Politik

Bermuara Kemana Suara Nahdliyin di Pilkada Malang 2020?

INDONESIAONLINE – Suara Nahdliyin di kancah perebutan kursi pemerintahan selalu seksi. Baik di tingkat pusat sampai daerah, keberadaan suara warga Nadhlatul Ulama (NU) ini telah jadi kunci sebuah kemenangan dalam berbagai kontestasi politik di negeri ini. 

Terbaru, adalah melenggangnya Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi presiden setelah menggaet Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presidennya. 

Dari jejak Pilpres 2019 lalu, Jokowi-Ma’ruf meraih suara perkasa Nahdliyin di Jawa Timur (Jatim) yakni di 32 kabupaten/ kota. 6 kabupaten/ kota di Jatim berada di pihak Prabowo-Sandiaga. Kemenangan itu tak lepas dari pengaruh NU sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, serta yang paling solid dan banyak anggotanya di Jatim.

Jejak itu pun dimungkinkan berlanjut dalam Pilkada serentak 2020 di Jawa Timur (Jatim) umumnya dan Kabupaten Malang pada khususnya. Terutama setelah PKB Kabupaten Malang yang memiliki sejarah lekat dengan NU mampu bersaing dengan PDI-Perjuangan dalam perebutan suara legislatif di tahun 2019 lalu, yakni sama-sama mendulang 12 kursi.

Kedua parpol inilah yang memiliki hak mengusung pasangan calonnya tanpa perlu berkoalisi di Pilkada Malang 2020.

Tapi, mungkinkah kedua parpol itu, khususnya PDI-Perjuangan tak menggandeng Nahdliyin serta melaju hanya dengan mengandalkan kader internalnya sebagai calon bupati dan wakil bupatinya? Cukupkah kekuatan nasionalis meraup suara masyarakat tanpa menggandeng Nahdliyin yang bukan sekedar struktural lewat NU?

Mengutip pernyataan M Faishal Aminudin, pengajar Ilmu Politik di Universitas Brawijaya (UB) Malang, dengan melihat jejak Pilpres 2019 lalu, kemenangan Jokowi-Ma’ruf di Jatim sebagai basis NU bukan ditentukan oleh PBNU secara struktural. 

“Melainkan oleh patron-patron yang mengakar di masyarakat. Bagi warga Nahdliyin hal tersebut memang lumrah, karena bagi mereka kiai adalah teladan yang amat dihormati,” ucapnya yang dikuatkan dengan hasil survei Indikator Politik Indonesia.

Patron Nahdliyin yang berada di berbagai pondok pesantren di Kabupaten Malang inilah yang juga menjadi kekuatan utama NU selama ini. Walau pilihan politik NU dalam sejumlah pilpres biasanya bersandar pada kesamaan amaliyah, fikrah (pemikiran), dan harakah (gerakan). Tapi, keberadaan kharisma para patron yaitu kiai inilah yang membuat suara Nahdliyin mengerucut pada sosok yang akan dipilihnya.

Tak heran Prabowo-Sandiaga pun di Jatim, waktu pilpres, masih mampu memenangkan suara nahdliyin di Bondowoso, Pacitan, Pamekasan, Sampang, Situbondo, dan Sumenep. Dikarenakan para kiai dan pondok pesantren di wilayah itu memiliki  hubungan historis dan emosional yang dekat dengan Prabowo. Seperti yang pernah juga diungkapkan Hasanuddin Ali pendiri Alvara Research Center.

Para patron Nahdliyin dan pondok pesantren inilah yang menjadi kekuatan suara pada nantinya. Walau mereka tak berpolitik praktis, tapi hak politik mereka sama dengan warga lainnya. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang mencatat, keberadaan pesantren mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sebut saja dari tahun 2013 hanya 590 ponpes di Kabupaten Malang, meningkat dalam kurun waktu 4 tahun (2017) menjadi 638. Dimungkinkan besar di awal tahun 2020 ini pun angkanya semakin naik.

Peta inilah yang menjadi seksi di mata parpol di Kabupaten Malang. Walau Nahdliyin tersebar di berbagai organisasi maupun parpol itu sendiri, tapi peran para kiai dan pondok pesantren tak mungkin diabaikan oleh parpol yang akan berkontestasi di tahun ini. Bila ingin mendulang kemenangan dalam Pilkada 2020 yang masih terkesan saling intai dan tunggu antara para kontestannya.

“Kantong NU tentu akan jadi rebutan dalam Pilkada Kabupaten Malang. Baik PDI-Perjuangan maupun PKB nantinya. Karena suara Nahdliyin ini besar dan menentukan,” ujar Maulidin dari lembaga studi agama dan demokrasi (eLSAD).

Maulidin melanjutkan, dalam pengamatannya PDI-Perjuangan dan PKB dimungkinkan mengusung calonnya sendiri. Atau tak mungkin berkoalisi karena kalkulasi politik yang relatif berimbang. 

“Kalau berdasar otak-atik politik, kedua partai yakni PDIP dan PKB tidak mungkin berkoalisi. Keduanya mempunyai ego besar karena basis massa yang kuat,” ujarnya.

Dengan posisi itu pula, maka pertarungan memperebutkan suara Nahdliyin yang tak bisa begitu saja diikat oleh NU secara struktural dan parpol, akan sengit pada nantinya. Kemahiran menaklukkan hati para patron dan pondok pesantren oleh para calon yang diusung parpol akan menjadi penentu, bila PDI-Perjuangan dan PKB benar-benar saling berhadapan.

Ada beberapa opsi yang sempat juga dilontarkan oleh petinggi PKB terkait hal itu. Seperti yang disampaikan Sekretaris DPC PKB Kabupaten Malang Muslimin, beberapa waktu lalu, yang menegaskan bila memang NU bisa menjadi pendulang suara dan bisa memberikan dukungan all-out ke PKB, maka tentunya tak perlu berkoalisi dengan yang lain (parpol lain, red).

Pernyataan Muslimin tentunya juga tak lepas dari para kader NU potensial yang ikut menumpang ke parpol lain dalam Pilkada tahun ini. Seperti Hasan Abadi dan Umar Usman yang merupakan Ketua PCNU Kabupaten Malang yang mendaftar ke PDI-Perjuangan dan partai NasDem.

Kontelasi politik itulah yang membuat PKB pun gencar mendekatkan diri dengan NU dalam berbagai kegiatan. Tak terkecuali Sanusi yang digadangkan menjadi calon Bupati dari PKB, intens melakukan berbagai komunikasi. Tak hanya di tubuh NU tapi juga diberbagai kegiatan pondok pesantren di Kabupaten Malang.
Lantas akan kemana suara Nahdliyin pada nantinya bermuara?

Maulidin mengatakan, bila memang PDI-Perjuangan dan PKB jadi seteru, maka jejak para calon yang diusunglah yang akan jadi kunci merebut suara Nahdliyin Kabupaten Malang. Misalnya, Sanusi selama menjadi pejabat teras, baik sejak di DPRD, Wakil Bupati hingga Bupati Malang. 

“Apakah Sanusi cukup memberikan kontribusi yang benar-benar bisa dirasakan oleh basis massa NU atau tidak selama menjadi pimpinan selama ini,” ujarnya yang melanjutkan, roda parpol untuk menggandeng para patron dan pondok pesantren dalam lingkarannya akan slbisa menguatkan posisi.

Hal senada juga disampaikan beberapa pengamat dengan melihat manuver para kader potensial di tubuh NU. Saat Hasan Abadi secara tegas juga menyampaikan, dirinya tetap mengajukan diri sebagai calon N-1 dalam Pilkada tahun ini. Sehingga tentunya akan sulit bagi PKB yang suaranya telah bulat mendukung Sanusi untuk melenggang jadi calon bupatinya.

Umar Usman yang melabuhkan diri di PDI-Perjuangan maupun NasDem yang merupakan basis pemilih nasionalis, memiliki peluang lebih besar bila bersedia menjadi tandem calon bupati. Peluang ini tentunya membuka lebar pintu suara Nahdliyin ke PDI-Perjuangan, bila memang dimanfaatkan secara matang oleh partai banteng moncong putih ini.

Hal ini kalau kita melihat jejak pilpres 2019 yang berhasil menggulingkan lagi Prabowo, dimana PDI-Perjuangan menggandeng kader NU Ma’ruf Amin dan bermanuver secara lincah dengan merangkul berbagai patron NU di pondok pesantren.

Maka, suara Nahdliyin memang ditentukan nantinya pada sosok calon yang diusung dan kemampuan mesin parpol dalam merangkul hati para kiai dan pondok pesantren. Sedangkan warga NU yang tersebar diberbagai parpol lainnya pun tentunya akan menyamakan pilihannya dengan berkoalisi pada nantinya. Karena, suara di Kabupaten Malang sampai saat ini, melihat jejak perolehan suara di pemilu 2019, masih dikuasai oleh suara nasionalis dan religius. 

Tak heran, Partai Golkar pun kini sedang masif menggiatkan corak warnanya. Dimana, Siadi sebagai calon yang digadangkan Golkar pun merangkul aktivis nasional dalam kegiatan internal partainya. Seperti kegiatan sarasehan yang digelar DPD Partai Golkar dengan menghadirkan mantan Bupati Malang Sujud Pribadi yang dikenal sebagai sosok kuat di eranya bahkan sampai saat ini di tubuh banteng bermoncong putih ini.

Partai lainnya Gerindra, Demokrat, NasDem, dan Hanura juga kental dengan ideologi nasionalis-nya. Sehingga kemungkinan untuk berkoalisi dengan ideologi yang dianut akan semakin mengerucut.

Maka, PKB tentunya sangat membutuhkan sekutu potensial dalam menghadapi Pilkada tahun ini. Suara Nahdliyin akan sangat menentukan, saat warga berideologi nasionalis yang berkarakter militan dalam setiap pemilu telah juga bersiap mengawal jagoannya.

 

Show More

Related Articles

Back to top button
Close