Peristiwa

Tahu Nggak, Jilbab Sempat Dilarang Soeharto di Era Orde Baru

Seiring perkembangan zaman, kini mengenakan hijab bukan lagi hal yang kuno. Malah, sekarang ini hijab menjelma menjadi tren fashion yang mendunia. Saat ini, kita bisa dengan mudah menemukan hijaber-hijaber modis. Para selebritis Indonesia juga banyak yang mengenakan hijab. Selain itu, di pasaran banyak ditemukan berbagai jenis model hijab.

Kondisi seperti ini mustahil dirasakan di era Orde Baru. Sebab, Mantan Presiden RI Soeharto kala itu melarang penggunaan jilbab atau atribut-atribut keislaman di ranah publik.

Hal ini disampaikan oleh Dosen Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, Dr Merry Fridha Tri Palupi SSos MSi.

“1980 jilbab atau kerudung itu sudah mulai dikenal di kalangan muslim Indonesia. Tapi karena ada pergerakan politik kala itu, ketika Pak Harto, presiden kala itu, menentang tentang pemakaian jilbab atau atribut-atribut Keislaman di ranah publik, kemudian hijab itu dikekang,” beber Peneliti Kajian Perempuan tersebut.

Merry sendiri salah satu di antara orang yang merasakan pengekangan terhadap penggunaan jilbab kala itu. Saat itu ia masih duduk di bangku SMA. “Waktu itu ketika SMA coba-coba pakai kerudung. Masih pakai lepas. Ketika ebtanas (istilah ujian nasional kala itu) sama kepsek (kepala sekolah) dipanggil yang pakai jilbab. Kalau pakai jilbab waktu foto ijazah harus dilepas. Tapi beberapa teman saya yang istiqomah sampai nangis karena nggak mau dibuka,” kisahnya saat ditemui di Universitas Islam Malang (UNISMA).

Akhirnya, lanjut Merry, teman-temannya tersebut membuat surat pernyataan. Apabila tidak mau melepas jilbab maka harus menerima konsekuensinya, yakni ijazahnya tidak terpakai. “Jadi sampai sedemikian negara masuk ke dalam ruang-ruang pribadi,” imbuhnya.

Merry melihat, pemakaian jilbab atau pakaian apapun memang masuk dalam ruang-ruang pribadi. Namun, kala itu negara masuk ke dalam ruang-ruang pribadi, mengatur cara berpakaian perempuan-perempuan muslimah kala itu.

Hal ini ada kaitannya dengan feminisme. Bahwa feminisme melihat bahwa penggunaan pakaian sejatinya adalah kebebasan daripada individu sendiri. “Feminisme melihat bahwa penggunaan pakaian ini adalah milik pribadi/individu. Jadi negara tidak boleh ikut campur dalam urusan individu,” tegasnya.(Izz/Ay)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close