More

Related Articles

Back to top button
Close