Politik

Pasangan Bakal Calon Jalur Independen Terbentuk, Kapan Pasangan Parpol?

Pilkada serentak 2020 di Kabupaten Malang terkesan landai di permukaan. Riak-riak yang sempat ramai saat masyarakat dan partai politik (parpol) membuka pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati, kembali meredup. Bahkan, target lahirnya rekomendasi pasangan calon (Paslon) yang diusung oleh parpol di Januari 2020 ini, tak nampak dipermukaan.

Misalnya, calon yang akan diusung oleh PDI-Perjuangan. Parpol pertama yang membuka pendaftaran balon serta memastikan Januari telah turun rekomendasi dari DPP Pusat, tak terealisasi. Hal ini tak dibantah oleh Ketua DPC PDI-Perjuangan Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto yang menyampaikan kepada media, rencana mengumumkan calon yang diusungnya ditunda. “Untuk itu (pengumuman rekomendasi, Red) ditunda karena ada faktor lain yang lebih diutamakan oleh partai,” ucapnya, Kamis (16/1/2020).

Seperti diketahui, calon dari banteng moncong putih telah disepakati oleh seluruh kader di Kabupaten Malang ke Sri Untari Bisowarno yang merupakan Sekretaris DPD PDI-Perjuangan Jawa Timur (Jatim). Untuk pengesahannya sebagai calon, direncanakan seusai Rakernas sekaligus hari jadi PDI-Perjuanhan ke-47 di Jakarta, beberapa hari lalu.

Rakernas yang juga dirundung dengan adanya peristiwa yang menghebohkan terkait operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap komisioner KPU, Wahyu Setiawan serta kader PDI-Perjuangan. Peristiwa yang melebar dan meluber ke arah berbagai dugaan adanya keterlibatan Sekjen PDI-Perjuangan Hasto Kristiyanto.

Lepas adanya peristiwa itu menjadi faktor atau tidaknya penundaan rekomendasi calon para kepala daerah, khususnya di Kabupaten Malang. Didik Gatot memang menyampaikam, di Rakernas tak dibahas terkait hal itu. “Di situ (Rakernas, red) hanya dibahas tugas keseluruhan partai. Terkait rekom kewenangan DPP, prinsipnya kami tegak lurus dengan keputusan itu,” ujarnya.

Tak hanya PDI-Perjuangan yang akhirnya menunda pengumuman calon yang akan diusungnya itu. PKB sebagai parpol dengan raihan kursi yang sama dengan PDI-Perjuangan yaitu 12 kursi di DPRD, setali tiga uang. Belum ada tanda-tanda bahwa calon yang digadangkannya yaitu yang jatuh ke Sanusi, akan mendapat rekomendasi dan diumumkan ke publik. Pun, berbagai parpol lainnya yang memiliki kans mengusung paslonnya, walau harus berkoalisi. Seperti Golkar dengan Siadi yang juga bulat diusung oleh seluruh kader beringin Kabupaten Malang. Maupun parpol lain yang membuka pendaftaran balon, seperti Gerindra, NasDem, dan PPP yang terkesan menunggu adanya penetapan calon dari PDI-Perjuangan.

Berbeda dengan di jalur independen. Gerakan Malang Jejeg yang telah lama mendeklarasikan calon bupatinya yaitu Hari Cahyono, telah merampungkan pemilihan calon wakil bupatinya melalui konvensi, Kamis (16/1/2020). Sehingga untuk jalur independen ini, paslonnya telah siap untuk diberangkatkan dan didaftarkan ke KPU setelah beberapa syarat administrasi terlengkapi. “Mungkin tiga pekan setelah ini kita lengkapi seluruh administrasi untuk pendaftaran paslonnya. Waktu itu belum bisa karena kami belum ada calon wabup-nya. Sedangkan untuk syarat fotocopy e-KTP masyarakat sudah terpenuhi,” ujar Hari.

Walau secara tahapan Pilkada 2020, pendaftaran Paslon ke KPU dimulai bulan Juni 2020. Tapi kepastian rekom tentunya menjadi hal yang ditunggu oleh para balon yang mendaftar di berbagai parpol di Kabupaten Malang. Pasalnya, durasi waktu penetapan Paslon dan kampanye hanya sekitar 3 bulan (Minggu pertama Juli-Pertengahan September).

Waktu yang pendek bagi para balon dengan luasnya wilayah Kabupaten Malang untuk mencitrakan dirinya sebelum adanya tahapan larangan kampanye oleh KPU bagi para paslon. Maka, tak heran beberapa bacalon pun di waktu-waktu ini mulai bergerak memperkenalkan dirinya walau belum ada kepastian mendapat rekom dari parpol pengusungnya. Baik melalui banner-banner di berbagai jalan dan wilayah sampai pada kegiatan-kegiatan lainnya.

Kondisi ini cukup menguntungkan bagi calon bupati dari petahana. Dimana, waktu yang tersisa sampai tahap pendaftaran paslon masih bisa dipergunakan untuk terus memperkenalkan dirinya melalui berbagai program kerja pemerintahan. Konteksnya tentu bukan berkampanye, tapi menjalankan tugas sebagai kepala daerah. Maka, tugas keseharian sebagai bupati, secara langsung juga medium bagi calon dari petahana untuk mendekatkan diri dengan masyarakat Kabupaten Malang secara kontinyu. Apabila hal ini dimanfaatkan secara genius, maka para seteru yang diusung parpol lainnya nanti di pilkada 2020 akan cukup megap-megap untuk menguber popularitas calon dari petahana.

Sisi lainnya, interval cukup lama tak turunnya rekom pun bisa menjadikan para kader parpol atau para pendukung dan pengusung, misalnya, bisa bermain mata. Hal ini dimungkinkan, karena belum adanya kepastian dari pusat atas sosok yang diberi kepercayaan untuk berlaga di pilkada 2020. Sehingga membuat soliditas pun belum terbentuk dan mengerucut tajam ke salah satu sosok.
Ini telah terjadi di kubu PDI-Perjuangan yang telah bulat mengusung Sri Untari sebagai calon bupati. Tapi diterpa adanya kabar perpecahan di tingkat PAC, yakni adanya pertemuan kader dengan salah satu balon yaitu Hasan Abadi dalam sebuah kegiatan di Kafe Punden Jalan Mercoyo Gondanglegi, Minggu (12/1/2020) lalu.

Walau isu ini ditepis oleh Robit Ketua PAC Gondanglegi yang menyatakan tidak ada kamusnya PDI Perjuangan di Kabupaten Malang itu pecah. Terkait pertemuan dengan Hasan Abadi, tak ada sama sekali membicarakan politik apalagi soal dukung mendukung.
“Jadi itu isu hoaks. Kita membicarakan potensi, masalah dan peta kondisi pertanian, perikanan dan pariwisata. Tidak berbicara politik apalagi dukung mendukung balon. Kami solid, satu garis komando dengan kebijakan partai. Keputusan partai bagi kami harga mati,” tegas Robit yang juga dipertegas Susiono Sekretaris PAC Wajak, dan Yudi Ketua PAC Pagelaran.(dn/ay)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close