Wisata

Wisatawan Lokal-Asing Tetap Padati Desa Adat Panglipuran, Tak Terpengaruh Dampak Corona

Meski dunia sedang heboh diguncang isu penyebaran virus corona, desa wisata di Bali tampaknya tak berpengaruh. Salah satunya desa adat di Kelurahan Panglipuran, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli.

Desa adat yang dijadikan lokasi wisata tersebut tetap ramai dikunjungi wisatawan asing maupun lokal. “Tak terpengaruh isu penyebaran virus corona. Di sini tetap ramai. Per hari bisa sampai 800 pengunjung. Jika hari libur bisa sampai 4.000,” terang salah satu sesepuh desa wisata itu, I Nengah Muneng, saat menerima rombongan Pokja Wartawan Pemprov Jatim, Senin (27/1).

Dari pantauan di lapangan, lokasi memang tetap ramai. Turis asing maupun lokal tetap berdatangan. Serta juga tak ada yang sampai paranoid seperti harus mengenakan masker atau hingga menutup rumah.

Desa Wisata Adat Panglipuran adalah desa yang memiliki ciri khas tersendiri. Lokasi masih asri serta terjaga dengan keelokan rumah adat yang masih harus ada dan wajib dilestarikan oleh warga yang menempati.

Sehingga tak heran atap rumah di sana masih menggunakan anyaman. Serta dinding tembok yang tidak menggunakan beton.

Selain itu, jelas Muneng, kelebihan Desa Palipuran mampu melestarikan dan mengonservasi budaya. Contoh budaya yang dimiliki arsitektur, tata ruang dan layout berdasarkan Filosofi Tri Mandala.

“Di desa lain mungkin sudah tidak. Tapi tetap Tri Mandala itu dijadikan sebagai landasan mereka,” ujarnya.

Ditanya tentang masalah privasi warga, Muneng menjelaskan ada toleransi dari warganya. “Walau pengorbanan yang kami berikan dalam tanda kutip. Bukan sampai menganggu secara prinsip. Artinya warga kami welcome, sepanjang yang datang tidak ganggu kenyamanan kami,” ucapnya.

Jumlah pekarangan atau rumah di Panglipuran sendiri ada 77. Di setiap pekarangan rumah memiliki dua bangunan tradisional, yang ada di dapur dan balai. “Ditambah pintu gerbang pintu masuk ini. Dan juga memiliki tempat suci namanya sanggah,” bebernya.

Selain itu, yang dilarang keras di Panglipuran adalah adanya pernikahan poligami. Jika sampai ada warga yang ketahuan berpoligami, maka harus siap mendapatkan hukuman adat berupa pengasingan di Sarang Memandu.

Desa Panglipuran sendiri memiliki penduduk sekitar 1.038 jiwa. Sementara jumlah kepala keluarga ada 230. Setiap tahunnya Desa Adat Panglipuran bisa menghasilkan pendapatan sampai Rp 40 miliar lebih.
(mbm/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close