Kesehatan

Rasio Pelayanan Kesehatan di Indonesia Kalah Dibandingkan Malaysia-Singapura

Rasio pelayanan kesehatan oleh dokter di Indonesia masih kalah jauh dengan Malasyia. Pelayanan dokter di Malasyia telah mencapai perbandingan 1:1.000. Begitu pula Singapura, menerapkan rasio yang sama.

Indonesia baru bisa menerapkan rasio pelayanan dengan perbandingan 1:2.500 atau 1 doker melayani 2.500 warga. Itu pun, menurut data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) pertengahan tahun 2019 lalu, terbatas di 11 provinsi yang telah menerapkannya. Sisanya, rasio pelayanan dokter adalah 1:5.000.

Kondisi ini pula pernah disampaikan oleh Dewan Pengawas Rumah Sakit (RS) Pendidikan Prof Dr Djanggan Sargowo pada tahun yang sama. Djanggan menyebut rasio pelayanan kesehatan yang ideal adalah 1:1000 atau 1:500. “Idealnya memang satu dokter berbanding seribu. Atau satu dokter berbanding 500 orang,” ucapnya waktu itu.

Djanggan juga menyebut kondisi itu terjadi, selain distribusi dokter yang tak merata di berbagai daerah, juga disebabkan lulusan dokter dari 85 fakultas kedokteran di Indonesia hanya sekitar 220 ribu orang. “Bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 265 juta jiwa, maka rasio pelayanan kesehatan jatuhnya 1:5.000,” ujarnya.

Pemerintah pun berupaya keras untuk melakukan ‘pencetakan dokter’ seperti melalui pendirian RS pendidikan. Yakni, dengan pola memberikan kesempatan untuk memakai lahan rumah sakit milik negara atau daerah untuk dipakai sebagai pusat pendidikan tenaga kesehatan di berbagai jurusan.

Pola itu, menurut Djanggan, dirasa lebih efektif dalam mengejar rasio pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Selain  tidak mungkin sebuah fakultas kedokteran baru, misalnya, langsung memiliki rumah sakit sendiri. “Jadi, ini pemerintah memberikan kesempatan kepada anak bangsa untuk sekolah melalui RS pendidikan,” ucapnya.

Mantan dokter kepresidenan ini juga menyampaikan, RSUD Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, memiliki kesiapan untuk menjadi RS pendidikan. Sebagai informasi, RSUD Kanjuruhan tahun lalu memang sedang menggenjot berbagai persiapan untuk bisa jadi RS pendidikan dengan berbagai kelengkapan yang telah ada serta ditunjang posisi Kabupaten Malang sebagai wilayah yang menyeimbangkan berbagai sektor kehidupan, baik politik, ekonomi, olahraga dan lainnya di tingkat nasional.

Keberadaan RS pendidikan di RSUD Kanjuruhan akan menjadi loncatan besar dalam dunia kesehatan. Pun, dalam mengejar rasio pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan perbandingan ideal pada nantinya.

Data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat jumlah dokter sampai tahun 2019 lalu sebanyak 168 ribu. Rinciannya adalah dokter umum 138 ribu dan dokter spesial sebanyak 30 ribu. Jumlah tersebut masih dinamis atau bisa berubah ke depannya.

Dari jumlah tersebut, pendidikan kedokteran di Indonesia  berbasis universitas (university based), bukan hospital based. Hal yang membuat rasio pelayanan kesehatan dokter pun menjadi tinggi bila dibandingkan dengan Malasyia.

Ini pernah disebut dalam tulisan Erta Priadi Wirawijaya  berjudul “Pelayanan Kesehatan Indonesia Vs Malaysia”. Disebutkan  jumlah dokter di Malaysia yang lebih banyak dibandingkan pasien sehingga membuat dokter hanya boleh menerima pasien dalam jumlah tertentu per hari. Sehingga dokter  dapat berkomunikasi dengan pasien secara tuntas.

Kondisi itu berbeda dengan di Indonesia. Di nagara kita, dokter umum masih menerima 50 pasien per hari di puskesmas. (dn/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close