Hukum dan Kriminalitas

Keluarga Begal Terbunuh Pasrah Putusan Hakim, Berulangkali Sebut Nama Bupati Sanusi

Per hari ini (Jumat 31/1/2020) pelajar pembunuh begal yang berinisial ZA resmi menjadi santri ke-66 di LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak) Darul Aitam. Terkait vonis yang disampaikan oleh majelis hakim terhadap ZA, pihak keluarga pelaku pembunuh begal turut memberikan komentar.

”Kami (keluarga Misnan) tidak menuntut (ZA) dipenjara seumur hidup, yang kami mau hanya keadilan. Keluarga hanya berharap agar jaksa dan hakim bisa mengambil keputusan seadil-adilnya,” tegas TR (inisial) ibu kandung Misnan, saat dikunjungi wartawan dirumahnya.

Seperti yang sudah diberitakan, ZA (inisial) terpidana pembunuh begal dijatuhi hukuman selama 1 tahun pembinaan di LKSA Darul Aitam. Keputusan majelis hakim tersebut, disampaikan saat sidang putusan yang berlangsung di ruang sidang Tirta / Anak, PN (Pengadilan Negeri) Kepanjen, Kamis (23/1/2020).

Majelis hakim, Nuny Defiary yang memimpin jalannya sidang secara tertutup tersebut, menilai jika ZA telah bersalah karena dianggap telah melakukan penganiayaan yang menyebabkan Misnan alias Grandong, pelaku begal terbunuh, pada 8 September 2019 lalu.

Kepada ZA, hakim menjatuhkan hukuman 1 tahun pembinaan di LKSA Darul Aitam. Keputusan hakim tersebut, tidak mendapatkan pembelaan dari pihak keluarga ZA. Melalui kuasa hukumnya, pelajar SMA tersebut menolak opsi banding dan bersedia menjalani tuntutan 1 tahun pembinaan, di pondok pesantren yang berlokasi di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang tersebut.

Ketika ditanyakan terkait keputusan majelis hakim terhadap ZA, ibu kandung Misnan memilih untuk tidak berkomentar banyak. Nenek yang kini berusia sekitar 60 tahun itu, nampak termenung beberapa saat sebelum akhirnya mengeluarkan statement yang seolah menyayangkan keputusan majelis hakim.

”Saya orang bodoh, hukum begini-begini saya tidak tahu. Tapi setahu saya bawa pisau (ilegal tanpa izin) saja ada pasalnya. Hanya bisa berharap keadilan, bagaimana hukum yang berlaku jika orang bunuh orang, kenak berapa tahun,” celetuk TR dengan nada tegas.

Ketika ditanya perihal kasus kematian putranya, TR mengaku jika perabotan elektronik apa yang jarang dimatikan di rumah putrinya MS (inisial) adalah televisi (TV). Iya, meski hanya melihat perkembangan persidangan kematian Misnan melalui layar kaca. Namun pemahaman TR terbilang cukup mumpuni.

Bahkan, nenek renta tersebut tahu jika putranya diberitakan sebagai pelaku begal, dan terbunuh ditangan ZA yang dianggap sebagai korban pembegalan Misnan. ”Kami (keluarga Misnan) hanya melihat perkembangan kasusnya di TV dan media sosial. Di pemberitaan kan katanya pembegalan terjadi di belakang rumah bapak bupati. Masuk akal tidak, membegal kok di lokasi rame, dekat kuburan sebelah rumah Sanusi, Bupati (Malang),” ungkap TR dan MS serentak, sembari mengatakan jika mereka pernah mendatangi lokasi pembegalan tempat Misnan ditemukan meninggal.

TR juga menyayangkan tindakan ZA yang merasa dirinya telah membela diri saat dibegal oleh Misnan. Menurutnya, jika memang hanya membela diri, kenapa perlawanan yang diberikan adalah menusuk ke titik yang mematikan. Bahkan usai menghunuskan pisau ke dada Misnan, ZA sempat memburu M Ali Wava alias Mat, teman dari Misnan yang kabur setelah mengetahui rekannya ditusuk pisau.

”Cuman kalau bela diri ada banyak cara, tidak harus nusuk dada bagian yang mematikan. Terus kalau bela diri, senjata itu apa milik penjahat (Misnan) lha itu kan milik si anak itu (ZA). Jika memang anak saya penjahat (begal), kok cuma bawa senter. Jika hanya senter kok nusuk, kenapa tidak cari cara lain biar Misnan tidak mati,” keluhnya.

Wanita renta yang dikaruniai dua orang anak itu juga beranggapan jika masih ada banyak cara untuk menyelamatkan diri. Misalnya lari dan minta tolong agar dibantu oleh warga setempat. ”Kenapa tidak teriak minta tolong, Itu kejadian di sebelah Sanusi (Rumah Bupati Malang). Kok tidak teriak tolong-tolong biar warga datang, kan ada rumah warga. Di rumah Sanusi juga ada yang jaga di sana pasti ramai,” ucapnya.

Nenek yang sudah memiliki 4 orang cucu ini, juga menyayangkan tindakan yang terkesan melindungi ZA. Menurutnya, jika memang masih anak di bawah umur kemudian diberi keringanan hukum padahal telah membunuh orang, bisa memberikan dampak buruk bagi remaja lainnya.

”Yang ditegaskan dia (ZA) anak di bawah umur, ada perlindungannya (kompensasi masa hukuman 1/2 dari pidana orang dewasa). Masak membunuh orang mau dilindungi, terus semua (anak di bawah umur) akan membunuh semua,” tanya TR dengan gestur tangan mengarah ke wartawan seolah ingin menunjukkan dirinya sedang bertanya.

Kekhawatiran TR, jika kebijakan terhadap anak yang melakukan pembunuhan tersebut mendapat perlindungan hukum. Nenek yang berusia sekitar kepala enam itu, merasa was-was jika kasus pembunuhan seperti kasus ZA ini akan terulang di masa yang akan mendatang.

”Kalau anak dilindungi, bisa-bisa semua (anak di bawah umur) akan membunuh. Halah, kan cuma setahun, itupun hanya pembinaan di pondok pesantren,” lugasnya.

Di sisi lain, MS yang sejak awal wartawan bertamu selalu duduk di samping TR, ibunya. Juga sempat nyeletuk perihal status ZA. Iya, hanya dengan menjentikkan jari, wanita 31 tahun itu mengaku bisa dengan mudah mengakses pemberitaan yang masif ditayangkan pada media masa mainstream. ”Lho mas, maaf si ZA itu sudah menikah dan punya satu anak ya?,” celetuknya saat wartawan sedang berbincang dengan ibunya ketika membahas soal perlindungan hukum kepada anak di bawah umur.

Arah pertanyaan MS itu, seolah ingin membantah jika ZA bukan lagi anak di bawah umur. Menurutnya, berdasar dari pemberitaan yang masif diberitakan sejak pertengahan bulan Januari lalu. Jika seseorang sudah menikah, meskipun masih berusia di bawah umur, sudah layak dikategorikan sebagai orang dewasa dan seharusnya diproses sebagaimana kebijakan hukum pada umumnya. ”Oh, ternyata benar,” ujarnya sembari menganggukkan kepala dan dibarengi dengan menghela nafas.

Apakah ingin menuntut terkait vonis yang dijatuhkan hakim, yakni 1 tahun pembinaan di LKSA Darul Aitam. MS dengan tegas membantah pertanyaan wartawan. Wanita yang bertubuh gempal tersebut, mengaku lebih memilih untuk menghormati keputusan hakim.

”Kami (keluarga Misnan) dulu sempat ditawari kalau mau nuntut monggo (silahkan). Tapi kami tidak mau, kami hanya berharap keadilan saja. Sesuai hakim, hukum yang berlaku, hakim lebih tahu. Semoga Hakim, Jaksa, mereka orang berpendidikan, bisa ambil tindakan seadilnya,” ungkap MS.

”Tidak buat-buat ya, sini kecukupan, kaya nuntut bisa. Tapi karena kami (keluarga Misnan) orang tidak punya (miskin), kami hanya berharap kepada Tuhan, semoga diberi hukuman yang seadil-adilnya. Karena saya tidak bisa nuntut apa-apa, saya tidak punya uang. Tapi Tuhan maha tahu (mana yang benar),” sambung MS sembari menunjukkan kondisi rumah Misnan yang ala kadarnya.

Seperti yang sudah diberitakan, ZA resmi menjalani masa hukuman pembinaan selama 1 tahun di LKSA Darul Aitam sejak hari ini (Jumat 31/1/2020).

Dalam proses persidangan, majelis hakim Nuny Defiary menyatakan ZA bersalah karena dianggap telah melakukan penganiayaan yang menyebabkan pelaku begal meninggal dunia, pada 8 September 2019 lalu.

Fakta dalam persidangan, Mat, teman Misnan saat membegal juga sudah divonis bersalah dan kini menjalani hukuman kurungan penjara selama 1 tahun 3 bulan karena kasus pemerasan (begal).

”Yang jelas kami (keluarga Misnan) tidak menuntut apapun, apalagi menuntut dipenjara seumur hidup. Itu saja, kami berharap hukum seadil-adilnya, intinya hormati keputusan hakim. Jadi yang salah, disalahkan. Yang benar dibenarkan,” tutup MS yang kemudian menyambut jabat tangan dari wartawan yang berpamitan pulang.(ash/yah)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close