Hukum dan Kriminalitas

Tak Melawan, Pelajar Pembunuh Begal Jadi Santri Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak

Vonis yang dijatuhkan terhadap ZA, pelajar pembunuh begal dapat diterima kedua belah pihak. Hal itudikarenakan saat memasuki tujuh hari setelah majelis hakim, Nuny Defiary menjatuhkan vonis terhadap ZA pada Kamis (23/1/2020), kedua belah pihak baik penasehat hukum ZA maupun jaksa telah menerima vonis tersebut.

Dengan tidak adanya upaya banding, maka keputusan tersebut bersifat inkracht (Putusan yang berkekuatan hukum tetap). ”Sesuai prosedur hukum acara, jika tujuh hari setelah vonis hakim tidak ada pihak yang mengajukan banding maka secara otomatis dianggap telah menerima putusan hakim. Tapi di hari yang bersamaan setelah putusan hakim, kami (pihak ZA) sudah menerima putusan tersebut dan memastikan tidak akan mengajukan banding,” terang Koordinator Penasehat Hukum ZA, Bakti Riza Hidayat, Jumat (31/1/2020).

Atas tidak adanya banding tersebut, hari ini (Jumat 31/1/2020) pagi, sekitar pukul 08.30 WIB, pelajar yang saat ini duduk di bangku kelas XII itu resmi dibawa ke Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam.

Setelah sempat berkumpul di Kejari Kepanjen, rombongan mulai dari Jaksa, Penasehat Hukum ZA, orang tua ZA hingga Bapas (Balai Pemasyarakatan) Malang, berangkat menuju Ponpes (Pondok Pesantren) yang berlokasi di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang tersebut.

Dengan mengendarai mobil pribadi, sekitar pukul 10.00 WIB rombongan yang membawa ZA tiba di LKSA Darul Aitam. Remaja yang tiba dengan mengenakan jaket warna putih itu, rona wajahnya terlihat begitu bersedih. Bahkan ZA juga sempat meneteskan air mata.

Tidak lama setelah itu, kehadiran rombongan ZA langsung diarahkan menuju ruang kantor LKSA Darul Aitam. Disana sudah ada beberapa pengasuh serta pengurus yang menyambut kehadiran ZA. Salah satunya adalah Surono selaku sekertaris sekaligus pengurus harian LKSA Darul Aitam. ”Tadi sempat dikasih tau gambaran sekilas saat ZA dibina disini (LKSA Darul Aitam), yang pasti salat 5 waktu, rutin itu berjamaah. Kemudian tahajud, ngaji. Kalau ngaji kegiatannya sampek jam 11 malam, sekilas begitu,” terang Bakti.

Pria berambut gondrong ini, juga memastikan jika akan menghormati keputusan hukum yang disampaikan oleh majelis hakim dalam vonis-nya. Yakni pembinaan selama 1 tahun di LKSA Darul Aitam. ”Artinya polemik ZA sudah selesai ketika dia sudah sampai di Darul Aitam. Sebelumnya ZA ini sudah dihukum banyak, terutama hukuman sosial di luar yang sudah seperti apa. Maksud saya jumat ini sudah lambang jika kasus hukum ZA sudah selesai,” ujarnya.

Seperti yang sudah diprediksi dalam pemberitaan sebelumnya, vonis hakim terkait ZA yang harus dibina di Ponpes ini menjadikannya sebagai santri ke-66 di Darul Aitam. Sebab, sebelum ZA masuk sudah ada 65 santri yang dibina di Darul Aitam. ”Insyaa Allah kami siap (membina ZA),” tukas H Mustafid Abdurrahman, selaku pengelola sekaligus pengasuh Ponpes Salafiyah Al Huda.(Al/Ay)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: