Peristiwa

Larangan Cadar di Lingkungan Pemerintah hingga Kampus, Sah atau Salah Kaprah?

INDONESIAONLINE – Tak bisa ditampik bahwa topik mengenai cadar memang sangat kontroversial. Selama ini, kita tidak akan bisa menemukan jawaban yang seragam soal penggunaan cadar. 

Pendapat soal penggunaan cadar setidaknya terbagi atas dua kubu. Satu kubu mewajibkan. Satunya lagi menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara cadar dengan agama.

Dalam hal ini, akhirnya pemerintah juga ikut turun tangan memutuskan. Kita tentu masih ingat ketika beberapa waktu yang lalu Menteri Agama (Menag) RI Fachrul Razi melarang penggunaan cadar pada ASN. Kebijakan tersebut lantas menuai pro dan kontra. Namun, Fachrul tetap tegas terhadap kebijakan tersebut.

Tak hanya di lingkungan pemerintah, beberapa kampus juga melarang penggunaan cadar. Universitas Al-Azhar Kairo yang merupakan salah satu lembaga pendidikan tinggi tertua Mesir yang melarang dosen memakai cadar saat mengajar di kampus. Di Indonesia sendiri pelarangan penggunaan cadar di lingkungan kampus juga diterapkan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Universitas Islam Malang (UNISMA), dan lain-lain.

Direktur Dai Intelektual Nusantara Network (DINUN), Achmad Tohe MA PhD berpendapat, sah-sah saja jika negara maupun kampus melarang penggunaan cadar.

“Persoalan institusi, sebenarnya kalau negara melarang cadar menurut saya sah-sah saja, terutama kepada ASN, bukan kepada masyarakat kebanyakan,” ucapnya.

Ia beralasan, aparat negara punya tanggung jawab untuk melayani publik. Tentu masyarakat umum akan lebih nyaman ketika dilayani dengan baik, bisa melihat wajah masing-masing, bicara dengan santai dan tanpa sembunyi-sembunyi ataupun suara lirih karena takut aurat terbuka.

“Jadi kalau konteks negara, memang menurut saya keputusan pemerintah itu bisa melampaui perbedaan pendapat yang ada di masyarakat,” katanya.

Nah, cadar sendiri adalah salah satu topik yang mana ulama memiliki pendapat yang berbeda-beda. Maka dari itu, negara boleh memutuskan.

Di ranah perguruan tinggi pun, banyak kampus-kampus yang tidak memperbolehkan mahasiswanya bercadar ketika di dalam kampus. Al-Azhar salah satunya. Menurut Tohe, hal ini juga sah-sah saja. Asal pelarangan itu hanya berlaku di dalam kampus.

“Ada keputusan politik yang memang diperbolehkan oleh ulama ketika ada perbedaan pendapat yang susah didamaikan,” papar Dosen Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) tersebut.

Jadi, pemerintah punya justifikasi keagamaan untuk melakukan pelarangan tersebut.

“Tetapi yang nggak boleh itu kalau pemerintah misalkan memaksa semua orang (melarang menggunakan cadar) tanpa justifikasi yang bisa diterima,” pungkasnya.

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close