Peristiwa

Perjalanan Virus Corona Cepat, Pasien yang Terinfesi Masuk ICU 5 Hari

Dokter Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB) dr Kurniawan Taufiq Kadafi MBiomed SpA(K) mengatakan, berdasarkan riset dan laporan dari www.thelanset.com, virus corona  sempat berkembang beberapa tahun lalu dalam bentuk SARS dan MERS.

Kemudian saat ini disebut sebagai 2019-novel corona virus (2019-nCov). Lalu, pada tanggal 1 Januari 2020, sebuah sebuah minimarket pasar ikan ditutup karena diduga ada kontaminasi hewan dengan virus corona.

Kurniawan menyatakan, perjalanan virus ini memang cukup cepat. Pasien yang terinfesi virus corona akan masuk ICU dalam jangka waktu lima hari.

“Masa inkubasinya dua sampai enam hari. Lalu pada hari kesembilan mengalami sesak nalas lalu memberat dan ada ancaman gagal napas. Hari kesepuluh masuk ICU, dan rata-rata mengalami gejala penumonia (radang paru), yaitu batuk sesak dan kemudian ada demam,” paparnya.

Virus ini paling banyak menyerang warga usia 25 sampai 49 tahun. Bisa diantisipasi dengan beberapa hal. Yakni tidak boleh panik, tetap waspada, menjaga kebersihan tangan, menghindari mengusap mata, hidung atau mulut setelah memegang pasien, menutup mulut dan hidung menggunakan tisu setelah bersin, dan menggunakan masker bila mengalami gangguan saluran napas.

“Untuk mengantisipasi menyebarnya virus corona, Rumah Sakit Syaiful Anwar (RSSA) juga akan mengadakan simulasi penanganan pasien yang terinfeksi virus tesebut,” kata dia

Di sisi lain, penutupan akses di beberapa wilayah di China menghambat perkuliahan sejumlah mahasiswa UB yang menjalani studi di sana. Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UB Didiet Afandi yang menempuh S3 di Huazhong University of Science and Technology di Wuhan, Republik Rakyat Tiongkok (China) mengatakan bahwa seharusnya ia kembali ke Huazhong untuk kuliah Minggu kemarin. Namun karena akses ditutup oleh pemerintah setempat, maka sistem perkuliahan diundur sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Saat ini, lanjut Didiet, sebagian dosen dan mahasiswa UB yang studi di China sedang mengambil liburan semester di Indonesia dan belum kembali ke China. Jadi, kondisinya aman.

“Saya masih di China dari Desember sampai awal Januari. Enam mahasiswa UB masih di Indonesia dan belum kembali ke China,” kata Didiet.

Didiet mengatakan bahwa awal-awal tahun sebelum dirinya kembali ke Indonesia, kondisi di China sedang musim dingin dan tidak banyak aktivitas keluar. “Waktu awal-awal tahun kemarin, baru ada dua warga yang terindikasi virus corona. Saat itu, kondisi sedang musim dingin dan tidak banyak aktivitas karena saya pikir para warga lagi liburan dan pulang ke desa merayakan Imlek. Kebetulan saya tinggal di pusat kotanya,” ungkapnya.

Dia menceritakan, saat ini pemerintah setempat sedang memprotek  Wuhan dari seluruh kegiatan agar virus corona tidak menyebar ke mana-mana. “Terakhir teman-teman di sana koordinasi dengan KBRI dan beberapa ingin pulang. Namun pemerintah setempat sedang menutup akses agar tidak menyebar. Di sana bus dan kereta api tidak jalan. Aktivitas sementara hanya di dalam ruangan saja,” pungkasnya.
(izz/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close