Peristiwa

Di Kabupaten Malang, Ditemukan Sayur Segar Mengandung Residu Pestisida Cukup Tinggi

Sayuran segar hasil bumi Kabupaten Malang ternyata ditemukan mengandung residu pestisida yang cukup tinggi. Yakni mencapai sekitar 45 persen. Hal itu ditemukan di 20 kecamatan yang disampling oleh Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang.

Temuan tersebut tentunya cukup mengkhawatirkan. Sebab, sayuran segar yang mengandung residu pestisida cukup tinggi bisa berbahaya bila dikonsumsi dalam waktu panjang.

Tak hanya sayuran segar. Residu pestisida juga ditemukan di tanaman umbi-umbian. Khususnya kentang dan wortel yang juga menjadi salah satu primadona makanan di dalam masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang Nasri Abdul Wahid, Kamis (30/1/2020).  “Dari hasil penelitian kami melalui sampling di 20 kecamatan, untuk sayuran segar, kentang dan wortel, ditemukan residu pestisida cukup tinggi. Yakni 45 persen di wilayah sampling. Sisanya 55 persen bebas residu,” ucapnya.

Temuan itu tentunya perlu ditindaklanjuti secara serius oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Pasalnya, sayuran yang tumbuh di Kabupaten Malang telah dikenal dan memiliki pasar luas sampai saat ini.

Selain itu, bila hal ini tak menjadi perhatian serius, maka akan menjadi kontraproduktif dengan berbagai program kesehatan di Kabupaten Malang yang kini sedang terus digalakkan. Sebut saja pencegahan dan penurunan stunting serta berbagai penyakit tak menular mematikan.

Bahaya residu pestisida dalam sayuran maupun pangan lainnya berdampak bagi kesehatan manusia. Yaitu efek akut yang bersifat jangka pendek dan efek kronis yang bersifat jangka panjang. Berbagai penyakit pun bisa lahir dengan adanya konsumsi makanan yang mengandung residu pestisida. Baik kanker, saraf, gangguan perkembangan, kerusakan organ tubuh, sampai gangguan reproduksi.

Beberapa faktor umum yang membuat tanaman mengandung residu pestisida tinggi adalah terkait pola pemeliharaan dan penggunaan yang melewati batas yang ditentukan.  Niat membunuh hama pengganggu tanaman serta komoditas yang ditanam cepat tumbuh besar telah menjadi bumerang saat dikonsumsi masyarakat luas.

“Terkait itu, memang diperlukan campur tangan dari dinas pertanian (Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan) untuk mengintensifkan edukasi pada para petani di Kabupaten Malang,” ujar Nasri yang juga pernah menjabat sebagai kepala Dinas TPHP.

Sedangkan  di tingkat Dinas Ketahanan Pangan, ada edukasi lainnya. Yakni berupa edukasi pangan sehat, bergizi, dan beragam. “Pihak kami melalui satgas pangan di sisi itu. Sedangkan untuk pengurangan pestisida dan pola bertanam yang sehat di (dinas) lertanian,” kata Nasri.
(dn/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close