Politik

Seniman Anto Baret Singgung Para Koruptor Malang Raya di Konvensi Bacawabup Malang Jejeg

Budayawan dan seniman Malang Anto Baret, yang kini merapat di barisan Malang Jejeg, memberikan hentakan-hentakan kecilnya dalam orasi budaya di konvensi bakal calon (balon) wakil bupati (wabup) untuk tandem sang calon bupati dari jalur independen, Hari Cahyono.
Diawali dengan pembacaan puisi yang menggelora dalam menyikapi pandangannya atas Indonesia dan Kabupaten Malang secara spesifik, Anto Baret memberikan warna lain di konvensi balon wabup Malang Jejeg yang diikuti 12 peserta ini.

“…lantaran takut penjahat diagungkan. Otak cacingan dijadikan pimpinan. Busana mahal dikibarkan, wanita dijadikan tontonan…sejarah hanya jadi umpatan,” ucap Anto membacakan puisinya, Rabu (15/1/2020) di salah satu hotel di Kepanjen.

“Aku bangsa Indonesia, kamu bangsa Indonesia. Kami semua cinta Indonesia,” lanjut Anto dengan hentakan-hentakan tangannya di hadapan calon bupati Malang Jejeg Hari Cahyono, peserta konvensi, panelis, serta tamu undangan.

Cuplikan puisi Anto tersebut sebagai preambule (pembuka) dari akan digelarnya permufakatan atau kesepakatan dalam mencari calon wabup yang akan menjadi tandem Hari dalam Pilkada Kabupaten Malang 2020.

Tak hanya membacakan puisi. Sebagai bagian dari ‘pejuang’. sebutan bagi relawan Malang Jejeg,  Anto juga membahas pemaknaan jejeg yang menurutnya tegak lurus, tak miring dan doyong dalam berbagai konotasi yang dialami dan akan dihadapi ke depannya.

“Jejeg itu untuk jiwa dan juga raganya. Maka, Malang Jejeg ada juga dalam upaya ke sana. Sehingga saya yang sejak dulu tak pernah ikut-ikut (terjun ke politik praktis, red), tahun ini all-out,” ujarnya.

Sedikit alasan meluncur juga dari Anto saat dirinya berada di awal berdirinya Malang Jejeg. Selain menyebut karena adanya perkara kedzaliman dan tata kelola yang salah di Kabupaten Malang, dirinya secara sadar menceburkan dirinya melihat ‘keterpurukan masal’ di Malang Raya.

Anto menyebut, tiga kepala daerah Malang Raya telah masuk penjara semuanya. Pun dengan anggota DPRD Kota Malang yang berjamaah juga mendekam di jeruji besi. Kondisi itulah yang membuatnya sangat prihatin serta membuatnya terjun dan menjadi bagian dalam Malang Jejeg.

Padahal, lanjut Anto, masyarakat Kabupaten Malang diyakininya masih banyak yang memiliki hati nurani. “Hati nurani yang tak buta dan tuli. Ini yang patut diperjuangkan dan jangan sampai kasus korupsi kembali terjadi khususnya di Kabupaten Malang,” tegasnya.

Dia juga menyampaikan agar Malang Jejeg menjadikan mereka guru ke depannya. “Kita jadikan mereka (yang tersandung korupsi, red) guru. Sehingga Malang Jejeg tak tersandung kasus yang sama nantinya,” imbuh Anto yang juga menegaskan dirinya  tak memiliki kebencian apa pun kepada para koruptor secara pribadi.

Pria yang berambut gondrong ini pun menyampaikan bahwa Malang Jejeg perlu belajar kepada para kepala daerah tersebut. Selain  tak boleh kalah dengan topeng Malangan. Sebab, peninggalan nenek moyang itu mengajarkan bagaimana manusia hidup, yakni menatap ke depan.

“Jangan kalah dengan topeng Malangan yang matanya selalu menatap ke depan. Warisan itu mengajarkan kepada kita semua untuk menatap masa depan,” tandasnya. (dn/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close