Pemerintahan

Kabupaten Malang Mulai Operasikan Seismograf Pendeteksi Gempa dan Tsunami

Kabupaten Malang berada di urutan kedua di Jawa Timur (Jatim) sebagai wilayah rawan bencana. Selain dikarenakan faktor topografinya, wilayah peninggalan kerajaan Singhasari ini memang terbilang lengkap dalam urusan bencana alam. Mulai banjir, longsor, angin puting beliung, gempa, potensi tsunami, rob serta jenis bencana alam lainnya.

Kondisi itulah yang membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang terus menguatkan kesiapsiagaan masyarakatnya dalam menghadapi bencana alam. Hingga Maret 2019, Pemkab juga mengklaim telah terbentuk 34 Desa Tangguh Bencana dari total 378 desa yang ada.

Selain itu, Pemkab Malang berupaya menggeser pola disaster respon atau reaksi bencana terbatas menjadi risk reduction yang secara komprehensif mengurangi risiko bencana melalui peningkatan kesiapsiagaan.

Hal ini pula yang ditegaskan oleh Bupati Malang Sanusi. “Dengan posisi dan kondisi wilayah kita ini, maka diperlukan upaya merubah paradigma penyelenggaraan penanggulangan bencana. Dari Disaster Respon menjadi Risk Reduction,” ucapnya, Selasa (21/1/2020).

Satu hal yang diupayakan dalam mengubah hal itu adalah dengan dipasang dan diresmikannya Sensor Seismograph Gedangan Jawa Indonesia ke dalam sistem peringatan dini tsunami Indonesia tahun 2020 di Balai Dusun Umbulrejo, Desa Sidodadi, Kecamatan Gedangan, Senin (20/1/2020) kemarin.

Keberadaan sensor seismograf inilah yang nantinya akan menjadi pelengkap dalam penanggulangan bencana alam khususnya gempa dan tsunami di wilayah terluas kedua di Jatim.

“Sensor ini menjadi salah satu upaya pengurangan risiko bencana dan upaya menuju Kabupaten Malang yang tangguh, berkelanjutan dalam mengintegrasikan langkah kesiapsiagaan dan pengurangan risiko bencana. Khususnya dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami bersama-sama dengan masyarakat,” ujar Sanusi.

Tak hanya berguna untuk masyarakat di wilayah selatan yang dipenuhi pantai, masyarakat Kabupaten Malang secara umum pun dapat merasakan manfaatnya. Sensor seismograf ini juga menjadi alat deteksi dini untuk mengetahui gejala bencana alam yang akan terjadi di Kabupaten Malang.

“Kita tak menutup mata, bahwa seluruh wilayah di Kabupaten Malang memiliki potensi bencana alam. Walau alat ini untuk deteksi tsunami, tapi juga sebuah perangkat yang mengukur dan mencatat gempa bumi,” lanjut pria asal Gondanglegi ini.

Dari kerja alat itulah, pihak-pihak terkait akan secara sigap dan cepat menginformasikan bencana alam gempa atau tsunami kepada masyarakat.

“Untuk itu masyarakat pun terus dilatih oleh Pemkab melalui BPBD terkait mitigasi. Sehingga saat ada infomasi itu, masyarakat bisa lebih tanggap untuk menyelamatkan diri,” ucap Sanusi. Dia juga meminta kepada masyarakat untuk ikut serta menjaga dan  merawat alat tersebut, sehingga fungsinya dapat terus terjaga.   (Dn/Lnr)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: