Hiburan, Seni dan Budaya

Bentuk Komunitas, Ibu-Ibu di Blitar Lestarikan Kebaya

Kebaya yang diakui sebagai busana identitas nasional bangsa Indonesia terus mendapatkan perhatian dari pihak-pihak di berbagai daerah. Kali ini di Blitar, sejumlah perempuan mendeklarasikan Komunitas Berkebaya Nusantara Blitar Raya (KBNB) di aula Kantor Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar, Minggu (19/1/2020).

Seluruh anggota komunitas ini hadir di acara ini. Mereka datang dengan mengenakan kebaya dan kain sarung tradisional. Sebagian lagi memilih kebaya kasual yang dipadupadankan dengan aksesori kekinian.

Acara ini diisi dengan doa dan tasyakuran. Kegiatan ini semakin meriah dengan lomba fashion show dan hiburan musik keroncong dan campursari.

Turut hadir di acara ini, jajaran pengurus KBNB, yakni Endang “Gutin” Werdiningsih (ketua umum), Siti Afi (ketua), Herni Yunita (sekertaris), dan Ibu Menil (bendahara).

“Komunitas kami ini baru dan masih rintisan. Tujuannya melestarikan budaya nenek moyang kita, yakni kebaya,” ungkap Ketua Umum KBNB Endang “Gutin” Werdiningsih.

Dikatakan Ibu Gutin, Komunitas Berkebaya Nusantara Blitar Raya (KBNB) merupakan organisasi yang keanggotaannya terbuka bagi siapa saja. Artinya, siapa pun yang ingin melestarikan kebaya boleh bergabung dengan perkumpulan ini.

“Ke depan kegiatan kami akan banyak, seperti bakti sosial. Kemudian kegiatan-kegiatan sosial-budaya serta program pelestarian. Kami ingin kebaya sebagai warisan leluhur kita ini tidak punah ditelan zaman. Kami ingin menanamkan mind set, ke mana pun dengan berkebaya, bisa tetap cantik,” ungkapnya.

Lebih dalam di kesempatan ini, Ibu Gutin juga berharap agar kalangan perempuan dari generasi muda untuk tidak malu berbusana kebaya. Menurut dia, kebaya merupakan warisan besar leluhur bangsa Indonesia yang harus terus dilestarikan. Salah satu pelestarian itu ialah dengan berbusana kebaya. “Warisan nenek moyang ini ayo bersama-sama kita lestarikan,” tandasnya.

Dilansir dari Wikipedia, kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan wanita Indonesia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung, batik, atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni.

Sekitar tahun 1500-1600, di Pulau Jawa, kebaya adalah pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan Jawa. Kebaya juga menjadi pakaian yang dikenakan keluarga Kesultanan Cirebon, Kesultanan Mataram, dan penerusnya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Selama masa kendali Belanda di pulau itu, wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Selama masa ini, kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni. Pakaian yang mirip yang disebut “nyonya kebaya” diciptakan pertama oleh orang-orang peranakan dari Melaka. Mereka mengenakannya dengan sarung dan sepatu cantik bermanik-manik yang disebut “kasut manek”.

Kini, nyonya kebaya sedang mengalami pembaharuan dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. Variasi kebaya yang lain juga digunakan warga berdarah Tionghoa Indonesia di Cirebon, Pekalongan, Semarang, Lasem, Tuban dan Surabaya. (ar/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close