Peristiwa

Bukan Hanya Sekali, Ternyata Siswa SMPN 2 Singosari Kerap Alami Kesurupan Massal

Insiden kesurupan massal tidak hanya terjadi sekali di SMPN 2 Singosari. Sebelumnya, sudah ada banyak kejadian siswa yang mengalami kesurupan massal. Hal ini diutarakan langsung oleh Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 2 Singosari, Kusnadi.

Menurutnya, semenjak pertama kali menjabat sebagai Kepsek di SMP Negeri yang berlokasi di Jalan Raya Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang tersebut. Dirinya sudah mengalami 3 kali insiden kesurupan massal yang dialami oleh para peserta didiknya. ”Saya menjabat di sini (SMPN 2 Singosari) sudah 4 tahun, selama disini ada 3 kali kejadian seperti ini (kesurupan massal). Tahun kemarin (2019) aman, tahun ini (2020) kembali terulang,” keluhnya.

Seperti yang diberitakan, saat memasuki jam pelajaran ke 3, tepatnya sekitar pukul 09.00 WIB, ada sekitar 20 pelajar SMPN 2 Singosari yang mengalami kesurupan massal, Jumat (24/1/2020). Mayoritas dari mereka yang kesurupan merupakan pelajar kelas VII. Dimana para siswi (pelajar putri) menjadi korban terbanyak dari kesurupan massal tersebut.

Tidak ada korban jiwa, usai disuapi minum yang sudah dibacakan doa. Kondisi para siswa berangsur membaik. Meski demikian, pihak sekolahan memilih menghentikan kegiatan belajar mengajar pada hari itu (Jumat 24/1/2020). Bahkan Kepsek mengambil keputusan jika pembelajaran terpaksa diliburkan selama 2 hari.

Senin (27/1/2020) paskatragedi tersebut, para pelajar terpantau kembali aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. ”Saya kira wali kelas siswa sudah paham dengan kondisi ini, kejadian semacam ini memang sudah sering terjadi. Biasanya hanya terjadi sekali, tidak terlalu sering. Kalau yang wali kelas VIII dan IX saya rasa sudah paham,” celetuknya.

Kusnadi menambahkan, dari beragam cerita yang diperolehnya. Jauh sebelum dirinya dipercaya sebagai Kepsek SMPN 2 Singosari, pernah ada tragedi kesurupan massal. Bahkan tidak hanya puluhan siswa, namun hampir seluruh kelas terpapar kesurupan massal. ”Katanya teman-teman, sebelumnya ya begitu (kesurupan massal). Dulu sebelum saya menjabat di sini (SMPN 2 Singosari) malah lebih parah, jumlah yang terpapar hampir seluruh kelas,” ungkap Kusnadi.

”Tapi sekarang hanya puluhan, itupun tersebar tidak hanya di satu kelas, yang terbanyak siswa putri kelas VII,” sambungnya sembari mengatakan jika saat ini dirinya memiliki 738 siswa dari kelas VII hingga kelas IX.

Kenapa yang paling sering mengalami kesurupan pelajar kelas VII?. Kusnadi memilih untuk tidak terlalu berspekulasi terkait pertanyaan yang diajukan wartawan tersebut. Hanya saja, dirinya mengaku jika lokasi yang dianggap sering menyebabkan para pelajar kesurupan, memang ada dibangunan belakang samping kelas VII. ”Bukan ruangan, tetapi bangunan seperti taman. Setelah radius tertentu, siswa yang mendekat biasanya akan kesurupan. Polanya biasanya seperti itu,” terang Kusnadi

Tersiar kabar jika bangunan belanda menjadikan SMPN 2 Singosari ditempati oleh banyak makhluk astral. Namun demikian, Kusnadi membantah kabar burung tersebut. Menurutnya sejak awal dibangun pada kisaran tahun 1986, bangunan SMPN 2 Singosari sudah sewajarnya sekolahan pada umumnya.

”Cuma dari cerita orang tua siswa, tanah yang digunakan untuk bangun sekolah memang bekas pembuangan pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia). Tapi saya tidak tahu pasti, ini kan hanya cerita dari orang-orang sekitar,” tuturnya.

Guna mengantisipasi hal serupa terulang kembali, Kusnadi menyarankan agar kegiatan keagamaan lebih diaktifkan. Mulai dari salat duha hingga membaca doa, kini semakin intensif dilakukan di setiap harinya. ”Kami melibatkan peran masyarakat, saran dari ustad dan kyai juga kami lakukan. Hasilnya ada pengaruhnya, jadi jarang ada gangguan (kesurupan massal),” ujarnya.

Beberapa waktu lalu, saat diundang untuk mengikuti rapat ditingkat kecamatan. Kusnadi sempat mengeluhkan dan memohon bantuan kepada Camat setempat, agar tragedi kesurupan massal yang sering terjadi tersebut mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

”Dulu pas ditanya butuh bantuan apa, saya bilang butuh bantuan menangani kesurupan massal. Iya pak, soalnya lumayan sering. Tapi saat itu malah ditertawakan, tapi akhirnya disarankan untuk cari ustad. Sudah kami lakukan, yang terpenting saran dari tokoh agama kita lakukan. Kalau ada lagi kejadian kesurupan massal, ya terpaksa kami hadapi,” pungkasnya.(ash/yah)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close