Pendidikan

71% Sarjana Bekerja Tak Sesuai Keilmuan, 87% Mahasiswa Salah Jurusan

Begitu banyak permasalahan pendidikan di negeri ini yang seakan tak pernah habis dibicarakan. Salah satunya adalah banyaknya mahasiswa yang salah jurusan.

Hal ini disampaikan Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI Dr Sukiman.

“Terkait dengan masalah bakat minat, sebuah hasil penelitian menyatakan bahwa 87 persen anak-anak kita yang mahasiswa mengaku bahwa jurusan yang diambilnya tidak sesuai minat,” ucapnya saat ditemui di Hotel Sahid Montana I, Sabtu (18/1/2020).

Sukiman menjadi keynote speaker Seminar Nasional Parenting Akbar “Talents Up Date 2020” yang digelar Sekolah Alam Avesiena. “Sementara 71 persen bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan sehingga terjadi kemubaziran,” imbuhnya.

Jadi, masalah ini termasuk ke dalam PR (pekerjaan rumah) besar yang juga harus diselesaikan. Terlebih lagi, melihat tantangan revolusi industri 4.0 karena ke depannya hanya sekitar 35 persen pekerjaan yang kemungkinan masih ada. “Yang sisanya, 65 persen, belum bisa dipastikan,” imbuh Sukiman.

Tak hanya pemerintah dan pendidik. Orang tua juga harus bisa memahami dan menyikapi ini. Orang tua harus bisa menemukan dan memotivasi minat dan bakat anak. “Tentu kita semua menginginkan anak-anak kita menjadi orang yang lebih berhasil dari berbagai aspeknya sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing,” katanya.

“Inilah tantangan kita semua sebagai orang tua. Bagaimana kita menggali dan mendorong bakat minat anak-anak kita, kemudian kita dorong dan kita motivasi,” imbuh dia.

Dengan begitu, diharapkan pada tahun 2045 nanti anak-anak bisa memiliki keterampilan abad 21. “Di antaranya adalah perlu kita asah anak-anak kita keterampilan berbahasa, berkomunikasi, numerasi, literasi sains, finansial, literasi budaya dan kewarganegaraan,” beber Sukiman.

Selain itu, kompetensi berpikir kritis  sangat diperlukan untuk anak nantinya. Maka dari itu, kepada para pendidik dan orang tua, Sukiman berpesan agar jangan sampai mematahkan sikap kritis anak.

“Kalau anak-anak ndedes, tanyanya detail, itu jangan disalahkan, jangan dipatahkan. Sudah tidak zamannya lagi,” pesannya.

Tak lupa, karakter juga perlu dibangun. Terutama terkait dengan karakter moral, seperti baik, jujur, ramah, dan sebagainya. “Dan juga, karakter kinerja yang tidak kalah penting. Jadi, jangan sampai dia baik tapi malas. Harus punya etos kerja yang tinggi, harus punya daya saing dan daya tahan. Ini harus kita tanamkan sejak dari dini,” tandasnya. izz/hel

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close