Pendidikan

Punya Kisah Sedih di Kos, Kasek SMKN 3 Boyolangu ini “Bayar Tuntas” dengan Kamus

Kepala sekolah SMK Negeri 3 Boyolangu, Muhari mengaku memiliki kisah sedih yang tak terlupakan saat dirinya mengenyam sekolah yang kini dipimpinnya. Kepala sekolah yang beberapa waktu ini menjadi pusat perhatian dalam pemberitaan lokal di Tulungagung lantaran kebijakannya terkait sumbangan dan berujung saling somasi antara Komite dan LSM itu mengisahkan jika dirinya merupakan alumni yang dulu kehidupannya kurang beruntung. “Ini tempat saya belajar dulu, saya adalah anak kos yang pernah punya pengalaman sedih,” kata Muhari, Rabu (15/01) siang.

Pengalaman sedih yang dimaksud adalah saat dirinya menjadi anak kos, saat itu (tanpa menyebut tahun) sebagai siswa Muhari senang membaca kamus Bahasa Inggris-Indonesia. “Teman saya yang dari keluarga orang kaya ini satu kamar dengan saya, dia punya kamus dan setiap hari saya meminjam untuk saya baca,” ujar Hari.

Karena menjadi rutinitas, Muhari mengisahkan jika tak ada hari tanpa membaca kamus milik temannya itu saat di bilik kos yang ditempati. “Suatu ketika saat saya pulang sekolah, kamus yang biasa saya baca ini tidak ada di kamar kos. Saya tanya pada teman saya katanya tidak tau,” ungkapnya.

Usut punya usut, kamus yang dicintai itu rupanya dibawa pulang oleh teman satu kos itu dan tidak pernah dibawa kembali. “Saya sangat sedih, dalam hati saya ingin suatu saat jika saya punya uang akan membeli kamus,” paparnya.

Ternyata, untuk membeli sebuah kamus yang diinginkan tidak mudah. Sampai akhirnya dirinya luluspun Muhari tak pernah dapat membeli kamus yang baginya sangat berguna dan diidamkan untuk dimiliki. “Baru setelah saya mulai bekerja, saya dapat membeli kamus. Mulai saat itu, saya mempunyai semacam inspirasi bahwa salah satu cara yang dapat membahagiakan saya adalah memberikan kamus bagi siswa saya,” terangnya.

Akhirnya, Muhari yang kemudian menjadi seorang pendidik di sekolah sering membeli kamus dan kemudian diberikan pada siswanya. “Sebelum di sekolah sini, saya juga sering memberi hadiah pada siswa saya, bukan pada anak yang berprestasi namun bagi siapapun dia yang saya anggap layak saya beri,” kata Muhari.

Saat dirinya memberi sambutan atau motivasi, biasanya bagi siswa yang mau bertanya akan diberikan hadiah berupa kamus. “Orang yang sering membaca apalagi belajar bahasa inggris adalah orang yang punya kemauan kuat untuk pintar,” tandasnya.

Saking banyaknya, Muhari tidak dapat menghitung secara pasti berapa jumlah kamus yang telah dihadiahkan pada siswa yang dianggapnya tepat untuk mendapatkan. “Jumlah (kamus) pastinya tidak tau, tapi lebih dari Dua puluh kamu yang sudah saya berikan,” pungkas pria yang ini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMK Negeri 3 Boyolangu itu. (As/Ay)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close