Peristiwa

Kota Malang Atasi Banjir lewat Sumur Injeksi dan Drainase

Program Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dalam upaya memerangi sampah dan banjir melalui GASS (Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen) terus berjalan. Kegiatan yang di-launching pada 27 Desember 2019 lalu ini memang menjadi agenda rutin setiap Jumat bersih-bersih di aliran sungai di Kota Malang.

Kali ini, sasarannya wilayah Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen. Dimulai dari kawasan Taman Makam Pahlawan (TMP) Suropati di Jl Ciamis, kemudian menyasar ke Jl Cianjur dan di wilayah Jl Bogor.

Sinergitas dari instansi Pemerintahan Kota Malang, mulai dari Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), ASN Kecamatan Klojen, masyarakat dan yang lainnya bahu-membahu melakukan kerja bakti pembersihan saluran drainase, Jumat (24/1).

Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko menyatakan, upaya untuk menanggulangi banjir dan memerangi sampah memang tidak bisa sepenuhnya langsung bisa terselesaikan dalam sekejap. Namun, perlu gerakan masif juga dari masyarakat Kota Malang.

Persoalan penanganan banjir harus terselesaikan satu per satu. Ia meminta kepada tim satgas dan lainnya dalam kegiatan GASS untuk diselesaikan setiap permasalahan yang ditemui di lapangan.

“Kami ingin menuntaskan satu per satu persoalan banjir, persoalan sedimen, dan persoalan sampah. Dari kegiatan ini, saya sampaikan untuk terus digerakkan. Sehingga, ini gerakan masif yang terencana dengan baik, didukung juga dinas pekerjaan umum untuk menemukan solusi-solusi lanjutan dalam menganani masalah itu secara permanen,” ungkapnya.

Terlebih, saat ini Pemkot Malang tengah berupaya untuk mengatasi persoalan banjir dengan pembuatan peta zonasi drainase di setiap kelurahan. Langkah ini dinilai sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi persoalan banjir di lapangan. Sebab, dengan sinergitas itu, masalah-masalah yang ada di setiap wilayah bisa dilihat lebih detail lagi. Antara lain penyumbatan saluran drainase yang bisa menjadikan banjir. Sehingga, itu yang kan menjadikan peta zonasi titik-titik banjir terdeteksi dengan tepat.

“Jadi, tidak hanya angkat sedimen dan sampah, tapi kegiatan ini juga bagian dari mengidentifikasi persoalan-persoalan banjir. Di situ nanti akan muncul peta zonasi titik-titik banjir untuk follow-up dalam bentuk sumur injeksi, perawatan, maintenance, dan sebagainya,” imbuh wakil wali kota Malang.

Sementara itu, Ketua Tim Pertimbangan Percepatan Pembangunan Daerah Kota Malang Mohammad Bisri mengungkapkan, drainase di Kota Malang memang tergolong sudah akut, ditambah permasalahan kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan. Karena itu, di Kota Malang kerap terjadi banjir walaupun intensitas hujan deras berlangsung kurang dari satu jam.

“Permasalahannya pembiaran, kita (masyarakat) nggak peka. Kerapatan drainase kurang. Karena itu, ini kita mulai lagi. Walaupun Kota Malang ini wes tuwo (sudah tua), dimulai berdasarkan peta drainase. Nanti tiap kelurahan akan tahu detail permasalahannya. Problemnya harus dicarikan solusi apa,” katanya.

Melalui GASS, maka penentuan titik peta saluran drainase dan sumur injeksi bisa tepat. Dan dalam menangani persoalan banjir itu, menurut mantan rektor Universitas Brawijaya itu, kedua kombinasi tersebut harus berjalan beriringan.

“Kalau dilihat, memang yang paling efektif itu dua kombinasi, antara sumur injeksi sama saluran drainase, harus dikembangkan. Makannya, peta drainase itu untuk sekaligus meletakkan titik sumur injeksi nantinya. Jadi harus jalan. Oh genangan di sana besar, dibuatkan sumur berapa sambil dibuat saluran. Kombinasi ini. Nggak bisa saluran saja atau sumur saja,” tandas Bisri.
(acf/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: