Hukum dan Kriminalitas

Kekerasan Siswa SMPN 16, Dinas Pendidikan Masih Kumpulkan Data

Kabar yang kini viral di WhatsApp soal siswa berinisial MS yang jarinya akan diamputasi tidak dibenarkan oleh Kepala SMPN 16 Malang, Syamsul Arifin.

Jari yang lebam lantaran hasil perbuatan 7 kawan MS yang katanya hanya bergurau tersebut tidak diamputasi. Dibenarkan Syamsul, dokter di RS Lavalette, rumah sakit MS dirawat memang sempat menyatakan bahwa jari tersebut bisa saja diamputasi. Namun, orang tua tidak langsung menyetujui. Dan kini, kondisi MS sudah semakin membaik.

Syamsul menyatakan, pihaknya meyakini bahwa kekerasan atau pembullyan yang dilakukan 7 siswa kepada MS adalah bergurau saja. Siswa-siswa itu tidak bermaksud melakukan kekerasan hingga melukai korban. Mereka tidak menyangka apabila akibatnya sampai separah itu. MS terluka di bagian jari tengah tangan kanan dan kaki.

“Tapi ada yang ngomong itu diangkat dilempar, makanya ini sementara di kaki jangan-jangan nanti terbawa ke punggung. Makanya ini dalam proses observasi,” timpalnya saat ditemui di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Jumat (31/1/2020).

Kejadiannya di teras masjid sekolah menjelang zuhur. Syamsul tidak tahu pasti kapan.

“Kepastiannya kami tidak tahu karena beritanya itu baru hari Senin. Paling akhir terjadinya ya hari Jumat. Tapi Jumat itu kan Jumatan, banyak orang, berarti sebelum itu,” paparnya.

Nah, setelah ada kabar itu, usai upacara hari Senin pihak BK (Bimbingan Konseling) langsung meluncur ke rumah sakit Lavalette melihat kondisi MS.

“Terus kok ada memar jari tengahnya. Orang tuanya panik karena dari dokter ‘Pak ini bisa diamputasi’. Lalu orang tua menolak ‘Lho jangan dulu’. Akhirnya datang ke sekolah,” ungkapnya.

Setelah itu, pihak sekolah memanggil 7 siswa pelaku pada hari Selasa (28/1/2020). 7 siswa itu pun mengakui perbuatannya. Namun mereka tidak merasa melakukan perbuatan sekeras itu. Sekolah lalu memanggil orang tua pelaku dan orang tua korban. Mereka bermediasi bersama dengan wali kelas dan komite sekolah.

“Di situlah disepakati ada beberapa atau banyak poin bahwa sebagai orang tua pelaku mereka bertanggung jawab akan menanggung semua biayanya,” timpalnya.

Setelah itu, orang tua pelaku bersama komite mengunjungi MS di RS Lavalette. Orang tua pelaku sendiri telah membuat surat pernyataan soal kesanggupan membiayai semua pengobatan.

Sumbangan datang dari seluruh stakeholder. Dari siswa itu terkumpul Rp 1.475.000. Dana sosial sekolah Rp 750 ribu. Dari GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) Rp 2 juta.

“Totalnya Rp 4.225.000. Hari ini insya Allah jam 10 diserahkan,” ucapnya.

Angka tersebut kata Syamsul hanyalah sementara. Nanti akan terkumpul lebih banyak lagi.

Pihak sekolah hingga saat ini terus mendalami kasus ini. Syamsul menegaskan, dirinya sebagai kepala sekolah akan bertanggung jawab.

“Akan kami penuhi sesuai dengan hak-hak anak dan kemampuan kami. Kami harus selesaikan karena ini bagian dari tanggung jawab kami di sekolah. Jadi jangan ada yang terabaikan hak-hak mereka, baik hanya korban maupun hak-haknya yang menjadi pelaku,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Zubaidah melalui Sekretaris Disdikbud Totok Kasianto menyampaikan, pihaknya masih belum bisa berkomentar lebih lanjut.

“Sementara ini masih menginput laporan-laporan. Belum bisa memberikan penjelasan karena masih mencari informasi dan data-data,” katanya.

(izz/krn)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close