Ruang Sastra

Hati-hati di Jalan, Sundal

Bapak adalah iblis berparas rupawan sebelum Tuhan mengusirnya dari surga, dulu. Kini, Bapak ya iblis si bajingan tengik yang sekarang kita kenal itu. Aku masih suka memecah telor untuk bersenang-senang tatkala Ibu yang hamil tua sedang tersedu sedan. Kala itu Bapak tidak pulang. Bermalam di rumah janda jalang. Memang tak tahu diri. Lelah melihat ibu menangis, aku bermain barbie.

Adegan pilu itu sama sekali tak kuingat saat aku dewasa. Kalau aku tidak pulang dan cerita perihal suamiku yang ketahuan nyeleweng maka Ibu tidak akan menceritakan kisah menyedihkan itu. Malam itu kami tersedu sedan bersama. “Masih sakit sampai sekarang,” akuinya.

Kupikir dulu bila Bapak tidak pulang ia sedang kerja jauh. Pulang-pulang selalu bawa hadiah. Tas sekolah, sepatu, atau buku cerita. Ternyata, dia menemui janda yang sama.

“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”

Ia diam saja.

“Kenapa Ibu tidak marah?”

“Ya marah. Kamu saja yang tidak tahu.”

Ibu tak bilang apa-apa lagi setelah itu.

“Aku mau cerai,” kataku.

Setelah itu aku mengomel panjang. Heweshewesheweshewes. Hawushawushawushawus.

Setelah omelan panjang nan emosional, dua bulan lamanya aku lebih banyak diam. Berpuasa. Tidak pernah mengaca. Jarang tidur. Tidak bercukur. Rambut kemaluanku tumbuh hingga pergelangan kaki. Setiap kali datang bulan, darah kusumpal dengan lembaran Alkitab. Dua bulan itu bajuku selalu berwarna putih. Aku ingin terlihat suci.

Setiap hari aku berjalan menuju gereja terdekat. Kuakui dosa-dosaku. Sendirian, bertekuk lutut dan memohon macam-macam. Setiap melakukan tanda kemenangan, aku memejam dan melihat iblis serupa Bapak.

Malam hari aku selalu tersedu sedan. Ibu mengerti. Setiap terbangun mendengar tangisku, ia buatkan teh panas yang tak pernah kuminum.

Suatu pagi, tatkala Ibu masih ke pasar dan Bapak bekerja, kami kedatangan tamu tak terduga. Aku tahu dia. Seorang wanita tinggi, berkulit coklat, berparas muram kusut, dan berambut ijuk. Sang Sundal.

“Aku hamil, sudah 3 bulan, anak Mas Bimo,” katanya.

“Dasar sundal. Silakan masuk,”

“Kau tidak ingin cerai?”

“Tidak. Kata Tuhan dalam Matius, Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Pernikahan adalah komitmen seumur hidup,” tandasku mantap.

“Cerai saja. Kau belum punya anak. Aku akan punya anak.”

“Tuhan membenci perceraian. Dan kau tidak akan punya anak.”

“Maksudmu?”

Aku tersenyum saja sambil meminum teh panasku. Ia tak enak sendiri melihatku.

“Minum dulu,” suruhku.

Ia meminum tehnya.

“Sampai habis,” imbuhku.

Kemudian ia pamit pulang ke Mas Bimoku tersayang.

“Hati-hati di jalan, Ndal. Semoga Tuhan mengampunimu,” salamku.

15 langkah ia berjalan, aku berlari kencang sambil membawa pisau tajam. Ia menoleh. Kutusuk perutnya berkali-kali. Ia merenggut kematian yang lama nan menyakitkan dengan ikhlas. Ibu melihat wajahku yang puas dari kejauhan. Ia mendekat dan menghela napas panjang. Ia tenteng belanjaannya menuju rumah.

Setelah si Sundal benar-benar mati, kukuliti seluruh kulit di tubuhnya. Kukuliti juga kulit kepalanya yang tertanam rambut ijuk itu. Kuambil kulit tangannya. Tak lupa kucabuti gigi-giginya. Yang terpenting, kuambil wajahnya yang kusut itu.

Aku membawa kulit sang Sundal menuju ke rumah. Ibu melihatku dengan sedih. Namun ia paham. Meski kecewa, sorot matanya memahamiku. Kubersihkan kulit itu, kucuci, kugantung dalam lemari.

Kelak ketika Mas Bimo ke rumah, akan kupakai kulit sundal itu layaknya baju. Kulit tangannya menjadi sarung tanganku. Rambut ijuknya yang kusut menjadi wig. Gigi-giginya kujadikan perhiasan kalung. Wajahku menjadi wajahnya. Tak cantik. Tapi tak apa. Ah, tak lupa kupakai sepatu hak tinggi. Kita akan berfoto bersama. Sebuah keluarga besar yang bahagia. Mas Bimo, aku yang akhirnya menjadi wanita impiannya, Ibu, dan Bapak pecinta janda.

Show More
Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: