Hukum dan Kriminalitas

Pembunuh Begal Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana, Kok Bisa?

INDONESIAONLINE – PK (Pembimbing Kemasyarakatan) Madya Bapas (Balai Pemasyarakatan) Malang, yang turut dilibatkan dalam proses persidangan perdana ZA (inisial) pelaku pembunuhan begal, memiliki pandangan tersendiri saat menilai kasus yang dialami remaja belasan tahun tersebut.

Dijelaskan Indung Budianto selaku PK Madya Bapas Malang, pisau yang digunakan untuk membunuh pelaku begal bisa saja memberatkan ZA. ”Meski perbuatan pembunuhan yang dilakukan ZA karena membela diri, untuk melindungi dirinya maupun teman wanitanya. Namun pisau yang digunakan untuk membunuh pelaku begal adalah milik ZA, pisaunya diambil dari dalam jok sepeda motornya. Apalagi pisaunya sudah disimpan lama di dalam jok, nah itu yang bisa saja memberatkan ZA saat persidangan,” kata  Indung saat ditemui kami, usai persidangan perdana berlangsung.

Seperti yang sudah diberitakan, ZA diagendakan menjalani persidangan perdana pada Selasa (14/1/2020) pagi. Dalam sidang tersebut, JPU (Jaksa Penuntut Umum) memutuskan jika agendanya adalah pembacaan dakwaan.

Dalam persidangan tersebut, Kristriawan selaku JPU membacakan dakwaan terhadap ZA dengan pasal berlapis. Sedikitnya ada 4 pasal yang dibacakan saat proses persidangan di PN (Pengadilan Negeri), Kepanjen berlangsung.

Keempat pasal tersebut meliputi pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman kurungan penjara seumur hidup, pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian dengan ancaman maksimal 7 tahun, pasal  338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan penjara, dan pasal 2 ayat 1 Undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 tentang kedapatan membawa sajam (senjata tajam).

Terkait dakwaan tersebut, kuasa hukum ZA yang beranggotakan lima orang pengacara bakal mengajukan eksepsi (keberatan). Kuasa hukum ZA yang dikoordinatori oleh Bhakti Riza Hidayat ini, bakal mengupayakan agar majelis hakim bersedia mengambil keputusan sesuai dengan pasal 49 dan 50 KUHP. Yakni tentang pembenaran dan pemaaf.

”Agenda keberatan akan disampaikan pihak pengacara ZA pada Rabu (15/1/2020) besok. Kami (Bapas) akan terus mendampingi kasus ini, harapannya ZA jangan sampai dipenjara,” terang Indung.

Upaya yang dilakukan agar ZA tidak dipenjara ini, Bapas dan kuasa hukum pelaku pembunuhan begal tersebut, beranggapan jika yang bersangkutan masih berstatus pelajar. Bahkan pada pertengahan tahun 2020 mendatang, salah satu pelajar SMA di wilayah Kecamatan Gondanglegi tersebut dijadwalkan bakal menempuh ujian akhir sekolah. ”Kami memberikan rekomendasi kepada hakim agar ZA tidak dipenjara, melainkan dibina,” sambungnya.

Indung merekomendasikan agar remaja yang saat ini berusia 18 tahun tersebut, bisa dibina di suatu lembaga Pondok Pesantren (Ponpes) yang ada di wilayah Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. ”Disana (Ponpes) selain dibekali ilmu agama, juga ada sekolahnya. Jadi ZA tidak sampai kehilangan masa depannya karena kasus ini. Selain itu kami juga berharap agar ZA masih bisa mengikuti ujian akhir, jadi bisa sampai lulus sekolah,” ucapnya.

Rekomendasi yang diberikan kepada majelis hakim tersebut, menurut Indung sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Yakni yang tertera dalam pasal 71 ayat 1 dalam Undang-undang SPA (Sistim Peradilan Anak). ”Kami akan terus kawal kasus yang dialami ZA,” tegasnya.

Indung menambahkan, jika selama proses persidangan berlangsung, ZA tidak menjalani masa penahanan. Selain masih berstatus pelajar, pertimbangan lainnya juga karena saat kejadian pembunuhan begal terjadi ZA masih berusia di bawah umur.

”Meski saat ini ZA sudah menikah dan punya satu anak, namun berdasarkan Undang-undang dia masih masuk dalam kategori anak dibawah umur. Sebab saat kejadian, ZA masih berumur 17 tahun 8 bulan,” tutup Indung.

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close