Hukum dan Kriminalitas

Penggugat Perumda Tugu Tirta Ajukan Tiga Syarat Damai pada Sidang Perdana

Dua warga terdampak pelayanan air Perumda Tugu Tirta (PDAM) Kota Malang, yakni Ali Amran dan Abdul Malik, warga Perum Bulan Terang Utama (BTU) hari ini (28/1/2020), menjalani sidang perdana setelah melayangkan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Malang bebebrapa waktu lalu.

Dalam persidangan yang digelar di Ruang Kartika, dihadiri oleh pihak penggugat dan juga turut tergugat perwakilan DPRD Kota Malang serta dari Direksi dari Perumda Tugu Tirta Kota Malang.

Pada persidangan itu, pihak majalis hakim kemudian memberikan arahan untuk pihak-pihak yang bersangkutan, dalam hal ini Perumda Tugu Tirta, DPRD Kota Malang dan juga pihak penggugat untuk melakukan mediasi.

Dari ruang persidangan, kemudian para pihak-pihak yang terkait berpindah menuju ruang mediasi untuk mencari jalan keluar dari persoalan yang tengah permasalahkan atau menjadi tuntutan dari penggugat.

Kuasa Hukum dari dua pengugat, yakni Abdul Wahab Adinegoro menjelaskan dalam mediasi pihaknya mengajukan tiga point gugatan yang harus dipenuhi pihak tergugat.

“Kami mau saja berdamai, tapi ada syaratnya. Pertama Wali kota harus menghentikan narasinya yang menyesatkan. Seperti menyebut pecahnya pipa merupakan Force Majeure (keadaan yang terjadi di luar kemampuan manusia sehingga kerugian tidak dapat dihindari, seperti terjadinya bencana). Ini bukan bencana, ini adalah masalah spek pipa yang tidak sesuai,” ungkapnya ditemui di PN Kota Malang.

Kemudian, pihak Perumda Tugu Tirta harus melakukan revitalisasi pada jaringan-jaringan pipa pada wilayah-wilayah yang terdampak secara total dan harus sesuai dengan tekanan air. Namun yang terjadi, selama ini pipa yang terpasang antara spek dengan tekanan tidaklah sesuai.

“Meskipun nanti revitalisasi membutuhkan waktu, tapi kami harap dilakukan revitalisasi semua jaringan itu sesuai speknya. Kalau tekanannya 16 bar, masak pipa yang dipasang 16 Pn. Selama ini kan hanya 10 Pn yang dipasang. Itu sama saja dengan kemampuan tekanan 1000 Kilopascal (KPA), sedangkan kapasitas tekanannya 16600 KPA,” ungkapnya

Selain itu, selama dalam masa penyelesaian atau pengerjaan, seluruh warga terdampak harus dipastikan bisa mendapatkan pasokan air bersih secara rutin. Kemudian selama masa pengerjaan, warga terdampak diberikan kompensasi.

“Ada hak-hak hukum yang telah dijalankan oleh pelanggan namun dilanggar oleh pihak PDAM. Harus dibebaskan atau diberikan kompensasi sampai proses pengerjaan revitalisasi selesai. Itu yang kita ajukan didalam (saat mediasi) kalau dari PDAM belum tahu,” bebernya

Sementara itu, tim kuasa hukum Perumda Tugu Tirta Kota Malang, Teguh Priyanto Hadi, SPd dan Mikael mengungkapkan, jika dalam mediasi masih belum sampai pada tahapan pokok perkara.

Saat ini masih dalam tahapan sebatas saling perkenalan dan akan dilanjutkan pada agenda mediasi selanjutnya.

“Kami beriktikad baik melalui jalur mediasi kekeluargaan. Karena kita kan satu jiwa, pasti akan menguntungkan semua pihak. Kita kan punya moto satu jiwa, untuk kepentingan masyarakat Malang,” terangnya.

Mengenai tiga tuntutan mutlak dari pengugat, apakah akan dipastikan disetujui atau tidak, saat ini pihaknya masih belum bisa memastikan dan akam kembali melakukan koordinasi lagi.

Namun terlepas itu, pihaknya berharap jika akan ada jalan keluar dan kesepakatan damai.

Di sisi lain, turut tergugat, DPRD Kota Malang yang diwakili oleh Arief Wahyudi menambahkan, jika pihaknya adalah sebagai wakil rakyat tentunya sangat menyambut baik perihal adanya mediasi.

“Sebagai wakil rakyat, tentunya kami sangat menerima ajakan atau tawarna untuk mediasi. Yang pasti selama ini anggota dewan telah melakukan kontrol yang baik,” pungkasnya.(as/ery)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: