Hukum dan Kriminalitas

Meski Baru Kenal dari Facebook, Tiga Pemuda Sudah Nekat Menyetubuhi Remaja Putri secara Bergiliran

INDONESIAONLINE

Dengan kondisi kepala tertunduk, MD alias Sincan (17), AF alias Tigor (19), dan GG (17) hanya bisa pasrah saat digelandang petugas ke ruang penyidikan Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polres Malang, Kamis (9/1/2020) siang.

Ketiga pemuda asal Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang ini, harus berurusan dengan pihak kepolisian karena terbukti menyetubuhi remaja putri di bawah umur.

”Ketiga tersangka menyetubuhi korban secara bergantian. Kasusnya hingga kini masih dalam tahap penyidikan, korban beserta beberapa saksi lainnya masih dimintai keterangan oleh petugas,” kata Kanit Unit PPA Satreskrim Polres Malang, Ipda Yulistiana Sri Iriana, saat ditemui awak media ketika agenda penyidikan berlangsung, Kamis (9/1/2020).

Korban persetubuhan tersebut, lanjut Yulistiana, bernama Jelita (bukan nama sebenarnya), warga Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. 

Sedangkan kejadian persetubuhan yang dialami remaja putri 16 tahun itu, terjadi pada 19 Oktober 2019 silam. 

”Korban disetubuhi secara bergantian saat berada di rumah tersangka Tigor. Saat itu kondisi rumah memang sedang sepi, hanya ada korban dan ketiga tersangka,” ungkap Yulistiana.

Ceritanya, pada awal bulan Oktober 2019, tersangka Sincan memberanikan diri berkenalan dengan Jelita melalui medsos. Keisengan itu ternyata mendapat respons positif dari korban.

Setelah sering berkomunikasi melalui sarana chating yang ada pada media facebook itulah, Sincan akhirnya mencoba untuk mengajak Jelita ketemuan. Keduanya janjian untuk bertemu pada 19 Oktober 2019.

Sekitar pukul 14.00 WIB, Sincan menjemput Jelita di sebrang jalan di sekitar rumahnya. ”Dari pengakuannya, korban bersedia diajak ketemuan karena akan diajak main dan jalan-jalan,” terang Yulistiana.

Bukannya menepati janjinya, Sincan yang saat itu membonceng korban menggunakan sepeda motor tersebut, justru mengajaknya ke rumah salah satu temannya yang bernama Tigor.

Setibanya di rumah yang berlokasi di Kecamatan Kromengan tersebut, kedatangan Jelita sudah disambut hangat kedua teman Sincan. Yakni tersangka Tigor dan GG. 

”Semula korban hanya diajak ngobrol, namun beberapa saat kemudian tersangka Sincan menawari korban minuman keras (miras),” sambung Yulistiana.

Mendapat tawaran tersebut, Jelita sempat menolaknya. Namun tersangka Sincan terus memaksanya. Dengan terpaksa, remaja belasan tahun itu pun akhirnya hanya bisa pasrah saat rongga mulutnya dicekoki miras.

Kejadian tersebut berlangsung selama beberapa jam. Puncaknya sekitar pukul 18.00 WIB, Jelita yang sedang teler karena mengonsumsi miras diseret oleh tersangka Sincan menuju ruang kamar.

Meski dalam kondisi mabuk, Jelia sempat berupaya untuk memberontak saat dipaksa menuju ruang kamar. Mendapat perlawanan tersebut, tersangka Sincan terus memaksanya hingga persetubuhan itupun terjadi.

”Korban ini digilir oleh ketiga tersangka, setelah Sincan, korban juga disetubuhi oleh tersangka GG dan terakhir Tigor,” jelas Yulistiana.

Setelah melampiaskan nafsunya, Jelita diantarkan pulang. Namun, karena kondisinya sedang mabuk, korban yang ketakutan memilih untuk tidur di rumah tetangganya.

Esok harinya, ketika kesadarannya sudah pulih Jelita memilih untuk pulang ke rumah. Mengetahui putrinya baru pulang setelah seharian menghilang, orang tuanya seketika mencerca beragam pertanyaan kepada korban.

Terus didesak, korban yang masih berstatus pelajar itupun akhirnya mengaku jika baru saja disetubuhi oleh ketiga tersangka. Merasa tidak terima, kejadian ini akhirnya dilaporkan keluarga korban ke pihak kepolisian.

Mendapat laporan, anggota Unit PPA Satreskrim Polres Malang dikerahkan untuk melakukan penyelidikan. Setelah mendapatkan bukti kuat, ketiga tersangka akhirnya diciduk petugas di rumah mereka masing-masing.

”Akibat perbuatan persetubuhan terhadap anak di bawah umur tersebut, ketiga tersangka kami sangkakan dengan pasal 81 Juncto pasal 76D serta pasal 82 Juncto pasal 76E Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak,” tutup Yulistiana.

Show More

Related Articles

Back to top button
Close