Wisata

Angkat Lagi Kejayaan Kebun Teh Wonosari, DPRD Beri Catatan Penting

INDONESIAONLINE – Wilayah Kabupaten Malang yang memiliki 33 kecamatan menyimpan beragam potensi destinasi pariwisata. Mulai dari wisata pantai, alam, pegunungan maupun wisata berbasis lingkungan. 

The Heart of East Java pun jadi identitas bagi Kabupaten Malang sejak tahun 2016 lalu. Tak hanya jadi simbol, pergerakan sektor pariwisata pun menggeliat di berbagai wilayah perdesaan. Maka, tak salah bila Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang mencatat adanya peningkatan jumlah wisatawan setiap tahunnya.

Sebut saja di tahun 2017 total jumlah wisatawan, baik mancanegara maupun domestik mencapai sekitar 6 juta lebih. Naik sekitar 1 juta wisatawan di tahun 2018 lalu, tepatnya 7.172.358.

Sayangnya, beberapa destinasi wisata dengan jejak sejarah panjang mulai kedodoran dan mati suri. Misalnya, wisata Kebun Teh Wonosari Lawang.

Padahal dengan lanksap alam yang begitu indah dan eksoktis, Kebun Teh Wonosari mampu membius wisatawan berbagai daerah dan mancanegara. Tercatat, angka kunjungan wisatawan tahun 2016 lalu sebanyak 296.034 orang dengan perolehan omzet sebesar Rp 10 miliar.

Hal inilah yang ditangkap oleh DPRD Kabupaten Malang yang secara langsung terjun menginisiasi potensi besar Kebun Teh Wonosari Lawang. Seperti yang disampaikan oleh Didik Gatot Subroto Ketua DPRD Kabupaten Malang bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) yang menggelar rapat kerja terkait pengembangan dan pengelolaan wisata Kebun Teh Wonosari ke depannya.

Ada beberapa catatan terkait hal itu yang disampaikan oleh DPRD Kabupaten Malang dalam mendorong bangkitnya lagi wisata Kebun Teh Wonosari. Khususnya terkait pengelolaan wisata yang merupakan wilayah PTPN XII dan selama ini dikelola sendiri.

“Sinergitas pengelolaan menjadi penting untuk pengembangan wisata Kebun Teh Wonosari yang memiliki keunggulan dibanding wisata lainnya yang serupa di Kabupaten Malang,” ucap Didik Gatot, Kamis (9/1/2020) yang memuji keindahan alam serta berbagai fasilitas yang ada di wisata Kebun Teh Wonosari.

Sinergitas pengelolaan ini, lanjut Didik Gatot, menjadi keniscayaan dalam mengembalikan kejayaan wisata Kebun Teh Wonosari. Tak hanya pihak PTPN XII saja yang melakukan pengelolaannya nanti, tapi juga Pemkab Malang diharapkan ikut serta dalam pengembangannya  ke depan.

Selain tentunya pelibatan kelompok masyarakat atau pokdarwis maupun pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ada di sekitar lokasi wisata. Sehingga akan terbentuk kekuatan bersama dalam mengembangkan potensi besar wisata Kebun Teh Wonosari. 

“Dengan adanya sinergitas, maka dampak positifnya akan terlihat cepat. Eksesnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari sektor wisata,” ujar Ketua DPC PDI-Perjuangan ini.

Secara teknis, Didik Gatot meminta kepada Disparbud untuk merancang teknis sinergitas dalam pengelolaan dan pengembangan wisata Kebun Teh Wonosari. “Kami minta Pemkab Malang melalui Disparbud untuk hal itu,” imbuhnya.

Melihat jejak destinasi wisata di Kabupaten Malang, khususnya di Malang Selatan, yang lahannya didominasi oleh Perhutani. Didik Gatot pun berharap dengan catatannya itu, wisata Kebun Teh Wonosari tak senasib dengan destinasi wisata pantai yang berjejer di Malang Selatan itu.

“Sejauh ini pengelolaannya kan jadi kurang maksimal. Di ranah inilah pemerintah harus ikut andil dan memiliki peran. Karena kebanyakan lokasi wisata itu dimiliki pemerintah, baik melalui Perhutani atau PTPN,” ucapnya yang juga menegaskan jalan keluar untuk persoalan itu adalah sinergitas seluruh unsur dalam pengelolaannya.

Keyakinan Kebun Teh Wonosari bisa kembali berjaya yang digelembungkan oleh DPRD Kabupaten Malang, sebenarnya sesuai dengan potensi yang ada di lokasi dengan ketinggian 950- 1.250 meter dari permukaan laut ini.
Wisata Kebun Teh Wonosari merupakan wisata tua sejak kolonial Belanda. Nuansa sejarah masih melekat dan bisa jadi bagian dalam memperkuat pesonanya sebagai destinasi wisata di Kabupaten Malang.

Hal ini dipertegas oleh Manajer PT PTPN XII Nelson Limbong yang menyebutkan, beberapa potensi wisata teh yang bisa dijadikan edukasi bagi wisatawan, yaitu teh tertua tahun 1910 masih ada.

“Kita masih memiliki tanaman itu plus monumennya juga. Selain itu produk kreatif masyarakat Lawang pun bisa jadi daya tarik pendukung lainnya. Kita optimis bisa menjadi wisata favorit lagi ke depannya,” ujar Limbong yang memiliki target jumlah wisatawan bisa mencapai 1.500 orang per harinya di hari libur.

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close