Pemerintahan

Banyak Pihak Pertanyakan Efektif Tidaknya Mobil Wasdal Hukum Pemkab Malang Atasi Pelanggar Lingkungan Hidup

Februari 2020 nanti, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mulai mengoperasikan mobil pengawasan dan pengendalian penegakan hukum (wasdalkum) yang dipakai oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Mobil Wasdalkum dengan harga kisaran Rp 200-300 juta ini direncanakan sesuai namanya. 

Yakni, sebagai mobil patroli yang akan melakukan penindakan terhadap para pelanggar lingkungan hidup. 

Baik terkait pengelolaan sampah dan limbah yang tak sesuai aturan, maupun berbagai pelanggaran lainnya terkait lingkungan hidup.

Hal ini dibenarkan oleh Kepala DLH Kabupaten Malang Budi Iswoyo yang menyampaikan, pihaknya di awal atau pertengahan Februari sudah siap melakukan pengawasan dan penindakan melalui mobil itu.

“Benar, mobil Wasdalkum akan beroperasi di bulan itu. Baru satu unit dulu di tahun ini,” ucapnya.

Kendaraan ini, lanjut mantan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, nantinya akan beroperasi keliling di berbagai tempat yang jadi target awal DLH. 

Yakni terkait persoalan sampah dan limbah yang memang menjadi perhatian cukup serius Pemkab Malang. 

Wilayah operasi mobil wasdalkum adalah tempat pembuangan akhir (TPA), perusahaan, dan bantaran sungai di Kabupaten Malang.

Disinggung luasnya wilayah Kabupaten Malang dan mobil Wasdalkum hanya satu unit, Budi menjelaskan, secara teknis nantinya petugas juga dibantu dengan adanya aplikasi E-Sampurna.

Yakni, aplikasi sistem elektronik yang didalamnya terdapat fitur e-Manajemen IKPLHD, e-Dumas (pengaduan masyarakat), e-Data (update data lingkungan), e-Sampah (revitalisasi pengelolaan persampahan), e-Kuling (normalisasi kualitas lingkungan hidup), dan atasi masalah lingkungan hidup secara Paripurna.

“Jadi dipandu aplikasi itu juga. Jika ada laporan masuk terkait pelanggaran, maka mobil akan menuju ke lokasi tersebut,” ujarnya.

Pertanyaannya adalah apakah mobil Wasdalkum akan efektif untuk melakukan pengawasan dan penindakan hukum atas pelanggaran lingkungan hidup?

Atau apakah E-Sampurna telah diketahui secara masal di publik secara luas, sehingga dijadikan rujukan saat melihat adanya pelanggaran lingkungan hidup. 

Termasuk sejauh manakah sebuah laporan secara online melalui aplikasi itu bisa dijadikan rujukan atau validasi, bahwa memang di suatu lokasi telah terjadi pelanggaran lingkungan hidup.

Bila melihat berbagai aplikasi yang berada di Command Center Kabupaten Malang dari seluruh OPD sampai saat ini masih belum berjalan secara maksimal. 

Khususnya terkait diketahuinya berbagai aplikasi itu di masyarakat luas. 

Sehingga, dimungkinkan juga aplikasi E-Sampurna yang secara program terlihat mentereng itu pun belum familiar dan jadi kebutuhan masyarakat.

Eksesnya adalah pelaporan masuk yang diklaim Budi cukup direspon masyarakat, mobil Wasdalkum akan habis waktunya menyusuri panjangnya jalan di Kabupaten Malang.

Hal lainnya adalah penindakan pada pelanggar lingkungan hidup, khususnya terkait sampah, apakah akan benar-benar ditegakkan dan diinformasikan kepada publik melalui situs resmi Pemkab Malang. 

Ataukah penindakan yang disebut Budi hanya berupa teguran dan sosialisasi terkait lingkungan hidup.

Bila diperbandingkan dengan tupoksi Satpol PP, petugas mobil Wasdalkum DLH Kabupaten Malang, terbilang mirip. 

Tapi, dengan tupoksi spesifik itu pun, berbagai pelanggaran peraturan daerah (perda), seperti pemasangan banner di berbagai pepohonan dan tanpa izin, masih cukup banyak terjadi. 

Bahkan, di ibu kota Kabupaten Malang itu sendiri yaitu Kepanjen.

Lepas dari efektif atau tidaknya mobil Wasdalkum, waktu nantinya yang akan menjawab. 

Yang pasti tugas berat terkait pengelolaan sampah bersumber dari masyarakat Kabupaten Malang sebanyak 1004,86 ton setiap harinya akan terus meningkat. 

Begitu pula dengan kondisi sungai-sungai di Kabupaten Malang yang  di tahun 2016 lalu mengalami pencemaran yang sangat memprihatinkan.

Yakni, sungai-sungai yang melintasi kawasan padat penduduk dan industri di Kecamatan Lawang, Singosari, dan Pakisaji, yakni Sungai Konto, Lekso, Lemurung, Sumber Metro, dan Brantas Bawah.

Kesadaran terkait membuang sampah, buang air besar sembarangan di sungai, juga siap menghadang petugas Wasdalkum DLH Kabupaten Malang pada nantinya. (dn/ery)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close