Hukum dan Kriminalitas

Rekamjaya: Berawal dari Koleksi, Kini Jadi Hukuman Cari Album Fisik Grup Musik Tanah Air

INDONESIAONLINE – Perkembangan penyebaran karya musik secara digital tidak melulu menjadi pilihan para kreator. Masih ada juga sebagian yang memilih alternatif kedua, tetap memproduksi rilisan fisik sekaligus promosi digital.

Di Malang sendiri untuk toko atau outlet yang benar-benar hanya menjual rilisan fisik sudah sulit ditemukan. Hanya ada beberapa yang tetap bertahan, seperti Toko Rekamjaya, Atim Music Store, Demajors Malang, dan Toko Bintang Agung Musik.

Lainnya, kebanyakan menjajakan produk rilisan fisiknya dengan jalur distribusi online. Dulu sempat ada toko menjual rilisan fisik yaitu Disc Tarra yang berada di MX Mall dan di Gramedia. Tetapi sekitar tahun 2015 Disc Tarra menutup gerainya yang berada di Kota Malang.

Hilman salah satu pemilik Toko Rekamjaya yang menjual produk-produk rilisan fisik dari musisi maupun grup band menceritakan awal mulanya membuka toko.

“Pertama senang koleksi rilisan fisik, terus diskusi sama Mas Samack dan Mas Alo (keduanya pemerhati musik di Malang), butuh kayaknya tempat yang bener-bener jadi distribusi rilisan. Soalnya outlet rilisan fisik kan memang jarang di Malang, selama ini kan online. Akhirnya, ya sudah berangkat, karena tiga-tiga nya senang rilisan fisik,” tuturnya.

Produk-produk yang dijual pun beragam, yang jelas segala bentuk rilisan fisik dari musisi atau grup band. “Semua yang berhubungan sama musik, mulai dari cd, kaset, merchandise, buku, fanzine juga ada, semua yang berhubungan sama musik, semua ada,” urainya.

“Banyak juga musisi yang mencetak dan mendistribusikan hasil karyanya, serta label-label indie dan dititipkan ke Toko Rekamjaya seperti Demajors, black and g records, kalau dari batu ada temen-temen needgods records, barongsai records juga ada produksinya, terus sama band-band yang rilis sendiri titip jual,” paparnya.

“Nggak ada spesifikasi genre secara khusus. Tapi toko Rekamjaya punya standar sendiri, maksudnya ada kurasinya. Ya untuk standarnya, musik yang kita suka lah,” tambah Hilman yang dulu sempat membangun media musik Angsaruka.

Masih mengenai rilisan fisik, Hilman menjelaskan, sampai kapan pun rilisan fisik pasti ada tempat meskipun dengan adanya era digital. “Pasti ada tempat untuk rilisan fisik, meskipun era digital nanti ke depan gimanapun, kayaknya konsumen rilisan fisik pasti dan masih ada,” sebutnya optimis.

Ini dikuatkan juga, dengan penikmat musik yang keluar masuk dan membeli produk-produk di toko rilisan musik dari semua kalangan. “Selama pengalamanku jaga, hampir semua kalangan ada dari anak SMA, anak kuliahan, orang kerja, bahkan orang tua pun datang kesini direkomendasikan anaknya untuk cari-cari band lawas. Kebetulan juga memang di toko ini jualnya dari segala era, segala kalangan ada,” jelas Hilman yang juga pernah menjadi salah satu buku musik, Buku Ritme Kota.

Mengenai pendapat orang yang suka dengan rilisan fisik dan kerap kali peredaran musik digital tidak penting, maupun sebaliknya orang yang suka dengan rilisan musik digital menganggap rilisan fisik tidak mengikuti perkembangan jaman dan distribusinya yang tidak murah juga.

Hal ini juga ditanggapi oleh Hilman, tentang musik digital dan rilisan fisik adalah satu kesatuan yang saling menopang.

“Sebenernya aku nggak suka memversuskan digital sama fisik, karena selama ini saling menopang. Aku pun butuh digital untuk jualan. Era digital ini ada kan untuk mempermudah. Dulu kalau orang berburu rilisan fisik, harus mau nggak mau pertimbangannya cover, kalau penasaran. Terus habis beli, ternyata nggak sesuai ekspektasi. Sekarang adanya digital, orang-orang nggak harus beli kucing dalam karung ya. Kita sekarang bisa dengerin YouTube dulu, spotify dulu baru bisa beli. Jadi mempermudah,” jelasnya.

Hilman pun menjelaskan, meskipun dia sebagai salah satu pemilik Toko Rekamjaya yang notabene menjual rilisan fisik dari musisi maupun grup band, tetapi dia mempunyai rencana untuk memanfaatkan era digital ini.

“Kita punya rencana bikin playlist lewat mixtape spotify. Terus nanti playlistnya temen-temen dilihat siapa playlistnya paling favorit. Nanti aku jadikan fisik tape, kaset pita, mixtape. Balik lagi, digital sama fisik itu saling menopang,” tutup Hilman yang juga sempat menjadi kontributor di LYT media salah satu pecahan dari Anekdotmagz.(Ta/Lnr)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d bloggers like this: