Pemerintahan

BPS Catat Angka Pengangguran di Kota Malang Masih Tinggi, Lulusan SMA Mendominasi

INDONESIAONLINE – Berjuluk kota pendidikan sekaligus mendapat predikat kota kreatif, rupanya belum membawa dampak yang signifikan bagi Kota Malang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran terbuka saat ini masih relatif tinggi.

Jumlah tenaga kerja yang terserap lapangan pekerjaan di Kota Malang memang meningkat menjadi 430,55 ribu pada 2018. Angka itu bertambah 6,6 ribu orang dibandingkan pada periode yang sama di tahun 2018.

Periode Agustus 2019, jumlah yang masuk kategori menganggur berkurang sekitar 3,23 ribu orang atau 10,47 persen. Hal itu menjadikan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Malang pada 2019 turun 0,75 persen menjadi 6,04 persen dibanding Agustus 2018 yang berada pada level 6,79 persen.

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo menjelaskan, dari angka tersebut yang paling mendominasi adalah tenaga kerja dari tingkat pendidikan menengah ke atas dan perguruan tinggi. “Di sini angka pengangguran terbanyak ada pada kelompok SMA ke atas. SMA ke atas itu bisa tamatan SMA, bisa tamatan universitas,” ujarnya.

Rincian angkatan kerja Kota Malang menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan, yakni SD pada Agustus 2018 sejumlah 110.498 menjadi 102.095 di tahun 2019. Tamatan SMP, dari 65.410 menjadi 56.977, kemudian SMA dari 71.915 menjadi 86.597, SMK dari 82.049 menjadi 95.070, Diploma I/II/III dari 17.635 menjadi 18.785, dan Universitas dari 107.342 menjadi 98.692.

“Di tahun lalu kita mengharapkan tamatan SMK lebih banyak terserap di tenaga kerja. Ini sudah, 2019 (lulusan) SMK banyak yang diserap pasar kerja. Sehingga SMK lebih sedikit penganggurannya dibandingkan SMA,” imbuhnya.

Dari hasil tersebut, menurutnya di Kota Malang sudah memberikan progres yang cukup bagus penurunannya. Namun, jumlah orang yang sedang mencari pekerjaan dari angkatan kerja masih berada di atas 6,04 persen. 

“Kalo dibaca, di antara 100 angkatan kerja ada 6 angkatan kerja yang sedang mencari pekerjaan di Kota Malang,” jelasnya.

Sementara itu, jumlah dari tamatan SD relatif lebih kecil. Hal itu didasari karena orang-orang yang bersekolah dengan tingkatan rendah dinilai lebih aktif dalam mencari pekerjaan apapun tanpa terikat pilihan.

“Tingkat pengangguran untuk pendidikan SD rendah itu umumnya semua mau bekerja apa adanya. Menerima pekerjaan apa saja mau, karena mereka dengan ciri pendidikan rendah kalau tidak kerja tidak makan, nggak dapat ekonomi nggak dapat duit,” tandasnya.

Show More

Related Articles

Back to top button
Close