Pemerintahan

Bantah Ada Calo Urus KTP-El, Kadisdukcapil Tulungagung : Kami Dapat Penghargaan Nasional

Antrean di Dinas Kependudukan dan Catatan sipil (Disdukcapil) Kabupaten Tulungagung menuai banyak keluhan dari masyarakat. Selain jam antrean ditutup pagi sekitar jam 08.00 wib hingga jam0 9.00 wib, yang sudah antrie sejak pagi hari harus menunggu hingga sore hari untuk mendapatkan blanko KTP-Elektronik.

Menanggapi hal itu, Kepala dinas Disdukcapil Tulungagung Justi Taufik menjelaskan jika antrean terjadi lantaran pemegang Surat Keterangan Pengganti KTP (Suket) di Tulungagung sebanyak hampir 50.000. “Sementara jumlah blanko yang diberikan pada Kabupaten Tulungagung masih sangat kurang,” ujarnya.

Justi memberikan jumlah data perekaman E-KTP per tanggal 21 Januari 2020 ini, untuk  perekaman sebanyak 87 Pemohon, sedangkan pencetakan KTP Elektronik sebanyak 956 dan untuk status PRR atau Print Ready Record sebanyak  13528. Sedangkan yang berstatus Save For Enrollmen (SFE) sebanyak 388 dan untuk sisa surat keterangan (Suket) yang belum di tukar menjadi KTP sebanyak 47269, namun sisa blanko yang tersedia hanya tinggal 8221 saja.

“Coba bisa dibayangkan, bagaimana kami membuat pelayanan cepat sementara blanko yang ada sering habis dan terlambat. Padahal setiap hari kami lakukan evaluasi,” tuturnya.

Pihaknya membantah jika ribetnya pengurusan KTP-El di Kabupaten Tulungagung membuka peluang praktek percaloan. Namun di akui Justi, banyak pihak yang kenal dengan dirinya meminta tolong agar proses untuk mendapatkan Blanko KTP-Elektronik tanpa antre. “Selama kelengkapan administrasi sudah sesuai saya pikir tidak ada alasan saya tidak membantu, tidak ada calo,” terang Justi.

Lanjutnya, jika dirinya membantu pengurusan mendapatkan Blanko KTP-Elektronik tidak juga menarik biaya alias gratis. “Meski tidak antre, blanko yang dititipkan ini tidak bisa langsung jadi. Biasanya kita minta agar diambil besoknya dan semua tidak kami tarik biaya,” paparnya.

Jika memang kemudian ada orang yang melakukan praktek percaloan dan mengambil keuntungan dengan menarik biaya menurut Justi hal itu bukan menjadi urusannya. “Makanya kita instruksikan agar masyarakat mengurus sendiri data Kependudukan, tidak melalui orang lain,” tandasnya.

Pelayanan yang dilakukan di Tulungagung menurutnya sudah lebih baik dari Kabupaten lain di Jawa Timur, bahkan atas kinerja yang dilakukan Disdukcapil Tulungagung pernah  mendapatkan penghargaan tingkat nasional tentang pelayanan publik terbaik tahun 2019 lalu. “Kita ini pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional, jadi jika dibanding daerah lain kita sudah bisa melaksanakan one day service,” ungkap Justi.

Pihaknya mengapresiasi program Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang telah meluncurkan Anjungan Dukcapil Mandiri (ADM). Alat yang mampu mencetak 24 jenis dokumen kependudukan ini merupakan terobosan Kemendagri untuk mendigitalisasi layanan Kependudukan dan diharapkan segera dapat diterapkan di Tulungagung. “Nanti akan diterapkan di kantor Disdukcapil dan di Ngunut, belum di semua kecamatan,” kata Justi.

ADM yang berbentuk mirip mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) ini akan mampu mencetak Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP), akta kelahiran, hingga kartu keluarga dalam hitungan menit.

Sebelumnya, diberitakan antrean panjang warga mengurus KTP-El ini menjadi sebuah pemandangan di Kantor Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Tulungagung, Rabu (22/01).

Antrean panjang ini sebenarnya sering terjadi, namun saking banyaknya warga yang datang, meski jam kerja masih menunjukkan jam 8.00 wib lebih sedikit atau belum jam 09.00 wib, antrean dinyatakan tutup. “Saya diminta kembali besok, jam kerja masih tapi ternyata saya harus antri sejak pagi,” kata Lukman, warga yang kecewa karena dirinya tidak mendapatkan nomor antrean.

Lukman tidak sendiri, puluhan orang yang datang siang juga harus balik kanan karena tidak mendapat nomor antrean untuk menukarkan surat keterangan (suket) ke KTP-El nya.
(ana/yah)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close