Peristiwa

Awas, 85 Persen Jajanan Anak di Kabupaten Malang Ada Zat Kimia Berbahaya

Kasus keracunan makanan atau jajanan anak-anak di berbagai daerah, khususnya di sekolah, setiap tahun terjadi. Tak terkecuali di Kabupaten Malang dengan beberapa kali kasus keracunan di sekolah-sekolah dasar selama ini.

Sebut saja kasus yang membuat 23 pelajar kelas 2 hingga 4 SD di Tawangargo 2, Kecamatan Karangploso, Oktober 2019 lalu. Keracunan itu membuat para pelajar mual, muntah-muntah dan harus dirawat di puskesmas dikarenakan jajanan yang mereka beli. Kasus lainnya pun serupa terjadi diberbagai wilayah di Kabupaten Malang.

Kondisi ini pun mendapat perhatian Pemkab Malang melalui Dinas Ketahanan Pangan. Berbagai kasus keracunan makanan pada para pelajar mulai dilakukan penelitian.

Hasilnya sangat mengejutkan. Hampir sekitar 85 persen jajanan anak-anak mengandung zat kimia berbahaya. Baik berupa borax, formalin, maupun rhodamin, zat kimia berbahaya dan memicu keracunan dan kanker.

“Dari hasil penelitian kami, memang ditemukan berbagai zat kimia berbahaya dalam jajanan anak-anak. Ini tentunya sangat berbahaya dan akan membuat putusnya mata rantai generasi penerus bangsa,” kata Nasri Abdul Wahid, kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Malang, Kamis (30/1/2020).

Temuan mengkhawatirkan itu pula yang membuat DKP Kabupaten Malang dengan berbagai upaya dan penganggaran yang dikelolanya fokus terkait persoalan-persoalan yang terkesan kalah ramai di permukaan. Misalnya dengan gempitanya pembangunan fisik yang didukung anggaran fantastik. Di sisi lain, persoalan pangan seperti ‘anak tiri’ dalam derap pembangunan. Khususnya terkait bagaimana menyediakan pangan sehat, bergizi dan seimbang untuk anak-anak Kabupaten Malang.

Itu karena, menurut Nasri, untuk memutus mata rantai persoalan stunting maupun penyakit-penyakit tak menular mematikan, kuncinya di pangan. “Kalau menurut saya, kuncinya di pangan itu. Bagaimana pangan yang setiap hari terhidang di meja atau jajajan anak sekolahan dipastikan sehat dan bergizi,” ujar mantan kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang ini.

Masih tingginya pemakaian zat kimia dalam makanan, khususnya jajan anak-anak di sekolah, sebenarnya juga telah lama diantisipasi oleh berbagai pihak. Sayangnya, berbagai upaya itu hanya terjebak pada kepentingan program. Sehingga setiap tahun pula berbagai kasus keracunan pada para pelajar SD terjadi. Pun, razia-razia makanan mengandung bahan kimia berbahaya pun masih pada tataran penjual makanan. Kebanyakan para penjual makanan pun tak mengetahui  bahan-bahan yang mereka pakai.

Nasri mengatakan, berbagai kasus maupun dari hasil penelitian pihaknya selama ini atas rentan dan berbahayanya berbagai produk makanan yang dijajakan telah membuat Pemkab Malang juga memfokuskan hal itu.  “Pemkab Malang melalui Bappeda konsen terkait itu. Untuk tahun ini misalnya pihak kami dapat alokasi untuk intervensi terkait pangan di 20 kecamatan,” ucapnya.

Selain intervensi pangan, edukasi ke masyarakat juga terus diintensifkan dengan berbagai kasus dan hasil penelitian yang mengkhawatirkan itu. “Edukasi terus, khususnya di 20 kecamatan yang masuk radar rawan pangan dan stunting,” tandas Nasri.(dn/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close