Kesehatan

Cerita Menarik dari Dosen UB yang jadi Saksi Awal Merebaknya Virus Corona di Wuhan

Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) Didiet Afandi tengah menempuh S3 di Huazhong University of Science and Technology di Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok (China).

Didiet beruntung bisa kembali ke Indonesia 14 Januari 2020 lalu sebelum sebelum akses keluar masuk Wuhan dibatasi mulai 22 Januari 2020 lalu lantaran merebaknya virus corona.

Didiet mengaku, pada saat ia datang ke Wuhan pada Desember 2019 lalu, isu wabah tersebut memang sudah beredar di sana.

“Jujur saya datang bulan Desember. Ketika itu memang ada berita kalau ada virus corona baru yang belum tahu jenis dan karakternya. Yang saya tahu cuman sebatas itu dan saya nggak terlalu perhatiin karena memang saya lagi fokus menulis,” paparnya saat ditemui di Gedung A FEB, Selasa (28/1/2020).

Namun, istri Didiet yang kebetulan adalah seorang dokter pada saat itu sempat memberi peringatan soal virus tersebut.

“Saya dapat WA (WhatsApp) dari istri saya yang kebetulan dokter diberi tahu itu berbahaya dan disuruh hati-hati karena itu mudah sekali menular,” ungkapnya.

Setelah itu, lanjutnya, terdapat berita lagi bahwa dua orang dinyatakan meninggal akibat flu tersebut. Di situ Didiet mulai khawatir dan membatasi untuk keluar rumah.

“Tahu-tahu ada berita lagi 2 orang meninggal akibat flu ini. Ini mulai saya udah agak khawatir sehingga mungkin ya kita hanya membatasi untuk keluar dari kamar selain juga dingin karena waktu itu memang winter. Sempat keluar waktu ada matahari aja,” bebernya.

Pada saat Didiet datang, Huazhong University of Science and Technology sudah memberi peringatan kepada mahasiswa agar lebih berhati-hati dan menjaga kesehatan. Mulai dari menyuruh mahasiswa memakai masker kalau keluar hingga mencuci tangan setiap akan masuk ke kamar.

Didiet mengatakan, kampus di sana sangat aware akan hal ini. Bahkan sampai saat ini pun, Huazhong University of Science and Technology juga masih berhubungan dengan mahasiswa yang sudah pulang.

“Kemarin terakhir mereka kirim kuisioner menanyakan kondisi kita seperti apa. Dan kita udah isikan kita sudah baik. Nggak ada keluhan demam dan batuk. jadi ke kampus tetap merhatiin kita juga,” katanya.

Mendekati kepulangan Didiet ke Indonesia, kondisi Kota Wuhan pada saat itu agak sepi lantaran musim dingin dan jelang Imlek. Jadi, banyak penduduk yang mudik ke keluarganya masing-masing. Kendaraan yang lalu lalang juga tidak banyak.

Hingga kini, Didiet juga sering menerima banyak curhatan dari mahasiswa di sana yang ingin pulang ke Indonesia.

“Banyak itu (curhatan ingin pulang). Siapa sih yang ingin tinggal di kota tanpa ada keluarga dengan kondisi krisis seperti ini,” tandasnya.(iiz/ery)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close