Peristiwa

Sedih Dirinya dan Prabowo Disebut Penakut, Luhut: Perang Itu Jalan Terakhir

Konflik perairan Natuna yang hampir direbut China sudah mulai mereda. Namun, peristiwa itu memunculkan kesedihan tersendiri bagi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Luhut sedih karena jadi korban perundungan (bully) bersama Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Menurut Luhut, dia dan Prabowo, yang sama-sama purnawirawan jenderal di TNI, di-bully sebagai penakut lantaran dianggap lembek dan tidak berani melawan China yang masuk serta mengklaim perairan Natuna sebagai miliknya.

Ungkapan Luhut itu dituangkan lewat akun Facebook-nya dengan judul “Teori Clausewitz tentang Perang”.

Di situ, Luhut menyebut perang merupakan jalan terakhir setelah diplomasi damai dikedepankan. “Perang adalah kelanjutan dari diplomasi dengan cara lain,” ujarnya mengutip Carl von Clausewitz dalam buku ‘On War (Vom Kriege).

Menurut Luhut, dalam banyak kasus di dunia, perang memang merupakan alternatif terakhir setelah jalur diplomasi atau perundingan menemui jalan buntu. Jadi, umumnya bukan perang dulu, baru berunding.

Dia mencontohkan, tahun 1962 Indonesia serius mempersiapkan diri untuk menyerbu Irian Barat (sekarang Papua) dengan kekuatan militer penuh. Tetapi wilayah tersebut akhirnya kembali ke pangkuan RI setelah proses perundingan diplomasi) antara Indonesia dengan Belanda. Tidak ada perang pecah antara keduanya.

Walau demikian, lanjut dia, tentu saja ada perang yang dilakukan begitu saja tanpa melalui perundingan dan diplomasi. Antara lain, sewaktu Adolf Hitler yang memulai menyerbu Ceko dan kemudian Polandia (1939) tanpa ada alasan jelas. Juga penyerbuan Kuwait oleh Iraq tahun 1990 yang kemudian menyulut terjadinya Perang Teluk.

“Berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah berakhirnya Perang Dunia 2 bertujuan mencegah meletusnya peperangan atau pertikaian bersenjata karena semua pihak yang bersengketa diminta merundingkannya di forum PBB atau dibahas di Dewan Keamanan PBB hingga ‘cara lain’ itu tidak sempat terjadi. Dan perdamaian tetap tegak,” ungkap dia.

Karena itu, dia sedih ketika ada situasi di Laut China Selatan atau Natuna belum lama ini, banyak suara yang mengusung kemungkinan pecah perang antara RI dengan China demi kedalauatan NKRI. Pemberitaan yang bermula dari informasi di media sosial tersebut kemudian menyulut kemarahan masyarakat karena ketidaklengkapan informasi atau ketidakpahaman mengenai beda antara ZEE (zona ekonomi eksklusif) dan laut teritori nasional. “Yang muncul adalah kemarahan atau rasa ketersinggungan yang besar,” kata Luhut.

Namun, di satu sisi Luhut memaklumi mungkin sikap tersebut mencerminkan kuatnya nasionalisme masyarakat. “Tetapi tentu tidak semua perselisihan atau pelanggaran peraturan internasional harus berakhir dengan pecahnya perang. Perang atau ‘cara lain’ itu tidak pernah menguntungkan siapa pun karena sesungguhnya tidak ada yang benar-benar memenangkan sebuah peperangan,” tandasnya.(red/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close