Ekonomi

Viral Buang Sayur ke Sungai, Berikut Alasan Pedagang Sayur di Kabupaten Malang

Membagikan barang dagangan dan membuangnya ke sungai menjadi pilihan sejumlah pedagang sayur di Pasar Sayur Kedungrejo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Hal itu dilakukian karena mereka merugi, dagannya tidak laku. Jumlah kerugiannya jutaan rupiah.

Hal itu sebagaimana disampaikan Suwandi Winarno (40) selaku pedagang sayur dan juga Humas Paguyuban Bakul Kulup, Pasar Kedungrejo, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang saat dihubungi MalangTIMES.

WInarno mengungkapkan bahwa dirinya beserta rekan-rekannya mengalami kerugian yang cukup banyak hingga jutaan rupiah akibat pandemi Covid-19 yang sedang mewabah di Indonesia.

“Mboten enten sing pajeng gara-gara Corona niki (tidak ada yang laku, akibat corona ini),” ucap Winarno saat dikonfirmasi pewarta, Jumat (15/5/2020).

Winarno juga mengungkapkan bahwa jika pada kondisi normal, dirinya dengan pedagang yang bisa meraup pendapatan hingga jutaan rupiah.

“Lek awis nggeh tiyang setunggal niku minim nggeh 3 – 3,5 juta niku. Tapi lek mboten awis ngeten niki setunggal juta (Kalau lagi mahal orang pedagang satu minimal Rp 3 – Rp 3,5 juta. Tapi kalau lagi murah yang cuma satu juta),” ungkapnya.

Lebih lanjut Winarno juga menuturkan bahwa sayur-sayur yang dijual pasarnya menyasar area Malang Raya dan daerah Surabaya. Dengan kondisi pandemi Covid-19, permintaan sayur menurun tajam. Sampai-sampai Winarno sendiri heran, apa masyarakat sekarang ini sudah tidak mengonsumsi sayur.

“Nggeh bendinten mbetoh mawon tapi kedik. Tiyang suroboyo e mbetoh pikep mboten full, mboten katah. Mbetoh e ten ten gadang kedik. Nggeh mboten nedo nek e, kirangan nedho prongkalan nek e. (Ya setiap hari ada yang beli tapi sedikit. Orang surabaya bawa mobil pick-up ngambilnya nggak penuh dan nggak banyak. Orang gadang ngambilnya sedikit. Nggak makan (sayur) paling, makan prongkalan,” keluhnya saat dikonfirmasi pewarta.

Winarno mengungkapkan bahwa kondisi yang dialami seperti ini dengan pendapatan yang berkurang secara drastis akibat pandemi Covid-19 sudah hampir satu bulan kebelakang. Dengan kondisi seperti sekarang ini, Winarno pun harus tekor untuk membayar upah para buruh angkut sayur yang berada di sawah.

“Lek murah ngeten niki nggeh tekor, didamel mburuhi sing nyambut damel niku. Damel sing njabut ten sabin tok mawon mboten cekap (Kalau murah begini ya tekor, dibuat membayar yang kerja itu. Untuj bayar yang mengangkut sayur di sawah aja nggak cukup),” ungkapnya.

“Buruhan e tiyang jaler nggeh 50 ribu, lek tiyang wedok 35 per uwong, bendinten (Bayarannya orang laki-laki 50 ribu kalau perempuan 35 ribu per orang per hari),” imbuhnya.

Untuk diketahui, di Pasar Sayur Kedungrejo tersebut tercatat total lebih dari 400 pedagang yang menjajakan sayurnya. Dengan memiliki beberapa paguyuban di dalamnya. Salah satunya Paguyuban Bakul Kulup Pasar Kedungrejo yang di mana Winarno termasuk di dalamnya.

Dalam 400 orang lebih tersebut, terdapat petani dan pedagang yang membaur menjadi satu dengan menjual sayuran seperti bayam, sawi, kangkung, kemangi, kenikir dan selada air yang diambil dari wilayah Tumpang, Poncokusumo, Bokor, Kedungrejo, Kidal dan beberapa wilayah yang lainnya.

“400 lebih pedagang. Nggeh wonten bayam, sawi, kangkung, kemangi, kenikir, selada air. Murah ngeten niki bayam isi 30 iket ageng 5.000, sawi 7.000, kangkung 3.000 (400 pedagang. Ya ada bayam, sawi, kangkung, kemangi, kenikir, selada air. Murah begini bayam isi 30 ikat besar 5.000, sawi 7.000, kangkung 3.000),” ucapnya pria yang sudah berjualan selama 22 tahun ini.

Maka dari itu, video viral yang membuang sayur ke sungai dan membagikan secara gratis ke pengendara yang melintas, Winarno pun tidak menampik hal tersebut. Karena memang jika tidak laku, sayuran akan layu, sebelum layu diberikan ke pengendara. Jika tidak ada yang minat, jalan terakhir dibuang di sungai tersebut.

“Pun angsal sak wulan sepine. Lek mboten enten sing gelem nggeh dibucal ten lepen, soale pun layu, hampir bendinten niku (sudah dapar satu bulan sepinya. Kalau tidak ada yang mau ya dibuang ke sungai, karena sudah layu. Hampir setiap hari itu),” ungkapnya.

Tetapi dalam kondisi seperti ini pun, Winarno mewakili para pedagang yang lain masih tetap mempunyai harapan agar cepat selesai wabah pandemi Covid-19 ini. Karena sangat berdampak pada keadaan ekonomi, khususnya para pedagang sayur.

“Harapan e nggeh kepingin stabil maleh. Lek e tasik penyakit ngoten lak mboten nedho tah niki (harapannya ya ingin stabil lagi, kalau masih ada penyakit gini ya nggak bisa makan kita),” pungkasnya. (tub/yah)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: