Gaya

Perjalanan Hijab, Dari Ayat-Ayat Cinta hingga Menjadi Tren Fashion Dunia

INDONESIAONLINE –  

Masih ingatkah kamu film Ayat-ayat Cinta (AAC) yang pernah booming pada tahun 2008 dulu? Atau film Ketika Cinta Bertasbih yang dirilis tahun 2009 yang juga tak kalah mendulang kesuksesan?

Percaya atau tidak, dua film layar lebar yang diangkat dari novel tersebut turut mengawali tren penggunaan hijab di Indonesia. 

Kita tahu, pada zaman pemerintahan Soeharto, penggunaan hijab dikekang. 

Pemerintah menentang pemakaian jilbab atau atribut-atribut keislaman di ranah publik.

Saat ini, penggunaan jilbab menjadi hal yang sangat lumrah di masyarakat. 

Bahkan, sudah menjadi tren fashion. Kita tahu kini banyak muncul hijabers-hijabers di Indonesia.

Menariknya, istilah jilbab kini sudah jarang sekali digunakan, apalagi kerudung. Dari sejarahnya, sebelum disebut hijab, kain penutup kepala ini dulu sempat disebut tudung, lalu berubah menjadi kerudung, berubah lagi menjadi jilbab, dan kini menjadi hijab. Perubahan istilah ini bukan tanpa kebetulan. Melainkan menandakan adanya perjalanan sejarah.

Hal ini disampaikan oleh Dosen Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, Dr Merry Fridha Tri Palupi SSos MSi.

“Kerudung itu karena disematkan. Ketika jilbab itu ada perjuangan muslimah kalau itu untuk memperjuangkan bahwa mereka boleh memakai jilbab karena waktu itu negara sangat otoriter untuk mengatur penggunaan jilbab. Dan sekarang namanya berganti menjadi hijab,” terangnya saat ditemui di Universitas Islam Malang (UNISMA).

Dalam sebuah studi yang ia lakukan, Merry kemudian menemukan alasan mengapa istilah jilbab berubah menjadi hijab. 

Saat itu, ia melakukan wawancara dengan hijabers community, yang salah satu pendirinya adalah designer Dian Pelangi. 

Dian mengungkapkan, penggunaan istilah hijab tak lain tak bukan adalah karena ia ingin membawa hijab ke ranah fashion internasional.

“Dia jawab karena mau go international. Kalau pakai kata kerudung nanti jadinya kerudungers, kalau pakai nama jilbab jilbaber, itu tidak easy listening dan susah untuk dibawa ke ranah internasional. Tapi kalau menggunakan kata hijab jadi hijabers itu rasanya lebih enak dan lebih bisa diterima di dunia internasional,” paparnya.

Perjalanan hijab ke dunia internasional sendiri terbilang sangat sukses. Indonesia seakan menjadi kiblat fashion hijab dunia. 

Dibandingkan dengan negara-negara lain (misal Malaysia atau Brunei Darussalam), Indonesia memiliki model hijab yang sangat variatif. Penggunaannya pun sangat kreatif.

Tren bisnis hijab di Indonesia sangat luar biasa. Data yang dibeberkan Merry, penjualan hijab di pasar hijab Bandung mengalami kenaikan yang luar biasa dari tahun 2010 hingga 2018.

“Tahun 2010 penjualannya Rp 1 miliar dalam kurun waktu 1 bulan. Tahun 2012 naik 3 kali lipat jadi Rp 3 miliar. Kemudian, di tahun 2018 naik 5 kali lipat menjadi Rp 15 miliar dalam waktu 1 bulan,” beber Peneliti Kajian Perempuan tersebut.

Jadi, muslimah sekarang sudah mulai menggunakan hijab dalam kesehariannya. Bahkan, bisa dilihat, apabila jalan-jalan ke mall, perempuan-perempuan hits cantik hingga ibu-ibu gaul sosialita mayoritas memakai hijab.

Peluang ini pun dimanfaatkan oleh industri-industri besar, seperti Nike (perusahaan sepatu, pakaian, dan alat-alat olahraga Amerika Serikat yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia). 

Nike juga meluncurkan produk baju olahraga khusus untuk pemakai hijab. Para industri besar ini melihat fashion muslim sebagai pasar yang empuk.

Tak hanya Nike, kini industri kecantikan juga sudah melihat fashion muslim sebagai sasaran yang empuk. 

Seperti yang kita tahu kini muncul shampo khusus hijabers, lotion khusus hijabers, makeup muslimah, dan lain-lain.

“Dari ujung rambut sampai ujung kaki semua industri memproduksi khusus untuk pengguna hijab. Ini luar biasa. Fenomena penggunaan hijab merupakan bagian dari tren fashion,” pungkasnya.

 

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close