Pendidikan

Gara-Gara Media Pembelajaran Ini, Guru SD di Kabupaten Malang Raih Juara Inobel

Vitiarti (51) seorang guru sekolah dasar (SD) Negeri 2 Kalisongo, Dau, telah banyak menghabiskan waktunya sebagai pendidik yang juga ‘peneliti’.

Diangkat  menjadi guru sejak 1993 silam, dengan kualifikasi D2-PGSD serta mengajar di SDN di Kabupaten Pamekasan.

Vitiarti tak ingin hanya menjadi ‘sekadar’ guru yang biasa-biasa saja.

Vitiarti pun kembali ke bangku kuliah untuk menyelesaikan  S2 Dikdas dengan biaya dari beasiswa P2TK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Karena dirinya paham, pendidikan akan terus beriringan dengan zamannya.

Perubahan-perubahan juga menjadi keniscayaan yang harus dihadapi dan dijawab oleh para pendidik dalam menjalankan tugasnya, mencerdaskan anak bangsa di tengah perubahan yang semakin cepat.

Sedangkan, persoalan-persoalan dasar belajar mengajar di berbagai lembaga pendidikan dasar pun masih berkutat pada persoalan yang terbilang klasik.

Khususnya ‘alergi’ para pelajar terhadap mata pelajaran matematika.

Kondisi ini pula yang diamati Vitiarti selama ini. Peraih juara kedua guru berprestasi se-kabupaten Malang di tahun 2016 lalu ini pun mulai melakukan berbagai eksperimennya untuk menjembatani persoalan klasik itu.

Maka, lahirlah “Caping Gunung” atau Capung dan Gantas Bilat (Gantungan Tugas Bilangan Bulat) sebagai media pembelajaran kreatif dalam pelajaran matematika.

“Dua media itu yang saya kembangkan dalam menjawab  kesulitan siswa memahami penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat selama ini. Alhamdulillah setelah dipraktekkan, siswa lebih antusias mengikuti pelajaran,” ucap Vitiarti.

Antusiasme siswa menjadi dasar penting dalam proses belajar, khususnya terkait beberapa mata pelajaran yang menjadi momok turunan di sekolahan sampai saat ini seperti matematika.

Hal ini yang ditangkap secara jeli oleh peraih juara harapan 1 Anugerah Konstitusi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 2016 lalu.

Sehingga dalam proses pembuatan media ajar berikut pemanfaatannya dilakukannya dengan pola learning by doing. Atau pembelajaran dengan sistem belajar dan melakukan, bukan dengan pola text book yang selama ini terjadi.

Vitiarti mengajak siswa terlibat langsung dalam pembuatan medianya yang memanfaatkan bekas kardus kue dan caping gunung, memahami konsep media ajar hingga menerapkannya pada soal latihan.

“Keterlibatan langsung siswa ini membuat mereka antusias dan bahkan saat ini mampu membuat sendiri soal latihan untuk dipecahkan bersama-sama di kelas,” urainya yang juga menambahkan, mata pelajaran matematika menjadi momok selama ini dikarenakan sifatnya yang abstrak.

“(Konsep) matematika itu kan abstrak, jadi harus dikonkritkan dulu melalui penggunaan media ajar. Karena itu memang membutuhkan banyak inovasi untuk itu,” imbuh Vitiarti.

Keberhasilan penciptaan media ajar matematika yang membuat siswa antusias dan tak lagi takut berhadapan dengan berbagai soalnya, membuat Dinas Pendidikan Kabupaten Malang pun mengganjar inovasi yang ditelurkan Vitiarti sebagai juara pertama dalam lomba inovasi pembelajaran (Inobel) 2019 jenjang SD.

Seperti diketahui, Dinas Pendidikan Kabupaten Malang terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan di wilayahnya.

Tak hanya menyasar para siswa juga mendorong para guru, baik di jenjang TK sampai SMP, untuk terus melahirkan inovasi kreatif dalam proses belajar mengajar.

Dorongan itu diwadahi dalam Inobel Guru Tingkat Kabupetan Malang.

Hasilnya cukup mengejutkan dengan lahirnya berbagai inovasi kreatif dari para guru di Kabupaten Malang ini.

Caping Gunung dan Gantas Bilat adalah yang jadi  terbaik dalam Inobel Dinas Pendidikan Kabupaten Malang jenjang SD.

Selain berbagai inovasi lainnya di jenjang TK hingga SMP yang dilombakan sejak 2019 lalu.

Vitiarti yang sudah banyak melahirkan karya ilmiah pengembangan profesi selama ini pun semakin termotivasi dengan raihan dalam Inobel tingkat Kabupaten Malang itu.

Dimana, dirinya menyampaikan, akan semakin menyempurnakan dua karya yang dirintisnya sejak beberapa tahun silam untuk  lomba Inobel tingkat nasional yang diselenggarakan Kemendikbud 2020 ini.

“Karya media ini termasuk hasil penelitian penemuan. Saya akan siapkan untuk Inobel nasional mendatang, termasuk video best-practice penerapannya saat pembelajaran,” ucap lulusan S2 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Malang ini.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang Rachmat Hardijono, memberikan apresiasi  atas kegiatan positif yang  sangat mendukung berbagai kegiatan dalam meningkatkan proses dan kualitas belajar mengajar di berbagai lembaga pendidikan di wilayahnya.

“Kami sangat mengapresiasi segala kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Apalagi di era saat ini, pendidik memang didorong untuk terus berinovasi dan berkreasi dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.

Tantangan berat dunia pendidikan, lanjut dia, memang membutuhkan kreativitas yang menghasilkan berbagai inovasi dalam mempermudah pencapaian tujuan dari pendidikan itu sendiri.

“Pola pembelajaran saat ini tentu berbeda dengan masa lalu. Karena itu, para guru memang harus terus meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya dalam mengajar. Inobel bisa jadi satu ruang untuk menumbuhkan hal itu,” tandas Rachmat.(dn/ery)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close