Hukum dan Kriminalitas

Tak Hanya Sabu, Polisi Juga Ringkus Pengedar Obat Penenang di Tulungagung

Dalam kurun waktu 1 hingga 22 Januari 2020, satreskoba Polres Tulungagung berhasil mengamankan 31 tersangka dari 20 kasus narkoba.

Selain sabu, pihak kepolisian juga mengungkap penyalahgunaan obat penenang jenis Alprazolam dan Alganax.

Kedua obat itu biasanya diperuntukan bagi orang yang mengalami sulit tidur dan gelisah. Pembelian obat ini pun juga harus menggunakan resep dokter. Para pelaku berhasil memperoleh obat ini dengan memeriksakan diri ke dokter dengan berpura-pura mengalami sulit tidur dan gelisah.

Pelaku yang diamankan dalam penyalahgunaan obat penenang ini adalah Heru Suyoko (40) warga Desa Batangsaren, Kecamatan Kauman dengan barang bukti 16 butir Alganax, satu butir  Alprazolam; serta Khoirul Anam (35) warga Kelurahan Sembung, Kecamatan Tulungagung dengan barang bukti 37 pil Alprazolam.

“Kami sudah menangkap lima tersangka pengedar psikotropika dengan modus ngakali dokter,” terang Suwancono.

Setelah mendapatkan obat yang dimaksud, para pelaku tidak mengkonsumsinya, namun dijual kembali. Harga satu lembar obat inin sekitar 140 ribu isi 10 butir. Dari penjualan obat ini, pelaku bisa meraup keuntungan hingga 100 ribu per lembar.

Karena resep tidak bisa dikopi, maka para tersangka pindah lagi ke dokter lain untuk mendapatkan resep yang sama.

“Modus ini sudah kami baca sejak lima bulan lalu dan gencar kami lakukan penindakan,” sambung Suwancono.

Setelah mengetahui modus itu, pihak kepolisian akhirnya meningkatkan pengawasan peredaran obat ini di Apotik.

Akhirnya para pelaku mulai memindahkan operasinya di pinggiran kota, bahkan ada yang hingga kota tetangga seperti Kediri, Blitar dan Trenggalek. Setelah mendapat obat penenang itu, mereka menjualnya di wilayah Tulungagung.

“Dari yang pernah kami tangkap, ternyata resepnya dari dokter Kediri, nebus obatnya juga dari Kediri,” ungkap Suwancono.

Dari lima tersangka yang pernah ditangkap, semuanya adalah residivis. Karena itu Suwancono menduga, modus pura-pura sakit demi mendapatkan obat penenang ini akan selalu diulang.

Pihaknya mengaku sudah berbicara dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI), agar para dokter lebih selektif dalam memberikan obat penenang.

“Kalau ada pasien dengan keluhan gelisah dan sulit tidur, saya minta untuk di dalami. Jangan sampai hanya modus para pengedar psikotropika,” pungkas Suwancono.
(jp/ery)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: